Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Museum. Tampilkan semua postingan

Senin, 04 Maret 2013

Museum Nyamuk

Sumber gambar: klik di sini


Indonesia ternyata memiliki museum nyamuk! Rasanya wajar ya karena negeri kita adalah negara tropis yang rawan dengan penyakit yang disebabkan oleh nyamuk. Museum Nyamuk terletak di Kabupaten Ciamis di kompleks perkantoran Loka Penelitian dan Pengembangan Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang (Litbang P2B2)-Ciamis.

Museum ini milik Departemen Kesehatan dan merupakan museum nyamuk satu-satunya di Indonesia yang memilliki berbagai fasilitas agar masyarakat waspada akan bahaya nyamuk. Penggagas pertama kali pendirian Museum Nyamuk adalah Sugiono, saat menjabat sebagai Kepala Loka Balitbang P2B2 Ciamis.

Ulasan lengkap tentang museum ini dapat dilihat di sini.

Rabu, 12 Desember 2012

Yang tercecer dari Gelar Museum Nusantara 2012


Jakarta, 24 November 2012
Hari ini menjelang hari terakhir Gelar Museum Nusantara 2012. Pemandu acara di lantai atas sibuk dengan pemberian kuis kepada para pengunjung pameran. Hari ini lebih ramai dibandingkan dua hari sebelumnya. Tadi pagi banyak anak sekolah yang datang. Mereka berfoto-foto di depan setiap gerai museum yang mereka kunjungi. Brosur dan poster Museum Geologi sudah sangat menipis persediaannya. Banyak pengunjung yang meminta brosur dan poster tersebut. Tak apa lah. Mudah-mudahan semua itu dapat memperluas penyebaran informasi tentang geologi kepada masyarakat.
Ruangan pameran dingin sekali. Pendinginnya rupanya sangat kuat sampai-sampai para penjaga gerai pameran bolak-balik ke kamar kecil. Aku mulai merasakan tidak enak di hidung akibat dinginnya suhu ruangan ini.

Sambil menunggui gerai pameran kami berkenalan dengan sesama peserta. Ajang seperti ini sangat bagus untuk membangun jaringan dan memperluas wawasan. Apalagi ini kesempatan bertemu dengan sesama insan museum se-Tanah Air. Kartu nama harus selalu tersedia di ajang begini karena ini dapat menjadi sarana kita untuk berkomunikasi setelah pameran selesai kelak. 

Pameran begini biasanya kami mendapatkan gagasan baru yang terinspirasi dari obrolan dengan pengunjung yang datang ke gerai kami, atau dari teman-teman sesama insan museum. Kami ingin agar pameran-pameran berikutnya dapat menampilkan rancangan baru meskipun informasi yang disampaikan tidak jauh berbeda.

Saya sendiri berkenalan dengan seorang anak muda yang sedang menulis ensiklopedi tentang Indonesia. Wah, dia bersemangat sekali! Saya pun tak kalah bersemangatnya! Obrolan kami seru. Kami langsung nyambung. Pertemuan yang disyukuri oleh kedua belah pihak. Silaturahim semacam ini sering datang tak terduga pada kesempatan-kesempatan pameran ataupun seminar. Kesempatan untuk bekerja sama dalam pameran ataupun acara lainnya terbuka dengan cara seperti ini. Tentunya ini merupakan tabungan masa depan. Kerja sama tidak akan datang saat itu juga, tetapi orang yang sudah kita kenal di pameran ataupun seminar ternyata sering menghubungi kembali beberapa waktu kemudian ketika mereka akan menyelenggarakan suatu kegiatan dan membutuhkan narasumber. Ajakan berpameran pun sering datang dengan cara seperti ini.

Senin, 03 Desember 2012

Diskusi film SANG PERINTIS

Tanggal 10 November yang lalu Museum Konperensi Asia Afrika bekerja sama dengan Museum Geologi menyelenggarakan diskusi film dokumenter berjudul SANG PERINTIS. Film ini merupakan produksi Studio Audio Visual Museum Geologi (Stegodon Studio) dan pemutaran perdananya dilaksanakan bertepatan dengan ulang tahun Museum Geologi ke-80 pada tahun 2009. Film ini mengisahkan perjuangan dua orang pribumi pertama yang menjadi ahli geologi sehingga mereka berdua layak disebut sebagai tokoh bumiputera yang menjadi perintis di bidang geologi dan pertambangan. Museum Konperensi Asia Afrika berinisiatif memutar film ini dalam rangka memperingati Hari Pahlawan 10 November 2012. Harapannya, tentu saja, agar generasi muda Indonesia dapat mengambil teladan dari kedua tokoh ini. Berikut foto-foto selama diskusi berlangsung.

Poster
Poster yang disebarkan kepada umum (sumber: MKAA)

Moderator (kiri) dan para narasumber (sumber: MKAA)

PLH Kepala Museum KAA menyampaikan pidato sambutan  (sumber: MKAA)


Sebagian peserta diskusi (sumber: MKAA)

Penyerahan cenderamata kepada keluarga Soenoe Soemosoesastro (sumber: MKAA)

Sabtu, 03 November 2012

Toloooong!

Berita yang membuat saya miris. Di mana dan bagaimana peran negara menyikapi hal ini?

Museum Adam Malik bangkrut, Prasasti Shankara dijual ke loak
Rabu, 31 Oktober 2012 09:46:47
Bangkrut dan tutupnya Museum Adam Malik pada tahun 2005-2006 berdampak pada hilangnya peninggalan purbakala yang memiliki nilai sejarah yang sangat tinggi. Sebuah prasasti yang menjelaskan bahwa di Pulau Jawa hanya ada satu dinasty atau wangsa Sailendra telah hilang jejaknya.

Sebab saat Museum Adam Malik ditutup, beberapa benda-benda purbakala termasuk Prasasti Raja Sankhara yang sering juga disebut sebagai Prasasti Adam Malik ini sudah hilang terjual ke seorang tukang loak.

Akibatnya, benda yang merupakan peninggalan Kerajaan Mataram Kuno atau Modang ini tidak diketahui keberadaanya oleh Pusat Arkeologi Nasional. Kesulitan untuk melacak keberadaan benda kuno inipun dialami sebab ahli waris almarhum mantan Wakil Presiden Indonesia Adam Malik itu menjualnya ke seorang tukang loak yang kebetulan lewat di depan museum yang sekaligur menjadi rumah itu.

"Kalau menjualnya ke seorang kolektor kita masih bisa mendata atau menginventarisir. Tetapi ini dijual kepada seorang tukang loak yang kebetulan lewat di depan rumah bagaimana kita bisa menemukannya," ungkap Peneliti Pusat Arkeologi Nasional Bambang Budi Utomo Selasa (30/10) di sela-sela acara World Writers & Cultural Festival 2012 di Hotel Manohara, Kompleks Taman Wisata Candi Borobudur Magelang, Jateng.

Prasasti yang mempunyai panjang 75 cm, mirip pepunden warna abu-abu itu dibeli oleh mendiang Adam Malik dari seorang kolektor dari Sragen, Jateng. Pembelian itu dilakukan oleh Adam Malik saat dulu dia menjabat sebagai Menteri Luar Negeri di masa Orde Baru saat Presiden Soeharto menjabat. Keberadaan prasasti ini sangat penting sekali untuk menelusuri sejarah dan kebenaran. Sebab, prasasti Raja Sankhara berasal dari abad ke 8 masehi.

Dalam prasasti disebutkan seorang Raja Sankhara berpindah agama karena agama Siwa yang dianut adalah agama yang ditakuti banyak orang. Raja Sankhara pindah agama ke Buddha karena di situ disebutkan sebagai agama yang welas asih. Akibat ajaran itu, ayah Raja Sankhara, wafat setelah sakit selama 8 hari. Sankhara takut akan ‘Sang Guru’ yang tidak benar, kemudian meninggalkan agama Siwa, menjadi pemeluk agama Buddha Mahayana dan memindahkan pusat kerajaannya ke arah timur.

Isi prasasti Raja Sankhara ini secara garis besar sesuai dengan kisah dalam Carita Parahyangan di mana disebutkan bahwa Raja Sanjaya menyuruh anaknya Rakai Panaraban (Rakai Temperan) untuk berpindah agama, karena agama Siwa yang dianutnya ditakuti oleh semua orang. Siwa sendiri dalam ajaran Hindu merupakan sosok dewa perusak.

Menurut Poerbatjaraka dan pustaka di Arsip Nasional Indonesia 2, Sanjaya dan keturunannya itu ialah raja-raja dari wangsa Sailendra, asli Nusantara, yang semula menganut agama Siwa, tetapi Panamkaran berpindah agama menjadi penganut agama Buddha Mahayana. Isi prasasti Raja Sankhara juga sesuai dengan Prasasti Sojomerto yang kini disimpan di lokasi penemuannya di Pekalongan, yang menyebutkan tentang Dapunta Sailendra yang dianggap sebagai cikal bakalnya dinasti Sailendra.

Baik prasasti Sojomerto ataupun prasasti Raja Sankhara, ditambah penafsiran atas naskah Carita Parahyangan, mendukung teori bahwa Sailendra adalah wangsa tunggal yang merupakan keluarga penguasa asli Nusantara yang menggunakan bahasa Melayu kuno sebagai bahasa sehari-harinya seperti tertulis dalam prasasti-prasasti peninggalan wangsa ini.

"Temuan-temuan ini sekaligus membantah teori populer mengenai persaingan dua wangsa beda agama; wangsa Sailendra yang Buddha dan wangsa Sanjaya yang Hindu yang diajukan Bosch dan de Casparis. Karena menurut prasasti Sojomerto dan Raja Sankhara, Sanjaya dan keturunannya adalah anggota wangsa Sailendra, dan wangsa ini sebelumnya adalah pemuja Siwa, sebelum akhirnya Panangkaran berpindah keyakinan menjadi penganut Buddha Mahayana,"ungkap Bambang.

Hilangnya jejak benda bersejarah itu sebetulnya sudah lama dilaporkan ke Dirjen Cagar Budaya dan Permuseuman. Namun, tidak ada upaya dari pemerintah dan lembaga itu untuk melakukan pencarian dan pelacakan benda bernilai sejarah tinggi itu.

"Sudah lapor ke Direktorat Purbakala sekarang namanya Direktorat Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman. Lapor sejak ada lima tahun yang lalu. Ke Dirjen juga tidak ditanggapi. Alasanya nggak ada laporan dari ahli waris. Tidak mungkin khan masak yang menjual melaporkan?' ujar Bambang.

Tidak hanya prasasti Raja Sankara saja yang dulu menjadi koleksi di Museum Adam Malik itu. Dulu sebuah arca Ghanesa yang berada di Pulau Panitan hilang dari tempat aslinya. Setelah dicari-cari ternyata ada di Museum Adam Malik yang didirikan saat Adam Malik jadi Wapres. Bambang berkeyakinan benda bernilai sejarah tinggi itu masih berada di Indonesia dan tidak akan pernah berhasil jika dilarikan ke luar negeri.

"Akan ketahuan orang bea cukai nilainya tinggi tapi nggak ada harganya. Sekarang bea cukai ketat terhadap peninggalan. Sebuah wayang kulitpun akan dicek dengan petugas bea dan cukai jika memang wayang itu wayang peninggalan bersejarah kuno dan langsung akan dilaporkan ke kita," jelas Bambang.

Bambang menambahkan, benda-benda bersejarah yang mengandung nilai sejarah sampai saat ini banyak tersebar di tangan-tangan kolektor. Sebetulnya, jika dilaporkan Badan Arkeologi hanya untuk diinventarisir dan didata walaupun benda tetap dipertahankan di tempat sang kolektor.

"Masih banyak yang tersebar ke perseorangan dan kolektor, seperti di Pak Jalil kolektor di jalan Kemang, Pak Hasyim di Museum Radya Pustaka. Sejak reformasi 98 peredaran benda-benda cagar budaya tidak teratur dan nggak bener. Banyak bangunan bersejarah yang terbengkalai,"ungkap Bambang.

Selain itu, upaya pembongkaran dan perusakan itu juga didukung dan dibekingi oleh para pejabat yang duduk di partai politik yang dekat dengan poros kekuasaan. Tidak hanya benda-benda purbakala saja, pengerusakan dan pemusnahan bangunan kuno bersejarah juga dilakukan tanpa pertimbangan tempat itu bagian dari sejarah.

"Termasuk bekas bangunan kantor Purbakala sendiri di Jl Cilacap Jakarta dibongkar juga. Ya maaf kalau dari anda ada orang Demokrat. Orang Demokrat yang ada di belakang mereka. Rumah cantik di Teuku Cik Di Tiro, Menteng kabarnya Ibas (Putra Presiden Soesilo Bambang Yudhoyono) yang ada di belakang mereka. Juga di tempat lain Pabrik Es yang dipertahankan sama Jokowi yaitu di Saripetojo," pungkas Bambang.
[hhw]

Sabtu, 13 Oktober 2012

Museum Fatigue (2)

Bagaimana menghindari sindrom museum fatigue? Ada dua tips sederhana yang dapat Anda lakukan untuk menghindari sindroma ini:
1. Sebelum melakukan kunjungan ke sebuah museum sebaiknya pastikan Anda mengetahui jam operasional museum  sehingga Anda dapat memperkirakan kapan kira-kira waktu yang tidak terlalu ramai pengunjung di museum tersebut. Dengan demikian Anda akan lebih leluasa menikmati objek di museum tanpa banyak terganggu oleh pengunjung lain.

 2. Mintalah brosur museum terlebih dahulu kepada petugas museum. Brosur museum dapat membantu Anda untuk memusatkan perhatian pada objek-objek tertentu yang menarik perhatian Anda. Anda tidak mungkin dapat melihat semua objek di museum sekaligus. Bila Anda memaksakan diri melakukan hal ini maka Anda akan cepat lelah dan bosan sehingga tidak mendapatkan pemahaman optimal tentang objek yang ditampilkan. Jika Anda merasa belum puas pada kunjungan pertama, kembalilah lagi di lain waktu. Pada kunjungan berikutnya ini mungkin Anda akan memusatkan perhatian pada objek yang lain lagi dan pengetahuan Anda akan bertambah secara bertahap tanpa harus lelah karena sindroma museum fatigue.

Selamat mencoba!

Kamis, 09 Agustus 2012

Museum fatigue


Ada yang pernah mendengar kalimat di atas? Saya menemukan kalimat tersebut ketika sedang berselancar di dunia maya. Konsep museum fatigue telah muncul sekitar tahun 1920-an dan 1930-an di Amerika Serikat. Museum fatigue adalah kondisi ketika perhatian pengunjung museum pada objek semakin berkurang seiring dengan semakin lamanya waktu kunjungan (museum visitor interest towards exhibits decreased as visits progressed). 

Urban Dictionary mendefinisikan museum fatigue sebagai berikut: The type of exhaustion you get from walking from place to place, stopping, thinking about what you are seeing, then continuing. This happens often in a museum. (Jenis kelelahan yang amat sangat yang terjadi karena kita berjalan dari satu tempat ke tempat lain, berhenti, berpikir mengenai apa yang kita lihat, lalu berjalan lagi. Hal seperti ini sering terjadi di museum). Sepertinya ini istilah yang asing di telinga namun kenyataannya kebanyakan dari kita pernah mengalaminya.

Saya sendiri pernah mengalami hal seperti ini. Bukan hanya di museum melainkan juga di mal. Awalnya kita melihat-lihat objek dengan perhatian penuh sambil terus berjalan ke objek atau etalase berikutnya. Lambat-laun perhatian kita menurun dan kita hanya melihat sekilas saja pada objek-objek berikutnya. Mata kita terlanjur lelah karena banyaknya objek yang harus kita lihat, kita juga mulai sering menguap sebagai tanda kebosanan, serta kaki kita mulai pegal karena berdiri lama. Ujung-ujungnya kita mencari tempat duduk (dan kesal bila ternyata di tempat tersebut tidak ditemukan bangku atau apa pun yang dapat dijadikan tempat duduk). Menurut penelitian Gareth Davey rentang perhatian pengunjung museum umumnya berkisar antara 30-45 menit. Setelah itu berkurang hingga tingkat yang paling bawah. Gareth Davey menyebutkan dua hipotesis untuk menjelaskan penyebab museum fatigue ini, yaitu:
1.    Faktor fisik pengunjung itu sendiri: kelelahan fisik yang dialami pengunjung ketika dia berjalan mengamati objek di museum.
2.   Faktor lingkungan: lingkungan yang ada di museum membuat pengunjung lelah (misalnya tata pameran yang terlalu padat, atau terlalu banyak tulisan; termasuk di dalam faktor lingkungan adalah arsitektur gedung museum).
Bagaimana cara mengatasi museum fatigue ini? Nantikan tulisan berikutnya.

Kamis, 12 Juli 2012

Gagasan menarik

DiMenna Children's History Museum di New York adalah sebuah museum sejarah yang dikhususkan untuk anak-anak. Museum ini merancang games museum untuk anak-anak yang diwujudkan dalam bentuk mengenal karakter yang pernah ada dalam sejarah imigran Belanda di New York. Museum ini  berada di bawah New-York Historical Society. Untuk lebih jelasnya silakan klik situs web gambar di bawah ini.




Jumat, 22 Juni 2012

Museum Herge



Sumber gambar: http://www.tintin.com/

Siapa yang tak kenal Tintin, sang reporter yang petualangannya menggetarkan hati? 
Museum ini berisi perjalanan hidup salah seorang seniman terbesar di abad keduapuluh, Herge,  melalui karya-karya sang seniman yang terdiri atas lebih dari 80 buah plat orisinal, 800 foto, dokumen, dan objek lainnya. Herge adalah seniman dengan bakat majemuk. Dia adalah seorang desainer grafis, penggambar karikatur dan kartun, ilustrator, sekaligus juru dongeng. Komik rekaannya bukan hanya Tintin, melainkan masih banyak lagi. Untuk lebih lengkapnya silakan jalan-jalan secara virtual ke museum ini. Brosur museum dapat diunduh di sini.
http://www.contemporist.com/2009/06/03/the-herge-museum-by-christian-de-portzamparc/


Sumber gambar: http://www.eyeflare.com/article/herge-museum-brussels/

Sabtu, 12 Mei 2012

Museum docent (lagi)

Tentang museum docent sudah pernah ditulis sebelumnya. Ini ada tulisan menarik tentang program pendidikan bagi calon docent di National Gallery of Art di Washington DC, Amerika Serikat. Selamat membaca (klik di sini).

Rabu, 09 Mei 2012

Kiriman buku

Hari Selasa (8 Mei 2012) di meja kerjaku ada sebuah paket dari Amerika Serikat. Ternyata kiriman buku! Alhamdulillah. Ini buku bagus tampaknya, judulnya Museum Volunteers: Good Practice in the Management of Volunteers, terbitan Routledge. 


Buku ini merupakan buku pedoman praktis tentang pemanfaatan tenaga sukarelawan sebagai tenaga interpreter di museum. 

Mengapa buku-buku semacam ini sulit masuk ke negeri kita ya? Minim peminatkah? Instansi pemerintah yang mengelola museum pun tampaknya enggan membelanjakan anggaran untuk pembelian buku. 

Sabtu, 28 April 2012

Martial Art History Museum

Sumber gambar www.martialartmuseum.com
Ini museum menarik. Koleksinya berupa berbagai benda yang digunakan dan berkaitan dengan seni bela diri, khususnya seni bela diri yang berkembang di Asia timur. Dalam sejarah singkatnya disebutkan bahwa museum ini merupakan museum pertama yang didedikasikan untuk seni bela diri Asia. Museum ini didirikan oleh Michael Matsuda pada tanggal 15 September 1999. Michael sendiri menyebut dirinya sebagai murid seni bela diri dan dia telah menjalankan aktivitas seni ini selama 45 tahun. Tujuan didirikannya museum ini adalah untuk memberikan pengalaman edukasional dan kultural tentang karya seni, musik, tradisi dan sejarah seni bela diri Asia. Untuk lebih jelasnya silakan lihat di sini ya.....

Jumat, 30 Maret 2012

Pemalsuan Arca Kuno di Museum

Berita ini sudah cukup lama namun masih cukup relevan sebagai pengetahuan bagi mereka yang berminat pada dunia permuseuman. Selamat mencermati.

Pemalsuan Arca Terungkap Berkat Kotoran Burung

SOLO - Karena kotoran, dugaan pemalsuan arca perunggu di Museum Radya Pustaka Surakarta (MRPS) terbongkar. Memang, bukan sembarang kotoran yang menempel di arca. Tetapi, kotoran itu sering disebut para arkeolog sebagai patinasi. Yakni, kotoran berwarna hijau yang menempel di arca perungu.

Para arkeolog terhenyak karena kotoran yang menempel di puluhan arca perunggu MRPS adalah patinasi baru. Bukan kotoran lama yang jamak ditemukan pada arca berusia tua.

Hal tersebut diungkapkan D.S. Nugrahani, arkeolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Jogjakarta. Dia adalah salah seorang konsultan reinventarisasi koleksi MRPS beberapa waktu lalu.

''Salah satu yang membedakan arca perunggu asli dan palsu adalah adanya patinasi. Biasanya pemalsu juga membuat patinasi. Tetapi, patinasi buatan itu pasti akan kelihatan. Patinasi buatan berbeda dengan yang asli di arca tua. Patinasi di arca kuno pasti tidak merata,'' kata staf pengajar Jurusan Arkeologi Fakultas Ilmu Budaya UGM itu.

Selain patinasi, hal yang mengungkap arca perunggu palsu di ruang pajang koleksi perunggu MRPS adalah canon. Nugrahani yang juga ahli ikonografi (cabang seni sejarah yang mempelajari identifikasi, deskripsi, dan interpretasi isi gambar atau simbol) mengatakan, canon adalah pakem arca pada setiap masanya. Menurut dia, canon juga bisa diartikan sebagai ketentuan khusus untuk mengidentifikasi arca.

''Jadi ada semacam ketentuan khusus mengenai model, bentuk, dan ciri khusus di arca pada masanya. Misalnya, arca Buddha pada masa abad kesekian harus seperti ini. Atau, arca Siwa harus seperti ini. Hanya ahli atau arkeolog yang mengerti ini,'' lanjut Nugrahani.

Ditanya mengenai masa pembuatan arca-arca perunggu asli yang duplikatnya ditemukan di MRPS, Nugrahani mengatakan bahwa koleksi yang asli dibuat pada abad IV-XVI.

Masih terkait canon, Nugrahani mengatakan bahwa pemalsu arca bisa saja menggunakan teknik tertentu untuk menyempurnakan duplikasi arca asli. Dengan mata telanjang, hasilnya pasti akan sulit dibedakan antara arca asli dan arca palsu.

''Tetapi, tetap saja bisa dilacak kepalsuannya. Tentu dengan teknik tertentu pula. Misalnya, memeriksa logamnya di laboratorium. Dengan langkah itu, terdeteksi usia logamnya,'' lanjutnya.

Soal asal arca perunggu palsu di MRPS, Nugrahani kemarin mengatakan belum mengetahui perajin mana yang membuat arca itu. Dia belum menelisik asal arca lebih jauh setelah mengikuti inventarisasi. Lagi pula, kata dia, bukan perkara mudah untuk melacak perajin arca tersebut.

''Setahu saya sih di Trowulan, Mojokerto, Jawa Timur, ada banyak perajin arca perunggu. Tapi, apakah arca itu dari sana, saya tidak tahu. Kalau di Jawa Tengah, saya belum tahu adakah perajin perunggunya,'' katanya.

Meski belum mengetahui asal arca perunggu palsu itu, Nugrahani meyakini bahwa arca-arca palsu di MRPS tidak dibuat oleh satu perajin saja. Tapi, ada beberapa perajin arca perunggu. Dia mendasari keyakinannya itu dengan fakta bahwa di MRPS terdapat perbedaan tipe setiap arca palsu tersebut.

Dia mengaku prihatin ketika ditanya mengenai pemalsuan arca perunggu di MRPS. Sebagai arkeolog, dia merasa memiliki ikatan batin dengan arca-arca itu. Sebab, arca-arca tersebut adalah bahan kajian ilmiah yang sangat berarti. Karena itu, dia berharap agar semua pihak dapat berperan aktif melacak arca perunggu asli dan mengembalikan ke MRPS.

Dengan demikian, kata dia, arca-arca penuh sejarah itu bisa segera digunakan untuk bahan kajian ilmiah. Lantas, apakah Nugrahani juga bersedia membantu jika polisi memerlukan keterangan atas keahliannya?

''Ya, kalau memang diperlukan, saya akan membantu. Itu hal yang wajib bagi akademisi seperti saya. Sebenarnya ada beberapa teman di beberapa museum di Indonesia dan luar negeri yang menawarkan bantuan untuk melacak arca perunggu itu,'' tuturnya.

Seperti diberitakan, di antara 249 koleksi beragam kriya perunggu di MRPS, 85 buah berbentuk arca. Sayang, 52 arca di antaranya dinyatakan palsu dan diduga palsu oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jawa Tengah setelah reinventarisasi museum.(aw/den/jpnn/nw)

Senin, 26 Maret 2012

Penyimpanan Koleksi Museum Sonobudoyo Berantakan

REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA -- Penyimpanan koleksi (storage) Museum Sonobudoyo selama ini berantakan. Padahal dari hasil evaluasi sebelumnya, storage ini paling rawan. Ada koleksi yang terpisah-pisah yang harusnya jadi satu kesatuan. Koleksi wayang ditumpuk dan hanya dimasukkan ke box penyimpanan, tidak ada upaya untuk mengonservasi.

Hal itu dikemukakan Ketua Tim Evaluasi Museum Sonobudoyo, Dr Daud Aris, Jumat (16/3). "Inventarisasi museum Sonobudoyo yang ada selama ini 'bolong-bolong', ada yang tempatnya tidak diketahui, ada yang untuk pameran dan sebagainya," kata dia.

Koleksi museum Sonobudoyo, selain perekaman datanya tidak baik, kondisinya juga tidak bagus. Bahkan, kata dia, ada tempat penyimpanan yang kurang layak, terutama terlalu banyak terkena cahaya, sehingga koleksinya berubah warna. 

"Secara sekilas, sampai sekarang, sekilas sudah ada beberapa benda koleksi terutama tekstil yang rusak. Tapi, saya baru mengamati sekilas dari luar. Saya belum tahu di dalamnya seberapa banyak yang rusak," jelas Daud. 

Karena itulah, timnya bakal menghadapi banyak pembenahan di dalam museum. Dia merancang penataan museum dengan berbagai macam program, misalnya motivasi dan storage. Untuk tahap awal, kata dia, sebagaimana program yang sudah dijanjikan kepada Gubernur DIY Sultan Hamengku Buwono X, dilakukan inventarisasi yang dimulai Maret 2012. 

Diharapkannya, pada Agustus program inventarisasi selesai. Setelah itu, barulah bisa diperhitungkan berapa ruang yang dibutuhkan dan koleksi yang perlu dipajang. Diakui Daud untuk penataan total museum Sonobudoyo perlu waktu agak lama. 

Sabtu, 17 Maret 2012

Museum Buwono Keling Sekarat

Museum Buwono Keling terletak di Desa Punung, Kecamatan Punung, Kabupaten Pacitan, Provinsi Jawa Timur. Museum ini menyimpan kekayaan arkeologis sangat berharga dari situs Punung dan sekitarnya. Sayangnya saat saya berkunjung ke sana museum ini sedang ditutup untuk pengunjung umum. Beruntung saya mendapat izin masuk karena kunjungan ke sana dalam rangka penelitian. Petugas yang menemani mengatakan bahwa museum ini sudah dua bulan ditutup untuk umum karena semakin parahnya kerusakan yang terjadi. Untuk  lebih jelasnya silakan mencermati foto-foto di bawah ini.





Foto-foto oleh Julimar
Kondisi kerusakan ini sudah pernah diberitakan oleh beberapa media massa, di antaranya dapat dilihat di sini.