Tampilkan postingan dengan label Antropologi dan Arkeologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Antropologi dan Arkeologi. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Desember 2011

Peresmian Museum Sangiran

Museum Situs Manusia Purba Sangiran diresmikan pembukaannya pada tanggal 15 Desember 2011 di Kabupaten Sragen, Provinsi Jawa Tengah. Berita tentang hal ini dapat dilihat di sini.

Peresmian kemudian diikuti dengan Konperensi Internasional bertajuk "Sangiran Site: 75 Years After the First Hominid Discovery". Konperensi ini diikuti oleh 119 peserta dari 9 negara (termasuk Indonesia).  Kepala Museum Geologi beserta empat orang stafnya mengikuti konperensi tersebut. 

Sambutan Kepala Balai Pelestarian Situs Manusia Purba Sangiran (foto: Julimar)

Suasana seminar (foto: Julimar)                                                                                              


Presentasi Unggul P. Wibowo (foto: Julimar)
Salah seorang staf Museum Geologi, Unggul P.Wibowo, menjadi pemakalah dan menyajikan makalah dengan judul Fluorine Content Analysis of Some Fossilizwd Bones from Different Areas di Java, Indonesia.

Selasa, 22 Februari 2011

Perut tak kenyang, kekayaan melayang

Negeri kita kaya akan kekayaan alam maupun budaya, namun kita tetap miskin karena ulah kita sendiri. Kita tidak mau memanfaatkan kekayaan yang kita miliki untuk membangun bangsa secara menyeluruh. Kekayaan tak ternilai yang kita punya malah dijual dengan harga sangat murah kepada pihak asing dalam berbagai bentuk dan cara. Kenikmatan sesaat yang merusak, demi sesuap nasi. Benarkah demi sesuap nasi? Ataukah hanya ingin memenuhi nafsu serakah yang sebenarnya tak kan pernah terpuaskan?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak benda bersejarah negeri kita dilarikan ke luar negeri oleh orang berduit yang ingin dapat duit tambahan dengan menjarah negeri sendiri. Kita tak mendapat apa-apa selain kisah sejarah yang terputus dan bekas tinggalan yang terserak tanpa makna karena sudah kehilangan konteksnya.
Penggali liar (Foto; Ewon)

Namun, Allah Mahabesar. Di tengah-tengah himpitan gaya hidup hedonistik sekarang ini masih ada orang-orang "gila" yang berjuang menyelamatkan kekayaan negerinya yang masih tersisa. Mereka adalah sebuah komunitas kecil di kota kecil Bojonegoro. Mereka berupaya secara mandiri untuk mengumpulkan tinggalan-tinggalan sejarah dan prasejarah daerahnya dari penjarahan para penggali liar yang menjarah kubur-kubur kuno di sekitar pemukiman mereka. Berbagai artefak kuno yang diduga sebagai bekal kubur sedikit demi sedikit dikumpulkan dan disimpan untuk dijadikan materi pendidikan di daerahnya. Tentunya ini bukan usaha mudah karena mereka harus berhadapan dengan mafia penjarah kubur dan  elit di birokrasi pemerintahan yang seringkali lebih banyak mempersulit daripada membantu.

Batu lumpang yang berhasil diselamatkan (Foto: Ewon)
Selain berusaha menyelamatkan, komunitas kecil ini juga berusaha memberikan pendidikan kepada para penggali liar untuk menghargai kekayaan milik kita bersama ini. Mereka mendekati para penggali dan memberi tahu nilai penting peninggalan prasejarah tersebut. Bumi Bojonegoro memang kaya akan tinggalan arkeologis, antropologis dan paleontologis. Para penggali liar ini umumnya mencari benda-benda bekal kubur (manik-manik, logam mulia) untuk dijual kepada para penadah di kota-kota besar. Mereka menjarah kekayaan negerinya sendiri! Seharusnya kekayaan ini tersimpan di daerah yang bersangkutan untuk bahan penelitian para ahli serta pembelajaran bagi masyarakat. Rencana pendirian museum daerah adalah upaya yang mulia, namun jangan sampai museum ini menjadi alat untuk kepentingan politik seseorang. Bukankah jika demikian masyarakat sendiri yang merugi?

Bokor kuningan di rumah penduduk (Foto: Ewon)
 Penjarahan dan penjualan kekayaan alam dan budaya ini memberikan kenikmatan sesaat yang mampu membuat perut kenyang. Tapi perut tidak akan kenyang sekali saja...... Itu sebabnya kekayaan kita terus melayang. Jika jangka pendek yang menjadi ukuran, maka masa depan yang dipertaruhkan. Kekayaan melayang, sementara perut tak pernah kenyang!

Adakah yang tergerak untuk ikut "gila" demi menyelamatkan kekayaan negeri kita?Di tengah-tengah sekumpulan orang gila maka yang waraslah yang disebut gila. Mau pilih yang mana?

Kamis, 02 September 2010

Apakah fosil dilindungi oleh UU?

Fosil merupakan benda alam yang sangat berharga dan menarik. Orang tertarik mengumpulkan fosil karena bentuknya yang unik dan jarang didapat. Bagi orang kebanyakan fosil dapat menjadi benda penghias rumah. Bagi para ilmuwan, khususnya ahli paleontologi, fosil memiliki nilai ilmiah yang amat tinggi untuk menyingkap kehidupan masa lalu. Dengan mempelajari fosil kita dapat mengetahui jenis-jenis mahluk hidup yang pernah menghuni Bumi kita ini jutaan tahun yang lampau. Beberapa jenis fosiil memiliki nilai ekonomis tinggi seperti minyak bumi dan batubara.

Indonesia belum memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur segala hal yang berkaitan dengan fosil. Peraturan menyangkut fosil sampai saat ini dimasukkan dalam UU No. 5/1992 tentang benda cagar budaya. Sebenarnya ini tidak tepat karena fosil adalah benda produk alam, bukan produk budaya. Dalam undang-undang ini fosil dimasukkan ke dalam benda cagar budaya dalam konteks temuan yang berasosiasi dengan benda-benda arkeologis. Namun setidaknya untuk sementara sudah ada peraturan yang melindungi fosil walaupun dalam lingkup kecil. Dalam UU tentang benda cagar budaya tersebut fosil termasuk dalam kategori yang tercantum dalam pasal 1 ayat 2, yaitu benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Tentang boleh tidaknya fosil diperjualbelikan, kita dapat merujuk pada Pasal 15 ayat 2f UU No. 5/1992 tersebut, yaitu “tanpa izin dari pemerintah setiap orang dilarang untuk memperdagangkan atau memperjualbelikan atau memperniagakan benda cagar budaya.”
Amerika Serikat adalah negara yang sangat memberi perhatian besar pada upaya perlindungan benda-benda alam seperti fosil, dan mereka memiliki beberapa peraturan khusus terkait dengan hal tersebut, misalnya regulasi tentang Cultural and Paleontological Resources dan Vertebrate Paleontological Resources Protection Act. Jadi pemerintah dan rakyat Amerika Serikat menganggap fosil sebagai sumberdaya yang harus dilindungi. Indonesia belum sampai ke tahap tersebut, namun UU No. 5/1992 setidaknya sudah menunjukkan niat baik pemerintah dalam melakukan upaya perlindungan terhadap fosil. (Julimar, 24/09/2004)

Sabtu, 28 Agustus 2010

Fosil


Apakah fosil itu?


Fosil berasal dari bahasa Latin fossilis. Kata fossilis merujuk pada setiap benda yang didapat dari menggali tanah. Kata fosil mulai dipakai dalam geologi pada abad keenambelas. Pada masa itu yang disebut fosil meliputi mineral, artefak, dan benda aneh lainnya yang didapat dari dalam tanah. Saat ini pengertian fosil dibatasi pada sisa-sisa mahluk hidup (hewan, tumbuhan, manusia) yang telah terawetkan di dalam batuan. Ada dua macam fosil, yaitu fosil tubuh dan fosil jejak. Pada fosil tubuh yang terawetkan adalah tubuh organisma secara keseluruhan dan mengalami proses fosilisasi; sedangkan pada fosil jejak yang terawetkan adalah bekas-bekas suatu organisma seperti jejak kaki, jejak liang, atau jejak tumbuhan.


Mengapa kita mempelajari fosil?


Sudah sejak zaman kuno manusia mengenal dan mengoleksi fosil. Ketika itu fosil dianggap berharga karena dianggap mampu menyembuhkan orang sakit, mengusir arwah jahat, bahkan meminta jodoh. Tidak ada, atau setidaknya belum ada, yang mengetahui bahwa fosil adalah sisa mahluk hidup. Pada zaman modern barulah diketahui bahwa fosil merupakan sisa mahluk hidup dan keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan. Dari fosil kita dapat membuat perkiraan tentang kehidupan masa lampau (lingkungan purba), atau mengetahui bentuk-bentuk awal suatu mahluk hidup (evolusi). Fosil juga dapat memberikan informasi tentang pola makan (paleodiet), dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di bagian tentang kegunaan fosil.


Apa kegunaan fosil?


Ada beberapa kegunaan fosil, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kepentingan ekonomis. Dari segi ilmu pengetahuan fosil mengandung berbagai informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kehidupan di masa lampau dan lingkungan hidup tempat mahluk-mahluk purba ini pernah hidup. Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang ada kaitannya dengan fosil adalah taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan antarmahluk hidup baik yang telah punah maupun yang masih ada


1. dari segi taksonomi : fosil mengandung informasi morfologis sehingga ilmuwan dapat mengenal dan memberinya nama serta mengtahui hubungannya dengan organisma lain berdasarkan morfologi tersebut.


2. dari segi etiologi (ilmu tentang perilaku) : fosil memberi informasi tentng cara hidup suatu organisma yang dulu pernah hidup dan sekarang telah punah.


3. dari segi evolusi : fosil memberi informasi tentang proses evolusi yang terjadi di Bumi.


4. dari segi ekologi : fosil memberi informasi dan pemahaman tentang sifat dan perkembangan ekosistem dan tentang interaksi antara hewan dan tumbuhan dengan lingkungannya di masa purba.


5. dari segi lingkungan : organisma tertentu distribusi dan keragamannya terbatas pada lingkungan tertentu (disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan). Keadaan lingkungan purba seperti salinitas, suhu, dan tingkat oksigen dapat diketahui melalui perbandingan antara organisma hidup dengan fosil.


6. segi kimiawi : susunan biokomia tubuh organisma yang satu berbeda dengan organisma lain dan melalui studi isotopik dapat diketahui suhu dan salinitas purba tempat organisma tersebut pernah hidup.


7. segi sedimentologis : fosil biasanya ditemukan berjenjang sesuai dengan lapisan pengendapan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui proses sedimentasi yang telah terjadi di masa purba.


8. segi diagenetik : fosil memberi informasi tentang proses yang terjadi dalam sekuen sedimen yang menyertai kematian, proses terkuburnya organisma sampai pada saat penemuan organisma yang telah memfosil tersebut.


9. segi stratigrafi : fosil dapat memandu kolom stratigrafi yang ditentukan oleh batas waktu (time boundaries).


10. segi susunan pengendapan (way up) : urut-urutan sedimen dikenali melalui fosil yang ada di tiap lapisan umur sedimen. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa pengendapan terjadi dari bawah ke atas.


Selasa, 24 Agustus 2010

Fungsi perkakas prasejarah (5)

Kesimpulan
 
Subsistensi manusia prasejarah sangat tergantung pada sumberdaya-sumberdaya alam dan eksploitasinya terhadap lingkungan, baik dia memproduksi makanan ataupun tidak.
Manusia terus mengembangkan kebudayaan dan peradaban untuk mempermudah hidupnya. Penyesuaian demi penyesuaian terus dilakukan manusia terhadap alam agar dia tidak sepenuhnya bergantung pada alam, dan dengan demikian dia lebih dapat bertahan hidup. Berkenaan dengan hal ini Fagan (1975) menyatakan,

    They [manusia prasejarah] maintain an equilibrium with other animals and plants in the system, an equilibrium which is, however, subject to constant readjustments as all elements in the system change.

Dari pernyataan di atas memang tak dapat dipungkiri bahwa manusia selalu berusaha menciptakan keseimbangan dengan alam dan perubahan-perubahan yang terjadi di alam. Peralihan aktivitas subsistensi dari berburu dan meramu menjadi usaha membudidayakan tumbuhan dan binatang adalah juga upaya untuk menyesuaikan diri dengan perubahan yang terjadi di alam. Kebutuhan akan budi daya tumbuhan dan binatang kemungkinan disebabkan oleh semakin menipisnya populasi hewan buruan. Berkembangnya peralatan juga dapat menjadi bukti penyesuaian manusia terhadap lingkungannya. Semakin maju peradaban semakin canggih pula alat yang diciptakan. Dengan demikian semakin maju peradaban akan semakin sedikit penyesuaian fisik yang terjadi. Sebailknya, penyesuaian kultural akan semakin tinggi intensitasnya.


Semakin berkembangnya peralatan pada masa prasejarah, baik bentuknya maupun fungsinya mengindikasikan bahwa manusia prasejarah mampu memanfaatkan lingkungannya secara efektif, dalam arti semakin banyak sumberdaya alam yang didayagunakannya dengan memakai peralatan tertentu yang sesuai dengan keperluan. 

(JM/14/12/00)

Fungsi perkakas prasejarah (4)

Perkembangan bentuk dan fungsi alat
 
Perubahan lingkungan ternyata berpengaruh pada bentuk aneka peralatan yang dipakai dalam rangka subsistensi sehingga dapat dikatakan bahwa berkembangnya peralatan merupakan salah satu bukti penyesuaian kultural manusia prasejarah terhadap lingkungannya. Haviland (1988) mengatakan bahwa permulaan penggunaan alat agaknya adalah akibat adaptasi lingkungan hutan yang berubah menjadi padang rumput. Dijelaskannya bahwa hominid yang dulu hidup di hutan lebat mempunyai banyak sumber makanan sekaligus tempat berlindung dari binatang buas. Dengan berubahnya iklim pada zaman purba maka hutan lebat menjadi padang rumput dan para hominid ini menjadi terbuka terhadap bahaya karena praktis tidak ada lagi perlindungan bagi mereka. Untuk mengatasi hal ini mereka membuat alat yang awalnya berupa tongkat untuk menghalau dan batu untuk melempari binatang yang mengganggu.
Contoh lain, pada masa glasial kurang lebih 11.500 tahun yang lalu para pemburu Amerika purba mempunyai spesialisasi berburu hewan-hewan besar, khususnya gajah purba yang pada waktu itu jumlahnya melimpah. Para pemburu ini memakai alat penusuk atau pelempar yang dipasang pada semacam lembing untuk membantai binatang buruannya. Ketika terjadi perubahan iklim menjelang 10.000 tahun yang lalu gajah purba semakim berukurang hingga akhirnya punah. Kepunahan binatang buruan ini tidak lalu mengakibatkan para pemburu kehilangan sumber bahan makanan. Mereka lalu mengalihkan aktivitas perburuannya pada bison yang jumlahnya masih melimpah dan relatif dapat bertahan terhadap iklim baru. Alat yang digunakan untuk berburu bison tentu saja tidak sama dengan alat yang dipakai untuk berburu gajah purba. Alat dimaksud berupa sebentuk pisau berbentuk cekung yang oleh para ahli disebut sebagai alat penusuk Folsom (Fagan, 1975; Haviland, 1988).

Alat penusuk Folsom (www.arrowheadology.com)

Pada zaman Neolitikum terjadi perubahan besar dalam cara memperoleh pangan. Manusia prasejarah pada waktu itu telah mengembangkan cara hidup berdasarkan pertanian dan pemeliharaan hewan ternak (Haviland, 1988). Bukti-bukti adanya pembudidayaan hewan dan tumbuhan ini diketahui dari sisa-sisa tumbuhan dan hewan di suatu situs arkeologis. Tanaman-tanaman yang telah dibudidayakan biasanya mempunyai tangkai yang lebih kuat dibandingkan dengan tanaman liarnya (Haviland, 1988). Sedangkan pada hewan yang telah dibudidayakan akan terjadi perubahan pada rangka, gigi geligi, atau tanduknya. Bukti-bukti lain yang mendukung hal-hal di atas adalah ditemukannya perkakas atau peralatan untuk panen dan penggilingan untuk memroses biji-bijian menjadi tepung, seperti yang ditemukan di Jarmo (Iran) dan Jericho (Jordania) (Haviland, 1988).

Salah satu situs di Jericho (www.wikipedia.com)

Alat-alat untuk memanen umumnya terbuat dari kayu atau tulang yang dipasangi batuapi bergigi (Haviland, 1988).  Sedangkan untuk mengolah padi digunakan lumpang dan penumbuk. Pada masa itu berkembang pula teknologi pembuatan tembikar untuk bejana dan wadah. Wadah-wadah ini diketahui digunakan untuk menyimpan biji-bijian, baik untuk keperluan konsumsi maupun untuk benih. Pengolahan makanan dengan cara merebus ataumemanggang dalam bejana tembikar juga sudah dikenal, dan ini terlihat dari sisa-sisa makanan yang gosong di dasar bejana tersebut.

Fungsi perkakas prasejarah (3)

Bukti-bukti diet prasejarah
 
    Rekonstruksi lengkap tentang diet prasejarah diperoleh dari sisa-sisa makanan di dalam perut mayat manusia prasejarah (jika mayat tersebut dimumikan seperti halnya pada beberapa kebudayaan Indian Amerika) dan dari kotoran manusia yang ditemukan di gua-gua kering dan situs-situs tempat tinggal mereka. Selain itu, bukti-bukti lain didapat dari tulang-tulang hewan yang telah disembelih untuk dimakan dagingnya ataupun diambil sumsumnya. Hewan-hewan buruan ini ada yang dibunuh di ladang perburuan dan bangkainya dibawa ke pemukiman. Ada pula yang dibawa ke tempat tinggal dalam keadaan masih hidup lalu disembelih di situ. Hampir semua bagian hewan dimanfaatkan : dagingnya tentu dimakan, ototnya dibuat tali, kulitnya dibuat pakaian, wadah, atau “rumah”. Tulang-tulang panjangnya dibelah dan diambil sumsumnya, beberapa diantaranya dibuat alat seperti mata panah, ujung harpun atau jenis alat untuk keperluan menguliti.
Palinologi (ilmu tentang serbuk sari) juga dapat mendukung dan menjadi sumber data bagi bukti-bukti subsistensi prasejarah. Melalui palinologi dapat diketahui tanaman apa saja yang tumbuh di lingkungan tempat hidup manusia prasejarah sehingga dengan demikian dapat diperkirakan sumber diet manusia prasejarah tersebut.

Penggunaan alat berkaitan dengan aktivitas subsistensi
    Manusia makan untuk hidup. Mengumpul dan meramu merupakan teknik yang paling sederhana dalam aktivitas mencari makan. “Alat” yang digunakan hanyalah lengan untuk mengangkut bahan maka yang terkumpul, kemudian tangan untuk memasukkan makanan ke mulut (Hoebel, 1958). Berbeda dengan hewan yang dapat mempergunakan alat tertentu untuk keperluan subsistensi, manusia tidak hanya mampu menggunakan alat tetapi juga menciptakan alat dan mengembangkan kebudayaan, dan sampai titik tertentu manusia dipengaruhi dan tergantung pada kebudayaan tersebut.
    Alat-alat yang diciptakan manusia tidak terbatas pada satu macam alat untuk satu macam keperluan. Satu alat dapat dipakai untuk berbagai keperluan, seperti memotong, menusuk, atau menyerut. Di samping itu manusia juga mengembangkan bentuk-bentuk alat sesuai dengan fungsi alat itu sehingga akhirnya ada alat tertentu yang dikhususkan untuk kegiatan tertentu. Misalnya, untuk menyerut diciptakan alat yang lebih halus dan dikerjakan dengan sangat cermat. Keanekaragaman alat ini juga memungkinkan manusia untuk mendapatkan aneka makanan dari berbagai sumber makanan sehingga terjadi diversifikasi pangan. Dengan kata lain, manusia bisa bertahan hidup karena dia tidak terspesialisasi pada satu aktivitas subsistensi tertentu. Hal ini membuatnya mampu mengatasi hambatan-hambatan dan gangguan yang disebabkan oleh alam.
    Berbagai macam batu, kayu, dan tulang digunakan manusia pada awal sejarahnya sebagai alat untuk mempermudah aktivitasnya. Manusia prasejarah berhasil membentuk batu menjadi alat yang disesuaikan dengan kebutuhan, dan dengan berbagai teknik mereka melakukan setiap kemungkinan dalam membentuk batu tersebut menjadi alat. Bentuk dasar yang diperoleh dalam pembuatan alat adalah dengan cara memotong dan menetak dengan menggunakan batu lain sampai dicapai bentuk yang diinginkan. Jenis batu yang dipakai biasanya berada di sekitar pemukiman mereka.
    Jenis alat atau piranti lain yang ditemukan dan diduga digunakan oleh manusia prasejarah adalah alat dari tulang, tanduk, dan kayu. Di daerah-daerah berhutan yang banyak timbernya kecenderungan pemakaian kayu sebagai perkakas lebih besar daripada pemakaian tulang atau tanduk.

Fungsi perkakas prasejarah (2)

Aktivitas subsistensi manusia prasejarah 

Berburu dan meramu
Pada tahap ini manusia hampir sepenuhnya tergantung pada alam. Manusia pada waktu itu hidup dari hewan buruan dan tanaman liar (belum dibudidayakan). Dengan kondisi seperti itu maka mereka lebih sering hidup berpindah tempat mengikuti musim tumbuhan tertentu, pasokan air dan perpindahan hewan buruan. Masyarakat perburu dan peramu seperti ini umumnya hidup berkelompok dengan jumlah anggota tidak banyak.

Pembudidayaan hewan dan tanaman
Pada masa ini manusia mulai mengetahui bahwa hewan dan tanaman dapat dibudidayakan dan itu akan mengurangi ketergantungan mereka pada lingkungan karena mereka dapat menyediakan sumber makanan tanpa harus mengikuti perpindahan binatang ataupun musim tumbuhan tertentu. Dengan demikian mereka dapat hidup menetap sambil memelihara hewan dan merawat tanaman pangan. Akibat dari perubahan kebiasaan dari hidup berpindah ke kehidupan menetap jumlah penduduk menjadi bertambah banyak. Pertambahan penduduk menyebabkan adanya spesialisasi pekerjaan karena orang tidak lagi dapat sepenuhnya memenuhi kebutuhan subsistensinya seorang diri. Kehidupan bermasyarakat menjadi kompleks.
    Perubahan pola subsistensi ini tampaknya dipengaruhi oleh keadaan lingkungan, misalnya saja menipisnya binatang buruan karena sebab-sebab alamiah, bertambahnya jumlah penduduk sehingga hewan yang ada tidak sesuai lagi dengan kebutuhan, atau terjadinya perubahan iklim. Selain faktor-faktor tersebut para ahli berpendapat bahwa perkembangan perekonomian prasejarah tidak saja tergantung pada perubahan-perubahan dalam alam dan habitat manusianya tetapi juga tergantung pada penciptaan alat-alat yang lebih efektif dalam rangka memperoleh makanan, terutama dalam memproduksi makanan (bukan hanya dalam mengumpulkan makanan saja (Fagan, 1975). Alat-alat yang dibuat oleh manusia prasejarah selama rentang sejarahnya yang panjang merupakan sarana yang digunakannya untuk mengatasi keterbatasan anggota badannya dan memperluas pemanfaatan lingkungan (Fagan, 1975).

Fungsi perkakas prasejarah (1)

ARTEFAK: SARANA PENYESUAIAN DIRI MANUSIA PRASEJARAH
DENGAN LINGKUNGANNYA DALAM RANGKA MAKAN DAN MENCARI MAKAN

Oleh. Julianty M


    Sejak awal kehadirannya di bumi, secara langsung atau tidak langsung, manusia selalu tergantung pada lingkungan alam tempat dia hidup. Kenyataan ini tampaknya menjadi fakta yang tidak mungkin disangkal dan kita semua memakluminya. Kebutuhan manusia akan lingkungan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan sumber makanan dan pemukiman. Tercakup di dalam hal ini adalah jumlah serta kualitas sumber makanan, jumlah serta kualitas angin, cuaca, suhu, air, serta kelembaban. Hubungan manusia dengan lingkungannya adalah hubungan yang timbal balik, dalam arti manusia tidak saja dipengaruhi oleh lingkungan tetapi juga mempengaruhi lingkungan. Interaksi manusia dengan lingkungannya sudah sejak dahulu terjadi, bahkan sejak mula pertama kemunculannya manusia sudah mengeksploitasi alam untuk keperluan subsistensi (mencari makan).
    Dari data arkeologis maupun paleontologis manusia prasejarah diketahui sudah melakukan perburuan terhadap hewan-hewan tertentu untuk sumber makanannya. Selain itu diketahui pula bahwa mereka pun mengkonsumsi berbagai jenis tumbuhan untuk menambah asupan kalori dalam tubuhnya.
    Cara-cara manusia prasejarah mendapatkan makanan sejak Kala Plestosen Bawah tidak saja mempengaruhi kelangsungan hidupnya tetapi juga mempengaruhi hampir semua aspek dalam masyarakat dan kebudayaan di mana dia hidup (Fagan, 1975). Selama terjadi interaksi manusia dengan lingkungannya telah terjadi perubahan besar karena manusia terus-menerus melakukan penyesuaian dengan lingkungan baik secara fisik maupun –bahkan terlebih- secara kultural. Tahapan aktivitas mencari makan pada manusia prasejarah dikenal dengan tahapan berburu dan meramu, yang kemudian secara bertahap beralih ke pembudidayaan tanaman dan hewan, kemudian selanjutnya melangkah lagi ke pertanian, yang lalu melahirkan peradaban-peradaban besar berkat lompatannya yang luar biasa dalam penyesuaian kultural manusia terhadap lingkungan.

Jumat, 20 Agustus 2010

Artefak paleolitik



Artefak adalah objek yang mudah dibawa (portable) yang dibuat dan dimodifikasi serta dipakai oleh manusia, seperti perkakas batu, bejana keramik dan senjata dari logam (Renfrew & Bahn, 1996:45). Artefak merupakan sarana manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan demikian menentukan strategi makan, niche, wilayah perburuan dan buruan (Jacob, 1987). Artefak menjadi perpanjangan tangan manusia untuk membantunya mempermudah pekerjaannya. Pada mulanya manusia memanfaatkan apa saja yang tersedia di alam untuk keperluan subsistensinya. Kemudian lama-lama dia mampu menciptakan alat yang diolah dan digunakannya untuk mengeksploitasi alam, dan ini akan tampak bekasnya pada alat-alat yang telah digunakannya tersebut.
Renfrew & Bahn (1996:45-46) menyebutkan bahwa informasi yang dapat diperoleh dari sebuah artefak adalah:
1.    umur alat tersebut dan juga penentuan pertanggalan (dating) lokasi penemuan alat;
2.    sumber bahan baku pembuatan alat sehingga dapat diketahui daya jelajah di pembuat alat dalam memanfaatkan lingkungan;
3.    bentuknya dapat dipakai untuk membuat klasifikasi tipologi alat; dan
4.    sisa organik maupun anorganik pada alat dapat digunakan untuk menganalisis diet prasejarah, lingkungan prasejarah, dan cara alat itu dipakai.

Artefak  dapat memberikan gambaran tentang perilaku manusia pembuat dan pemakainya. Metode yang umum dilakukan dalam arkeologi untuk memahami hal ini adalah pendekatan etnografis. Dengan pendekatan ini arkeolog membandingkan temuan arkeologis dengan alat serupa/sejenis yang masih dipakai oleh masyarakat tradisional pada masa sekarang. Jika didapati alat tertentu digunakan untuk aktivitas tertentu pada masa sekarang maka diasumsikan bahwa artefak sejenis digunakan untuk aktivitas serupa pada masa prasejarah.