Jumat, 17 September 2010

Baja dan Pelestarian Lingkungan

Baja adalah logam yang terdiri dari campuran besi (Fe) dan karbon (C). Baja biasa digunakan untuk membuat sesuatu yang membutuhkan struktur kuat, seperti kendaraan dan bangunan (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, 2007). Jadi baja bukanlah logam murni dan unsur besi lebih dominan dalam senyawa besi-karbon ini. Karbon pada baja berfungsi untuk meningkatkan kualitas baja, baik daya tariknya (tensile strength ) maupun tingkat kekerasannya. Untuk mendapatkan baja dengan kualitas tertentu seperti antikarat, tahan panas dan sebagainya, maka biasanya ditambahkan unsur lain seperti chrom (Cr), nikel (Ni), vanadium (V), atau molybdenum (Mo).
 
Baja sudah digunakan secara luas dalam beberapa peradaban kuno seperti Mesir dan Mesopotamia. Bukti arkeologis tertua tentang penggunaan baja berasal dari tahun 1400 SM. Kala itu baja banyak digunakan untuk membuat perkakas sehari-hari, termasuk senjata dan perkakas rumah tangga. Teknik pembuatan, pengolahan dan penempaan baja terus berkembang hingga saat ini, namun ada teknik kuno pembuatan senjata yang hingga sekarang masih dipakai yaitu teknik damaskus (damascene technique). Teknik modern pembuatan baja dimulai pada abad ke-19. Adalah Sir Henry Bessemer yang menemukan teknik pembuatan baja secara massal namun ekonomis.   

Menara Eiffel (www.eiffel-tower.us)
 
Baja sebagai bahan konstruksi bangunan mulai dikenal di Eropa sekitar tahun 1860-an. Ketika itu terjadi gerakan arsitektur modern yang secara tidak langsung dipicu oleh penemuan Sir Henry Bessemer tersebut. Menara Eiffel di Paris (Perancis) yang selesai dibangun pada tahun 1899 menjadi tonggak dunia konstruksi yang memanfaatkan material baja. Setelah itu di Amerika Serikat berturut-turut dibangun gedung pencakar langit yang menggunakan konstruksi baja, yaitu Flatiron Building (1902), Chrysler Building (1930), dan Empire State Building (1931). 
 
Perang Dunia II memicu semakin meluasnya penggunaan baja. Saat perang baja digunakan untuk membuat senjata dan perangkat perang lainnya, seperti tank antipeluru. Setelah perang usai, baja semakin banyak dipergunakan di dunia dan penggunaannya pun semakin variatif. Salah satu inovasi yang populer hingga saat ini adalah baja tahan karat (stainless steel). Di bidang konstruksi bangunan saat ini dikenal konstruksi baja ringan yang ditemukan pada tahun 1950-an. Penemuan baja ringan untuk konstruksi bangunan ini berperan besar dalam membantu pelestarian lingkungan. Bagaimanakah kaitan kedua hal ini? Berikut adalah artikel yang diambil dari majalah Rumah Ide edisi 10/IV.

 
Baja: Solusi kondisi lingkungan yang semakin kritis
Anda pasti telah mengetahui dan menyadari betapa kritis kondisi lingkungan kita sekarang. Hutan-hutan di Indonesia semakin terancam keberadaannya. Fenomena ini bisa dilihat dari semakin menyusutnya luas hutan yang kita miliki laju kerusakan hutan pada 1985-1997 tercatat mencapai 1,6 juta hektar per tahun. Angka ini bertambah menjadi 3,8 juta hektar per tahun pada 1997-2000.

Lalu, dampak apa yang kita rasakan dari kerusakan lingkungan yang sepertinya tidak terbendung ini? Sebagai catatan, besar hutan alam di Pulau Jawa saat ini hanya tinggal 4%. Sejak 1995 pulau dengan jumlah penduduk terbanyak ini telah mengalami defisit air sebanyak 32,3 miliar meter kubik setiap tahun. Bayangkan jika kondisi ini brelangsung terus-menerus sementara jumlah penduduk juga terus bertambah....bukan tidak mungkn kelangsungan hidup manusia ikut terancam!
Hutan yang berfungsi mengikat air hujan dan menyimpannya dalam bentuk air tanah juga berperan penting mencegah bencana seperti banjir dan tanah longsor. Selain itu, hutan merupakan sumber penyedia makan dan obat-obatan, juga tempat hidup sebagian rakyat Indonesia. Jika hutan hilang, otomatis kita akan kehilangan sumber makanan dan obat-obatan. Belum lagi fungsinya sebagai paru-paru dunia; sumber O2 dan penyerap CO2 yang menjadi penyebab utama global warming. Tak diragukan lagi, hutan sudah selayaknya kita jaga dan lestarikan! 

Di lain pihak, hutan dengan kayu sebagai sumber daya alam utamanya sangat diperlukan untuk memenuhi kebtuhan papan manusia. Hal inilah yang membuat sektor konstruksi menjadi salah satu penyebab utama pengrusakan lingkungan. Eksploitasi kayu sebagai bahan bangunan memiliki andil cukup besar dalam penyusutan hutan saat ini. Dan salah satu solusi yang dapat kita ambil adalah mencari bahan lain sebagai pengganti kayu. Baja merupakan salah satunya!
Dibanding kayu, baja memiliki lebih banyak keunggulan, di antaranya tingkat durabilitas yang tinggi (bisa bertahan 50-80 tahun), tahan api, stabil strukturnya (tidak mudah berubah), dan midah dirawat (tidak lapuk, atau tahan rayap). Sifat-sifat tersebut tidak kita temukan pada kayu. Dari segi harga, baja juga tergolong lebih murah. Proses pemasangannya pun lebih cepat dan praktis.Keistimewaan lain yang tidak dimiliki kayu adalah baja dapat didaur ulang. Baja bekas dapat diolah dan dapat digunakan kembali. Hal ini tentu mengurangi energi yang harus dikeluarkan dalam penambangan bijih besi – bahan baku baja. Tidak hanya itu, energi yang digunakan untuk mendaur ulang baja lebih sedikit dibandingkan energi membuat baja baru dari bahan mentah. Penghematannya bisa mencapai 75%!
Kini sebagian besar negara industri lebih mengutamakan penggunaan baja daur ulang daripada baja baru. Selain prosesnya lebih murah dan hemat enegi, langkah ini juga mengurangi kerusakan lingkungan akibat pembukaan penambangan baru. Bahkan bajatercatat sebagai salah satu material yang paling banyak didaur ulang di dunia.
Adalah langkah bijak jika Anda mulai berpikir untuk menggunakan materi ini dalam konstruksi bangunan, khususnya baja daur ulang. Anda tidak perlu khawatir mengenai kualitasnya, sebab proses daur ulang sama sekali tidak mengurangi kandungan dan kekuatan baja itu sendiri. Selain untuk keperluan konstruksi, baja untuk bidang otomotif, kontainer, dan perkakas merupakan jenis-jenis yang paling sering didaur ulang. (GT)
Nah, bagaimana dengan Anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar