Selasa, 21 September 2010

Pendidikan di Museum


Kita sering mendengar museum disebut-sebut sebagai lembaga pendidikan informal yang dapat mendukung dan mendampingi lembaga pendidikan formal. ICOM (International Council on Museums) dalam definisinya tentang museum memasukkan pendidikan dalam salah satu fungsi museum.

Sekitar lima tahun yang lalu seorang pejabat tinggi di lingkungan tempat saya bekerja tegas-tegas menolak kata “pendidikan” diterapkan dalam konteks museum karena menurutnya pendidikan adalah ranah Departemen Pendidikan Nasional, BUKAN ranah museum! Benarkah demikian? Alangkah menyedihkannya jika semua pejabat tinggi berpikiran seperti itu. Pertanyaan mendasar kemudian muncul: sebetulnya pendidikan itu apa? Lalu, bagaimana sebenarnya bentuk pendidikan yang ditawarkan dan diberikan oleh museum kepada masyarakat?

Definisi
Secara definisi Kamus Lengkap Bahasa Indonesia menyebutkan bahwa pendidikan adalah “proses pengubahan sikap dan perilaku seseorang atau kelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan.” Jadi, berubahnya sikap dan perilaku tersebut dilakukan secara sadar (sengaja), karena kata yang digunakan adalah “pengubahan”, bukan “perubahan”.

Sekolah (termasuk perguruan tinggi) adalah lembaga formal yang menyelenggarakan pendidikan secara klasikal (di dalam kelas) dan terstruktur (ada silabus, atau kurikulum yang harus diikuti). Lembaga kursus menurut saya pada dasarnya adalah lembaga pendidikan formal juga karena diselenggarakan dengan menerapkan kedua pola di atas. Lawan dari pendidikan formal adalah pendidikan informal, yang tidak klasikal dan tidak terstruktur namun dapat memberikan dampak yang – bisa saja – lebih besar dibandingkan dengan pendidikan formal. Pendidikan informal terbentang luas di lingkungan kita. Alam terkembang menjadi guru, kata pepatah Minang. Atas dasar filosofi ini, siapapun bisa memberi pendidikan kepada kita melalui teladan dan pengalaman. Pendidikan pada dasarnya adalah tanggung jawab seluruh anggota masyarakat. Sayangnya, sebagian besar masyarakat kita masih memandang pendidikan secara sempit sebagai pengajaran. Tidak mengherankan jika keluar ucapan seperti disebutkan di muka dari seorang pejabat tinggi di instansi pemerintah. Sesungguhnya pengajaran adalah bagian dari pendidikan dan tujuan pendidikan adalah mengembangkan pengetahuan, ketrampilan, atau karakter seseorang (Julianty, 2005).

Pendidikan di museum
Seperti telah disebutkan di atas, pendidikan di museum bersifat informal. Ciri khas pendidikan di museum adalah diselenggarakan melalui sistem peragaan. Sistem peragaan meliputi benda peraga (objek atau koleksi museum), alur bercerita, pelabelan, tata cahaya, serta konteks antarobjek/antarkoleksi. Dengan kata lain, peragaan menyampaikan cerita melalui objek, dan museum memberikan “... tangible encounters with real objects.” (Rebbert, 2007). Orang datang ke museum karena ingin melihat apa yang diperagakan. Dari hubungan dengan objek inilah pengunjung mendapat pembelajaran. Apa yang Anda pikirkan ketika melihat fosil stegodon di Museum Geologi, atau ketika membaca teks pidato Bung Karno di Museum Konperensi Asia Afrika, atau ketika melihat replika prasasti Ciaruteun di Museum Sri Baduga? Apa yang ada di benak Anda ketika menyaksikan film tentang ekskavasi paleontologis gajah Blora di Museum Geologi, atau ketika menyaksikan film Bung Karno berpidato pada pembukaan Konperensi Asia Afrika yang ditayangkan di Museum Konperensi Asia Afrika? Beragam kesan dan tanggapan akan muncul dari setiap orang sesuai dengan daya persepsinya masing-masing. Tentang fosil stegodon, Anda mungkin akan berpikir betapa besarnya hewan itu, atau “oh, ternyata di Indonesia pernah hidup hewan sebesar itu”, atau “mengapa hewan itu sekarang tidak ada lagi, ke mana mereka?’ Dan mungkin masih banyak lagi. Pertanyaan-pertanyaan semacam ini akan menggiring orang untuk mencari jawaban dengan caranya masing-masing. Di sinilah proses pendidikan berlangsung. Di sini pintu berpikir terbuka sedikit demi sedikit, dan orang secara tidak sadar masuk ke dalam bidang ilmu yang sebelumnya mungkin tidak dikenalnya. Atau, bagi yang sudah mengenalnya, akan memandang ilmu tersebut dari sudut pandang yang berbeda dan memberi inspirasi kepadanya untuk mempelajarinya lebih lanjut (Rebbert, 2007).


Pendekatan integratif di museum
Di negara-negara maju sudah cukup lama berkembang tren pendekatan multidisipliner atau integratif dalam dunia pendidikan (Rebbert, 2007). Di Indonesia sepengetahuan saya kondisi ini masih dalam bentuk embrio (kalau dirawat akan lahir selamat, kalau tidak dirawat akan keguguran). Museum, terutama museum umum, menyimpan berbagai objek yang menjadi kajian berbagai bidang ilmu. Museum adalah lembaga yang multidisipliner sekaligus lintas-disipliner, dan oleh karenanya sangat sesuai dengan pendekatan tersebut. Melalui pendekatan integratif ini pihak museum dapat menyusun tata peragaan komprehensif yang melibatkan peran serta berbagai bidang ilmu. Mulai para ahli listrik yang mengatur tata cahaya hingga para pakar yang memberi narasi dan interpretasi terhadap objek. Tentu saja partisipasi aktif pengunjung tidak dapat dikesampingkan, malah ini merupakan sesuatu yang seharusnya terjadi dan terbangun ketika mereka mengamati objek di museum. Partisipasi pengunjung akan meningkatkan nilai pembelajaran baik bagi mereka maupun bagi para edukator di museum. Misalnya, pertanyaan pengunjung dapat memberi inspirasi kepada para edukator di museum untuk meningkatkan pelayanan demi meningkatkan pemahaman pengunjung.

Temu pakar
Temu pakar adalah bentuk lain dari pendidikan di museum. Pada kesempatan ini para pakar dapat menjelaskan objek atau koleksi museum yang dipelajari oleh disiplin ilmunya masing-masing. Di sini pengunjung akan mendapatkan wawasan baru tentang bidang ilmu tertentu yang mungkin ingin mereka geluti kelak (terutama untuk anak-anak). Anak-anak akan mendapat wawasan tentang betapa banyaknya bidang ilmu dan pekerjaan yang ada (bukan hanya dokter dan insinyur!).

Perlu diketahui, museum dan para pakar sebenarnya memiliki kesamaan. Keduanya, seperti dikatakan Rebbert (2007), memberikan pendidikan secara lebih efektif dengan cara menggabungkan metode didaktik tradisional dengan pengalaman pribadi. Untuk menegaskan hal ini Rebbert mengutip Stapp (1984) yang mengatakan bahwa “The museum ... should undertake to offer the public something of the caliber of experience enjoyed by the expert.”

Kelompok diskusi
Program pendidikan lain untuk masyarakat adalah diskusi, khususnya yang dilakukan dalam kelompok-kelompok kecil (maksimal sepuluh orang), dan diselenggarakan secara berkala. Diskusi bisa tentang objek/koleksi museum, bisa juga berupa diskusi buku, atau diskusi film. Topik diskusi bisa dipancing melalui pertanyaan sederhana seperti “mengapa stegodon tidak ada lagi?” Atau “mengapa gunung meletus?” Diskusi semacam ini akan membuat pengunjung belajar menjadi ilmuwan, dan membuat ilmuwan belajar menjadi “orang biasa”, dalam arti para ilmuwan ini belajar menyelami cara berpikir orang awam. Biasanya para ilmuwan bersikukuh dengan pikiran ilmiah njelimet yang menjengkelkan bagi orang awam.

Dalam kesempatan diskusi ini para ilmuwan dapat meluruskan berbagai miskonsepsi yang ada di masyarakat tentang koleksi museum. Contohnya, stegodon di Museum Geologi sering disebut mamut atau dinosaurus oleh pengunjung. Melalui diskusilah hal-hal seperti ini dapat diluruskan.

Outreach programme
Program ini memungkinkan museum mendatangi masyarakat di lingkungan tempat tinggal masyarakat tersebut. Program ini membuat para edukator di museum menyelami permasalahan yang ada di masyarakat melalui interaksi langsung dengan mereka. Bagi masyarakat ini tentu merupakan hal luar biasa dan menguntungkan karena untuk mereka yang tinggal jauh dari museum tidak perlu pergi jauh-jauh untuk datang ke museum. Ini juga merupakan bentuk perhatian museum kepada masyarakat.

Dalam kurun waktu 2002-2007 Museum Geologi melaksanakan program semacam ini dalam bentuk penyuluhan geologi ke sekolah-sekolah, khususnya ke sekolah di daerah rawan bencana dan sulit memiliki akses ke museum. Banyak hal berharga yang didapat para penyuluh (edukator) ketika itu, dan masyarakat pun mendapat jawaban langsung dari para penyuluh berkenaan dengan persoalan geologis di daerahnya. Sayang, karena satu dan lain hal program ini dihentikan pada tahun 2007.
***
Untuk mewujudkan semua program edukasi di atas tentunya harus dipahami bahwa museum membutuhkan kemitraan dengan lembaga formal maupun informal di masyarakat. Kolaborasi ini akan meningkatkan peran edukasional museum. Selain itu penyebaran informasi akan lebih meluas dan merata. Ketika kolaborasi mapan antara museum dengan lembaga pendidikan formal menjadi prioritas, maka koneksi dengan organisasi informal lainnya juga akan bermanfaat bagi komunitas setempat (Rebbert, 2007). Sebuah contoh menarik berikut ini yang dilakukan oleh The Bruce Museum di Amerika Serikat kiranya patut dicontoh.
Hal yang lebih menantang adalah melibatkan siswa dan mahasiswa dalam perencanaan program peragaan, dan banyak museum yang mendapatkan hasil lebih baik dengan melibatkan pelajar dalam pekerjaan permuseuman. The American Museum of Natural History memiliki sebuah program yang mempertemukan pelajar dengan para kurator museum yang memandu mereka dalam projek penelitian. The Bruce Museum melatih para pelajar sebagai edukator junior yang akan memimpin program-program usai-sekolah di museum tersebut, dan kami juga menawarkan kesempatan kepada mahasiswa PKL untuk mempelajari cara melakukan kurasi terhadap objek-objek sejarah alam. Seorang profesor paleontologi di Universitas Clemson, bekerja sama dengan Museum Geologi Universitas Bob Campbell, membuat kegiatan lapangan dan laboratorium bagi pelajar dalam konteks membangun sebuah peragaan. Hasilnya menguntungkan kedua belah pihak. Para mahasiswa belajar bagaimana mengkomunikasikan disiplin ilmu mereka kepada publik, dan museum mendapatkan tata peragaan baru.

Menarik bukan? Bagaimana menurut Anda? Marilah kita membiasakan diri mengunjungi museum dan belajar di museum! Kepada museum, mari kita menyusun program edukasi yang menarik dan beragam bagi masyarakat!

Bahan bacaan: Rebbert, Carolyn Rose, Role of Museums in Geoscience Education: A Perspective, dalam Leading Edge, October 2007.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar