Jumat, 10 September 2010

Museum docent

Docent berasal dari bahasa Latin docere, yang artinya mengajar. Dalam museologi ada istilah museum docent. Istilah ini terutama lazim digunakan di Amerika Serikat. Menurut Wikipedia museum docent adalah tenaga sukarelawan yang dilatih untuk “...share their knowledge with a wide range of museum visitors on a regular basis.” Dalam konteks museum, institusi, maupun organisasi docent merupakan bagian penting dalam staf pegawai, meskipun kedudukan mereka “hanya” sukarelawan. Docent adalah juga edukator, yang memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang koleksi museum. Mereka juga dapat berfungsi sebagai pemandu, sekaligus peneliti yang melakukan penelitian dengan memanfaatkan fasilitas yang ada di museum.


Docent merupakan pengunjung museum yang ideal karena mereka terlatih untuk bertanya mengenai peragaan  museum dan tentang masalah-masalah kuratorial yang memberi informasi tentang peragaan. Docent akan memperkaya pemahaman kita tentang potensi museum sebagai lingkungan tempat belajar (Abu-Shumays dan Leinhardt, 2000).
Docent menekankan kegiatan-kegiatan instruksional tentang dunia museum. Komunitas docent cenderung menarik anggota masyarakat yang terpelajar dan menggabungkan orang-orang yang juga memiliki motivasi sangat tinggi sebagai pembelajar seumur hidup.
 
Di negara-negara maju, khususnya Inggeris dan Amerika Serikat, docent sudah menjadi profesi yang cukup diperhitungkan. Abu-Shumays dan Leinhardt melakukan kajian khusus tentang dua orang docent di tiga museum di Amerika Serikat. Kedua orang docent ini adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri untuk edukasi di bidang permuseuman. Mereka sudah lebih dari 50 tahun menjalankan profesinya sebagai docent, dengan sukarela pula. Melalui interaksi intensif dengan para kurator dan edukator di museum, docent menjadi jembatan penghubung antara museum dengan masyarakat. Mereka mampu menyampaikan pesan yang digagas pihak museum, sekaligus menampung masukan dari para pengunjung untuk perbaikan di museum yang bersangkutan. Menurut Abu-Shumays dan Leinhardt (2000), para docent dan pengunjung museum menggunakan objek, teks, dan eksibisi untuk melakukan interpretasi terhadap museum.

 
Di Indonesia profesi ini belum populer, apalagi jika dikaitkan dengan posisi docent sebagai sukarelawan (berarti tidak menerima honor/gaji). Pekerjaan permuseuman sendiri di Indonesia masih dianggap sebagai pekerjaan yang tidak menarik dan tidak menghasilkan secara finansial. Sebagian besar masyarakat kita belum mengenal museum secara utuh dan kunjungan ke museum belum menjadi suatu kebutuhan (Julianty, 2004). Di negara dengan tingkat pengangguran cukup tinggi dan pemenuhan kebutuhan primer masih tersendat-sendat seperti Indonesia, pekerjaan sebagai sukarelawan tampaknya masih sulit diterima. Masih banyak pegawai yang melakukan pekerjaan sampingan untuk mencari penghasilan tambahan demi memenuhi kebutuhan primer. Oleh karena itu pekerjaan sebagai sukarelawan yang tidak menerima bayaran, buat mereka tidak masuk akal. Lain halnya dengan negara-negara maju yang kaya. Mereka mampu dan mau menjadi sukarelawan karena  kebutuhan primer mereka sudah dipenuhi dengan baik sehingga mereka memiliki waktu luang untuk melakukan pekerjaan lain di luar pekerjaan regulernya, sekalipun tidak menerima bayaran.

 
Kondisi di atas tentu saja tidak harus dibiarkan selamanya. Bagaimanapun pendidikan (dalam hal ini melalui museum) adalah hal sangat penting jika sebuah bangsa ingin maju. Staf museum sebenarnya adalah juga edukator bagi masyarakat. Para edukator inilah yang banyak berperan dalam menyusun skenario peragaan dan menyajikannya kepada masyarakat. Pada waktu menyusun skenario peragaan para edukator museum berusaha keras menggabungkan visi/misi museum dengan kebutuhan masyarakat. Memang tidak mudah bagi museum dan para edukator untuk memenuhi kebutuhan dan keinginan masyarakat, namun mau tidak mau hal ini harus menjadi pertimbangan pengelola museum dan para edukator yang ada di dalamnya.

 
Menyatukan keinginan dan kebutuhan masyarakat dengan visi/misi museum tentunya memerlukan kiat tersendiri, dan museum di Indonesia belum lazim melakukan hal ini. Tahap awal adalah dengan melakukan penelitian pengunjung (audience research) secara serius dan terprogram secara reguler. Penelitian pengunjung dapat dilakukan dengan menyebarkan kuesioner, ataupun melakukan wawancara mendalam. Kajian etnografi akan sangat membantu dalam menggali keinginan dan kebutuhan pengunjung (akan dibahas tersendiri). Penelitian pengunjung ini harus dimasukkan dalam rencana pada waktu menyusun anggaran proyek bagi kegiatan museum. Sayangnya, pada umumnya penelitian pengunjung ini diabaikan karena dianggap tidak penting, atau dianggap membuang waktu dan biaya. Pengelola museum sering sudah puas dengan banyaknya kunjungan ke museum yang dikelolanya dan beranggapan bahwa museumnya menarik bagi masyarakat. Benarkah demikian? Penelitianlah yang akan membuktikannya. Di sinilah pentingnya peran docent bagi museum.

 
Sebetulnya ada baiknya jika profesi museum docent ini diperkenalkan kepada masyarakat kita. Seperti telah disebutkan sebelumnya, docent sebenarnya dapat menjadi alat untuk lebih memperkenalkan museum kepada masyarakat, sekaligus kesempatan bagi museum untuk melakukan apresiasi terhadap aspirasi masyarakat.
Museum bisa melakukan penawaran kepada pihak yang memang tertarik untuk belajar dan menjadi docent di museum. Pelakunya bisa guru, atau profesi lainnya dalam masyarakat sesuai dengan koleksi yang ada di museum dan latar belakang pendidikan yang dimiliki oleh calon docent tersebut. Docent pun dapat menggagas berbagai program dan aktivitas yang dapat melibatkan kerja sama museum dengan masyarakat. 

 
Adakah museum di Tanah Air yang mau membuka program museum docent ini? Adalah anggota masyarakat kita yang mau menjadi volunteer, sekaligus pioneer?

 
Saya yakin, suatu saat pasti ada. Jangan berhenti bermimpi, kata Andrea Hirata.
Julimar, 10/09/2010.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar