Tampilkan postingan dengan label Museum Geologi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum Geologi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 24 Februari 2013

Tamu dari Kalimantan Timur

Tanggal 14 Februari 2013 Museum Geologi mendapat kunjungan 16 orang anggota Komisi IV DPRD Provinsi Kalimantan Timur. Mereka datang dalam rangka studi banding sehubungan dengan adanya rencana untuk membangun museum minyak di kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Agenda utama mereka adalah mencari informasi bagaimana menyajikan tata pameran yang interaktif dan sesuai dengan perkembangan teknologi yang telah dilakukan oleh Museum Geologi.

Rombongan diterima di Ruang Edukasi setelah sebelumnya mereka menonton film SANG PERINTIS. Film ini mendapat apresiasi tinggi dari anggota dewan dan dinilai memiliki semangat tinggi untuk menggugah rasa nasionalisme. Ruang Edukasi menjadi ajang diskusi antara staf Museum Geologi (Suharto, Julianty, dan Aurora) dengan anggota dewan. Topik yang dilontarkan seputar pendirian museum, penyusunan tata pameran, cagar budaya/alam, sumber daya alam, hingga anggaran untuk membuat sebuah museum.

Berita lengkap dan foto-foto dapat dilihat di situs resmi Museum Geologi.

Sabtu, 23 Februari 2013

Arkeologi Eksperimental di Museum Geologi

Museum Geologi memiliki banyak koleksi artefak paleolitik, baik yang ditemukan oleh ahli-ahli masa kolonial Belanda maupun hasil penggalian arkeologis pasca kemerdekaan. Di bulan Februari ini Museum Geologi menerima tamu khusus dari Australia dalam rangka kerja sama penelitian artefak paleolitik dari Flores. Tamu tersebut adalah Dr. Mark Moore, seorang Lecturerdi jurusan Archaeology and Palaeoanthropology, Faculty of Arts and Sciences, School of Humanities, University of New England. Dr. Mark Moore banyak melakukan penelitian mengenai teknologi pembuatan alat batu paleolitik yang dibuat oleh manusia purba. 

Dalam penelitian-penelitiannya tersebut Dr. Mark Moore meniru membuat alat batu paleolitik menggunakan teknik yang diduga digunakan oleh manusia purba, yaitu teknik memukul dan menetak batu dengan batu lain, atau dengan tulang. 

Apa yang dilakukan oleh Dr. Mark Moore adalah merupakan penerapan dari cabang ilmu arkeologi yang disebut arkeologi eksperimental. Itu pula yang dilakukan Dr. Mark Moore di Museum Geologi. Dr. Mark Moore mendemonstrasikan pembuatan alat batu paleolitik. Demonstrasi dilakukan pada tanggal 13 Februari 2013 bertempat di patio sayap timur Museum Geologi dan disaksikan oleh staf Museum Geologi. Dokumentasi berupa pengambilan foto dan film dilakukan oleh Tim Audio Visual Museum Geologi.

Tulisan lengkap dapat dilihat di situs resmi Museum Geologi.

Jumat, 22 Februari 2013

Koleksi Baru Museum Geologi

Awal Februari lalu Museum Geologi mendapatkan sumbangan berupa setangkup kima raksasa berukuran panjang 99 cm, lebar 63 cm, tebal 50 cm. Fosil ini menjadi koleksi baru Museum Geologi dan masih akan diteliti lebih lanjut oleh ahlinya. Kima merupakan jenis hewan invertebrata yang hidup di laut. Penemuan kima raksasa dalam kondisi lengkap setangkup adalah hal yang jarang terjadi. Jika ditemukan setangkup berarti hewan ini hidup dan mati di lingkungan pengendapan batuan tempat dia terfosilkan. Berita lebih lanjut berikut foto-foto dapat dilihat di situs resmi Museum Geologi.

Minggu, 13 Mei 2012

Pameran HUT Museum Geologi ke-83

Desain oleh Asep Bima
Tanggal 16 Mei 2012 nanti Museum Geologi genap berusia 83 tahun. Dalam rangka memperingati hari jadinya itu Museum Geologi akan menyelenggarakan pameran khusus bertema sumber daya geologi mulai tanggal 14 hingga 20 Mei 2012. Peserta pameran sebagian besar adalah unit-unit di lingkungan Badan Geologi. Pameran ini juga dikaitkan dengan Hari Museum Internasional yang jatuh pada tanggal 18 Mei serta Hari Kebangkitan Nasional tanggal 20 Mei.

Minggu, 15 April 2012

Si Kembar di Gerai Museum Geologi

Mana Dadan, mana Deden? (Foto: Julimar)
Anak kembar selalu menarik perhatian. Mereka fenomena langka. Lebih langka lagi yang datang ke museum atas kemauan sendiri. Di pameran keliling yang baru saja berlalu saya tertarik pada dua orang anak kembar yang lincah dan lucu. Semula salah satu di antara mereka datang ke gerai Museum Geologi dan mengisi buku tamu. Mukanya berseri begitu pemandu kami memberinya sehelai poster dan selembar brosur. Tak lama kemudian "dia" datang lagi dengan maksud serupa. Pemandu kami nyeletuk. "eh kamu kan tadi udah dapat poster?" Dia protes, mengingkari ucapan pemandu. Akhirnya kami mengalah, dia mendapat apa yang diinginkannya. Tak lama kemudian datang lagi, kali ini berdua! Mukanya sulit dibedakan! Ternyata mereka kembar. Mereka nyengir melihat kami terheran-heran. Nama kami Dadan dan Deden, katanya. Yang membuatku terkesan, si kembar ini bolak-balik mengajak teman-temannya untuk datang ke gerai Museum Geologi. Selama dua hari berturut-turut mereka datang ke pameran. Deden malah datang lagi sore hari, saat hujan deras, bersama dengan teman-teman ngajinya (dia baru saja pulang ngaji, lengkap dengan baju koko dan buku iqro di tangan).

Minggu, 08 April 2012

Pameran Keliling 2012: Museum Geologi Gerai Terbaik

Seperti telah disebutkan dalam tulisan sebelumnya, penyelenggara Pameran Keliling Permuseuman dan Kepurbakalaan memilih gerai terbaik melalui angket yang disebarkan kepada pengunjung. Alhamdulilah, gerai Museum Geologi terpilih sebagai gerai terbaik veri pengunjung. Terima kasih kepada teman-teman atas kerja sama dan kerja kerasnya untuk mewujudkan semua ini. Semoga ini menjadi pendorong bagi kita semua untuk bekerja lebih baik lagi.

Sabtu, 07 April 2012

Pameran Keliling 2012: Sumedang Tandang Makalangan

Museum Geologi telah mengikuti Pameran Keliling Permuseuman dan Kepurbakalaan yang berlangsung di Sumedang pada tanggal 3-6 April 2012. Pameran keliling ini diselenggarakan oleh Museum Negeri Sri Baduga dan diselenggarakan setahun sekali. Hingga tahun 2012 ini Museum Geologi telah enam kali mengikuti pameran keliling ini. Peserta pameran berasal dari 9 (sembilan) museum di Jawa Barat dan DKI Jakarta. Pendaftar sebenarnya ada 11 (sebelas) museum namun dua museum mengundurkan diri. Kegiatan pameran ini disertai pula dengan seminar dan lomba menyanyikan lagu perjuangan untuk guru-guru.

Museum Geologi membawa koleksi asal Sumedang berupa fosil moluska yang ditemukan di Sumedang dan struktur geologi kekar kolom (columnar joint) yang oleh penduduk Sumedang disebut cadas nangtung (Bhs. Sunda nangtung = berdiri).

Penting untuk diketahui bahwa untuk pertama kalinya Museum Geologi menyertakan para pemandu dari Museum Kars Indonesia (Wonogiri) untuk mengikuti pameran keliling. Diharapkan para pemandu ini mendapat pengalaman dan wawasan baru tentang dunia permuseum serta dapat menjalin hubungan dengan sesama insan permuseuman.

Berbeda dengan pameran keliling sebelumnya, pada pameran kali ini pihak penyelenggara membagikan angket kepada pengunjung untuk memberi penilaian kepada gerai terbaik. Museum manakah yang menjadi museum terbaik versi pengunjung?
Spanduk di pintu masuk arena pameran

Batu ini mau ditaruh di sebelah mana ya?

Tim pemandu di gerai Museum Geologi

Area pameran dilihat dari pintu masuk

Kemeriahan acara pembukaan pameran

Keramaian di gerai Museum Geologi

Bus Museum Geologi kembali menarik perhatian khalayak

Sabtu, 28 Januari 2012

Pelatihan pemanduan

Para pemandu Museum Geologi telah mengikuti pelatihan pemanduan yang diselenggarakan oleh Pusat Survei Geologi (PSG). Kegiatan yang berlangsung pada 15-17 Desember 2011 dan bertempat di hotel Takashimaya (Lembang) ini dibuka oleh Kepala Pusat Survei Geologi. Tujuan pelatihan ini adalah untuk menambah wawasan dan mengembangkan kemampuan pemandu. Secara keseluruhan peserta berjumlah  42 orang  yang terdiri dari 21 orang  pemandu Museum Geologi, 1 orang dari Museum Karst Indonesia dan 20 orang peserta lainnya berasal dari Museum Tsunami Aceh, Museum Aceh dan Dinas Pariwisata Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam.

Pelatihan dibagi menjadi dua bagian berupa pengetahuan mengenai teori pemanduan (hari pertama) dan teknik pemanduan (hari kedua). Hari pertama dibagi menjadi dua sesi, yaitu:
Sesi 1
1. Kepariwisataan Indonesia Wisata Minat Khusus (Ganef J. Pah, MT.dari STPB).
2. Museum Dunia dan Nusantara: Protokoler Wisata. (Drs. Isman Pasha, MH. dari Kementerian Luar Negeri RI).

Presentasi Felix Feitsma

Presentasi Isman Pasha
Sesi 2
1. Pemanduan Wisata Edukasi, Teknik Pemanduan, Interpretasi (Felix Feitsma dari STPB)
2. Wisata Geologi: Atraksi Wisata Geologi (Rimbaman, M.Sc. dari Pusat Survei Geologi)

Hari kedua untuk teknik pemanduan dipandu oleh Felix Feitsma dan diisi dengan kunjungan ke:
1. Museum Konferensi Asia Afrika
2. Kampung Padi
3. Kampung Tanggulan
4. Saung Angklung Udjo

Kunjungan ke Museum KAA

Kunjungan ke Saung Angklung Udjo
Kontributor: Eka & Sarah

Sabtu, 21 Januari 2012

Fosil dari Flores

Saat ini masyarakat sudah dapat menyaksikan fosil hewan vertebrata dari Flores. Patung "Hobbit"  hasil rekonstruksi turut menyertai fosil hewan tersebut. Semua fosil itu kini sedang dipamerkan di lobby Museum Geologi di Bandung. Fosil-fosil ini ditemukan di Cekungan Soa, Flores dan merupakan hasil kerja sama antara Badan Geologi (Bandung) dengan University of Wollongong (Australia). Selamat menyaksikan.




Kamis, 12 Januari 2012

Remedial Test di Museum Geologi? Mengapa tidak!

Seorang siswa menceritakan pengalamannya melakukan ujian perbaikan mata pelajaran geografi di Museum Geologi. Kejadiannya sudah hampir dua tahun yang lalu tetapi saya baru menemukannya di internet ketika sedang berselancar. Ini informasi menarik dan penting bagi pengelola museum. Museum dapat dimanfaatkan untuk berbagai kegiatan positif yang mendorong pada peningkatan pengetahuan untuk bidang ilmu terkait. Saya ingin berkenalan dengan Sang Guru yang kreatif ini, yang telah memberikan pengalaman lebih kepada anak didiknya. Berikut saya tampilkan cuplikan teks asli tulisan siswa tersebut yang dimuat di dalam blognya.

Sabtu, 06 November 2010
Museum Geologi: Mari Belajar Tentang Bumi
Satu dari sekian hal yang ane benci dari sekolah adalah remedial. Kegiatan remedial terjadi akibat nilai ujian sang siswa tidak mencapai batas wajar. Alhasil, siswa tersebut mesti mengulangi ujian yang biasanya memiliki soal sama, dan susahnya juga gak ada bedanya.
Begitu pula dengan ane. Nilai UTS ane kemaren kurang memuaskan, dengan 6 nilai dari 5 pelajaran berbeda kudu di-remedial. Beberapa dah tuntas, tapi satu pelajaran masih menggantung, dan ini bikin ane risih berat. Kenapa? Ya, kalian pasti ngerti lah, perasaan saat ada suatu hal yang belum tuntas, tapi dikejar oleh deadline yang tidak mengenal belas kasihan. Halah, lebay.

Pelajaran yang menggantung tersebut adalah geografi. Pelajaran ini berisi tentang berbagai hal yang berhubungan dengan bumi dan kemasyarakatan. Berhubung sejak SMA ada pelajaran sosiologi, jadi ilmu kemasyarakatan (sepertinya) udah gak ada di geografi. Emang pas UTS, pelajaran ini bikin stres satu angkatan. Hampir semua siswa di kelas ane diremed. Susah? Gak juga sih. Ribet? Gak terlalu. Jadi apa dong yang bikin siswa jadi dong-dong ngerjain soal geografi? Jawabannya adalah..........

Susah.

Oiya, dan ribet.

Ah, cukup basa-basinya. Intinya ane dan kawan-kawan harus mengikuti ujian perbaikan. Tapi kayaknya Bu Cucu, guru yang ngajar ane geografi menginginkan sesuatu yang berbeda kali ini. Tidak ada remed menggunakan kertas soal yang sama, melainkan sang guru akan membawa murid-muridnya melakukan kunjungan ke salah satu museum terkenal di Bandung: Museum Geologi.
Yah, ide yang bagus. Kebetulan ni museum ada hubungannya sama ilmu geografi. Sabtu tadi siang adalah saat dimana ane dkk. berkunjung. Walau gak terlalu antusias, tapi dari pagi ane udah menclok di depan museum.

Jadi sistem remednya begini: Bu Cucu membagikan tiga lembar kertas yang berisi berbagai pertanyaan tentang bumi. Nah kemudian murid-murid 'pintar'nya diharuskan berkeliling museum untuk mencari jawaban dari pertanyaan tersebut. Memang bikin capek, tapi seru juga. Apalagi ada berbagai objek menarik yang bisa ane teliti, contohnya maket berbentuk peta pertambangan di Papua (ane lupa namanya apa), batu dari luar angkasa, dan replika Tyrannosaurus yang terbuat dari tulang aslinya.

Rabu, 11 Januari 2012

Postingan Blog Mengenai Museum Geologi

Tak sengaja menemukan situs ini ketika sedang berselancar. Ternyata cukup banyak yang menulis kesan dan ulasan tentang kunjugan ke Museum Geologi. Semoga ini semua menjadi masukan yang berharga bagi Museum Geologi, dan menjadi pertimbangan untuk meningkatkan pelayanan kepada pengunjung. Silakan kunjungi situsnya di sini.

Senin, 09 Januari 2012

Museum Geologi di Geomagazine

Jilid depan Geomagz Vol. 1 No. 2


Liputan tentang Museum Geologi dimuat di Geomagazine Vol. 1 No. 2 mulai halaman 28. Bagi Anda yang berminat membacanya, silakan buka laman ini: http://www.bgl.esdm.go.id/index.php/publikasi/geomagazine/230

Kamis, 29 Desember 2011

Penyuluhan Geologi kepada Guru-guru

Foto: Julimar

Pendaftaran (foto: Julimar)

Suasana diskusi (foto: Julimar)

Briefing sebelum ekskursi (foto: Julimar)

Berangkat menuju Kawah Putih (foto: Julimar)
Program rutin Museum Geologi berupa penyuluhan geologi kepada guru-guru berlangsung di Bandung tanggal 27 Desember 2011. Materi yang diberikan adalah  permuseuman, geologi umum, kebencanaan, dan kearifan lokal Sunda dalam kaitannya dengan pengelolaan lingkungan. Pembicara berasal dari Badan Geologi dan Jurusan Antropologi UNPAD. Penyuluhan dilanjutkan dengan ekskursi ke Kawah Putih (Ciwidey) keesokan harinya. Peserta yang diundang kali ini adalah guru-guru sekota Bandung namun tidak sedikit guru yang datang dari luar kota Bandung. Rupanya mereka saling memberi tahu antarteman dan ini menjadi indikasi bahwa penyuluhan geologi oleh Museum Geologi sangat diminati. Panitia sampai kewalahan menghadapi peserta yang tidak terdaftar di panitia (datang mendadak/tanpa konfirmasi). Semoga apa yang diberikan oleh pemateri dapat bermanfaat bagi para guru dan murid-muridnya.

Rabu, 23 November 2011

Bus Pameran di Pameran Keliling Bersama

Tampak luar bus  (Foto oleh Julimar)
Memiliki sarana untuk pameran berjalan sudah lama menjadi dambaan Museum Geologi. Maka ketika kesempatan untuk mengadakan bus dimaksud tiba, disusunlah rancangan interior maupun eksterior bus itu. Ketika akhirnya bus itu tiba di pelataran parkir Museum Geologi kami semua terperangah heran melihat kondisi bus tidak seperti yang dibayangkan karena tidak sesuai dengan rancangan semula. Lepas dari itu semua, bus itu untuk pertama kalinya digunakan berpameran pada Pameran Keliling Bersama di Subang pada pertengahan November yang lalu.

Pada pameran tersebut bus digunakan untuk memamerkan contoh-contoh batuan dan mineral serta memajang beberaoa poster, termasuk poster tentang perkembangan geologi kepulauan Indonesia. Selain itu disajikan pula berbagai film dokumenter terkait peristiwa dan fenomena geologi di Tanah Air. Untuk kenyamanan pengunjung kami menerapkan sistem buka-tutup kepada mereka yang ingin memasuki bus. Pengunjung dipersilakan masuk dari pintu depan dan keluar dari pintu belakang. dengan cara FIFO (first in first out). Pengunjung yang belum mendapat giliran masuk dapat menonton film di luar bus. Selain dalam rangka uji coba, pemanfaatan bus sebenarnya juga untuk menyiasati terbatasnya area pameran di dalam gedung.

Antrean pengunjung bus (Foto oleh Julimar)
Pada mulanya kami merasa waswas jangan-jangan panitia tidak menginzinkan bus kami nongkrong di pelataran parkir area pameran tetapi kami malah mendapat tempat tepat di pintu gerbang menuju gedung pameran. Lokasi ini strategis sekali karena mau tidak mau mereka yang akan masuk gedung pameran harus melewati bus kami. Lama-lama pengunjung yang ingin masuk bus menyemut menghalangi jalan masuk menuju gedung. Bahkan para pedagang di sekitar arena pameran turut pula menonton film yang diputar di bus.

Yah, meskipun bus ini tidak sesuai bayangan semula, penampilannya di ajang Pameran Keliling Bersama ternyata mengundang banyak perhatian dan pertanyaan dari peserta pameran. Saya sendiri sebenarnya mengangankan  trailer seperti milik National  World War I Museum (lihat gambar di bawah ini).

Sumber gambar www.unchained.com


Gambar di atas adalah trailer yang dirancang khusus untuk pameran berjalan. Melalui trailer ini National  World War I Museum menyebarluarkan informasi tentang perang kepada masyarakat Amerika. Tampilan luar trailer ini begitu meyakinkan dan membuat saya iri: kapan kita bisa memiliki sarana pameran sekelas itu?

Jumat, 07 Oktober 2011

Hari Pertambangan 2011

Ucapan selamat di pintu masuk arena pameran (Foto: Julimar)
Tanggal 28 September diperingati sebagai Hari Pertambangan di Indonesia. Peringatan perdananya baru saja dilaksanakan bersamaan dengan pameran yang berlangsung pada tanggal 28 September  - 2 Oktober 2011 bertempat di Museum Minyak dan Gas Bumi dan Museum Listrik dan Energi Baru, Taman Mini Indonesia Indah. Pameran diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan di dunia pertambangan dan energi baik perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.




Alat survei antik koleksi Museum Geologi (Foto: Mirza)
Museum Geologi turut mengisi salah satu gerai di bawah Badan Geologi, dengan menampilkan koleksi fosil gading dan rahang stegodon hasil ekskavasi di Flores (Nusa Tenggara Timur). Selain itu Museum Geologi juga membawa koleksi peralatan survei antik buatan Jerman yang berasal dari masa sebelum Perang Dunia II berikut poster sejarah singkat pertambangan di Indonesia. 





Fosil gading & rahang stegodon Flores (foto: Mirza)
Ada hal penting yang perlu diketahui oleh siapapun yang mengikuti pameran. Pameran sebenarnya adalah ajang untuk promosi dan membangun citra positif bagi peserta. Sebuah perusahaan ataupun instansi pemerintah yang mengikuti pameran seyogyanya bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan pameran dan mempersiapkan tenaga yang memadai untuk menjaga gerai dan memberikan informasi kepada pengunjung pameran. Pengunjung pameran adalah masyarakat umum dengan tingkat pengetahuan dan keingintahuan yang sangat beragam. Berpameran secara filosofis adalah memberikan edukasi dan informasi kepada pengunjung tentang apa yang kita tampilkan. Jadi berpameran bukanlah sekedar memajang barang dan aneka produk, melainkan juga memberikan informasi. Setiap barang yang dipamerkan harus disertai dengan informasi yang memadai. Jika peserta pameran tidak menyediakan informasi tertulis tentang apa yang dipamerkannya, maka dia harus menyediakan orang yang mampu (kompeten) memberikan penjelasan dan informasi kepada pengunjung.

Anak-anak serius mencoba teodolit kuno (atas) dan membaca brosur Museum Geologi (bawah). Foto: Julimar




Jangan menyepelekan pengunjung. Itu yang harus tertanam dalam benak setiap peserta dan penyelenggara pameran.

Selasa, 12 Juli 2011

Terfavorit untuk kategori Iptek

Majalah NATIONAL GEOGRAPHIC TRAVELER melakukan survei wisata museum untuk mengetahui museum-museum yang menjadi tujuan para traveler ketika melakukan wisata. Survei ini berakhir tanggal 30 April 2011 dan hasilnya dimuat di edisi Juli 2011. Museum Geologi menempati urutan pertama untuk kategori museum ilmu pengetahuan dan teknologi. Sesuatu yang patut dibanggakan sekaligus diwaspadai. Bangga karena Museum Geologi ternyata masih diminati oleh para pelancong yang ingin berwisata ke museum. Waspada karena ini bisa membuat pengelola Museum Geologi terlena sehingga "lupa" untuk melakukan perbaikan demi meningkatkan pelayanan kepada pengunjungnya. Semoga tidak demikian adanya. Harapannya adalah, Museum Geologi semakin meningkatkan pelayanannya di semua segi. Selamat!

Selasa, 14 Juni 2011

Peragaan baru di Museum Geologi

Museum Geologi memiliki wahana baru berupa peragaan di luar ruangan (outdorr exhibition). Wahana ini bernama Taman Siklus Batuan. Di sini pengunjung dapat mempelajari proses terbentuknya batuan dan jenis-jenis batuan yang ada di Bumi. Selain sebagai sarana untuk belajar, taman ini juga dapat digunakan oleh pengunjung untuk melepas lelah sejenak setelah berkeliling di dalam Museum Geologi. Fungsi lain taman ini adalah sebagai pemecah kepadatan pengunjung di dalam ruangan.

Taman Siklus Batuan (Foto: Mirza)
Taman Siklus Batuan diresmikan dan dibuka oleh Kepala Badan Geologi, R. Sukhyar, pada hari Minggu tanggal 15 Mei 2011 bertepatan dengan pemubukaan pameran khusus dalam rangka memperingati Hari Ulang Tahun Museum Geologi ke-82 (16 Mei 2011).

Kepala Badan Geologi dalam peresmian Taman Siklus Batuan (Foto: Lutfi)

Senin, 23 Mei 2011

PENDIDIKAN GEOLOGI DI MUSEUM KEGEOLOGIAN

Oleh: Julianty M

Museum dan perpustakaan dewasa ini menjadi ciri bagi kota-kota modern, khususnya di negara-negara maju. Kedua lembaga tersebut mencerminkan tingkat keterpelajaran masyarakat tempat museum dan perpustakaan tersebut berada. Dengan demikian museum erat kaitannya dengan dunia pendidikan, bahkan menjadi sarana bagi pendidikan itu sendiri. ICOFOM mendefinisikan pendidikan di museum (museal education)  sebagai serangkaian nilai, gagasan, pengetahuan dan praktik yang bertujuan meningkatkan perkembangan (pengetahuan – pen.) pengunjung. Lebih khusus lagi, pendidikan di museum berhubungan dengan mobilisasi pengetahuan yang berasal dari museum (ICOFOM).

Bagaimana sebenarnya penyelenggaraan pendidikan di museum dijalankan?

Pendidikan di  museum dilakukan melalui objek (koleksi) yang disusun dalam sebuah sistem tata peragaan, dan menurut Rebbert (2007) museum memberikan kesempatan kepada para pembelajar untuk melakukan perjumpaan dengan objek secara nyata (koleksi museum). Para edukator di museum menyusun objek dan mengelompokkannya berdasarkan berbagai kategori kemudian memberinya interpretasi sehingga objek tersebut memiliki nilai informasi dan menjadi informasi bagi siapa saja yang mengamatinya.  Yang perlu dipahami adalah bahwa museum bukanlah lembaga pendidikan formal melainkan lembaga pendidikan informal.

Pendidikan formal diselenggarakan secara klasikal (di dalam kelas)di sekolah dan memiliki kurikulum, standar kelulusan serta tenaga pengajar (guru) yang memiliki kompetensi di bidang/mata pelajaran yang diajarkan. Pendidikan informal diselenggarakan di luar sekolah, di antaranya dalam keluarga, dalam organisasi sosial kemasyarakatan, di museum dan di perpustakaan. Pada pendidikan informal para pembelajar bergerak bebas mencari informasi yang dibutuhkannya, dan para pembelajar dapat lebih santai belajar karena tidak ada tekanan harus menyelesaikan tugas dan pekerjaan rumah, atau keharusan lulus ujian dan lain sebagainya.
Koleksi geologi yang ada di Museum Geologi di Bandung maupun di museum-museum kegeologian lainnya di lingkungan KESDM memiliki nilai penting bagi pendidikan geologi di museum. Situs museum geologi San Bernardino menyebutkan bahwa:
·    Koleksi geologi menampilkan sejarah geologi Bumi, termasuk sejarah perubahan iklim dan bentuk-bentuk mahluk hidup.
·    Koleksi geologi membantu kita memetakan lokasi-lokasi sumber daya alam dan kekayaan keanekaragaman hayati di muka bumi
·    Koleksi geologi memiliki informasi kunci yang kita butuhkan untuk melindungi sumber daya alam yang kita miliki.

Museum-museum kegeologian di lingkungan KESDM didirikan atas dasar pemikiran pentingnya masyarakat mengetahui kondisi geologi tempat tinggalnya, di samping juga mengingatkan kita bahwa kita memilki kekayaan alam berlimpah sekaligus potensi bencana yang tidak dapat dianggap remeh.
Museum Tsunami di Banda Aceh dapat mengingatkan kita betapa dahsyatnya kekuatan alam. Museum Karst di Wonogiri menampilkan bentangalam unik dan kekayaan keanekaragaman hayati di kawasan karst. Informasi semacam ini dapat digunakan untuk menyusun rencana konservasi kawasan tersebut. Demikian pula halnya dengan Museum Gunungapi Merapi dan Batur. Keduanya memberikan informasi berharga tentang gunungapi, khususnya Gunung Merapi dan Gunung Batur, mulai dari bencana yang ditimbulkannya hingga ke manfaat yang dihasilkannya. Dengan mengetahui semua itu kita dapat mengantisipasi kejadian bencana melalui upaya-upaya mitigasi, sekaligus juga melakukan konservasi di kawasan sekitar gunung-gunung tersebut.

Koleksi batuan, mineral dan fosil di Museum Geologi di Bandung juga tak kalah pentingnya. Semuanya menjadi informasi edukatif yang sangat kaya bagi para pembelajar yang datang ke museum. Stanley (2004) mengelompokkan nilai penting koleksi geologi ke dalam lima kategori nilai, yaitu:
1.    Research value
Dari sisi penelitian, koleksi geologi dapat digunakan untuk mengukur perubahan iklim dan keanekaragaman hayati secara global. Koleksi geologi juga bermanfaat ketika para ahli akan melakukan eksplorasi sumber daya alam (misalnya digunakannya biostratigrafi dalam eksplorasi minyakbumi), penelitian batuan dan mineral untuk bahan bangunan, penelitian sejarah Bumi dan sejarah kehidupan di Bumi, serta penelitian mineral untuk membedakan mineral asli dengan mineral sintetis.
2.    Cultural value
Hobi mengumpulkan aneka koleksi geologi (batuan, mineral, fosil) dapat menjadi ajang kumpul-kumpul dan silaturahim antarsesama penggemar koleksi dimaksud.
3.    Financial value
Batuan, mineral dan fosil yang memiliki keunikan tertentu biasanya memiliki nilai tinggi sehingga harganya mahal.
4.    Educational value
Koleksi geologi dapat dijadikan sumber pelajaran dan pendidikan, terutama dalam lifelong learning di museum.
5.    Entertainment value
Batuan, mineral, dan fosil yang bentuk dan warnanya indah memiliki nilai estetik bagi siapapun yang memandangnya.
*****
Bahan bacaan:
ICOFOM, Key Concepts in Museology, ICOM-UNESCO, 2006.
Stanley, Mick, Standards in Museum Care of Geological Collections, Museum, Libraries and Archives Council (MLA), 2004
*****
Tulisan di atas disampaikan pada Public Lecture tanggal 21 Mei 2011 di Bandung dalam rangka Hari Ulang Tahun Museum Geologi dan Hari Museum Internasional