Selasa, 05 Oktober 2010

Masih Ada Museum Tak Punya Toilet

Senin, 27 September 2010 | 18:46 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sampai sekarang masih ada museum di Indonesia yang tidak punya fasilitas toilet umum. Kalau pun ada, kondisinya masih belum sesuai dengan standar yang diharapkan. Bahkan, yang mendapatkan Penghargaan Sapta Pesona, toiletnya kalau disamakan sistemnya dengan hotel berbintang, baru kelas bintang tiga. Belum bintang lima.

Kenyataan itu diungkapkan Direktur Jenderal Pengembangan Destinasi Pariwisata Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata RI, Firmansyah Rahim dan Juri Kehormatan Penghargaan Sapta Pesona Toilet Umum Besrih, Ny Triesna Wacik, Senin (27/9/2010) di Jakarta.

Dari 275 museum yang dikirimi undangan untuk mengikuti Lomba Toilet Bersih, yang ikut hanya 53 museum, dengan rincian 38 museum pemerintah dan 15 museum swasta/yayasan. Dari 53 museum peserta, hanya 51 yang dinilai. "Satu museum mengundurkan diri dan satu museum lagi tak bisa dinilai, yakni Museum Sultan Mahmud Badaruddin II, di Palembang, Sumatera Selatan, karena tidak mempunyai fasilitas toilet," kata Firmansyah.

Triesna Wacik mengatakan, lima museum swasta/yayasan dan 10 museum pemerintah penerima Penghargaan Sapta Pesona, semuanya predikat cukup. "Ya, kelasnya baru bintang tiga, jauh dari kelas bintang lima. Pemberian penghargaan sebagai apresiasi serta untuk memotivasi para pengelola museum, dalam rangka menyukseskan Tahun Kunjungan Museum 2010," tandasnya.

Peringkat lima terbaik museum swasta yang peroleh Penghargaan Sapta Pesona adalah Museum Satwa, Malang, Jatim. Kemudian disusul, peringkat kedua, Museum Rahmat Internasional Wild Life, Medan. Di peringkat tiga, Museum Rudana, Ubud, Bali. Di posisi keempat Museum Rumah Budaya Tembi, DI Yogyakarta, dan peringkat lima Museum Ulen Sentalu, Sleman, DI Yogyakarta.

Untuk kategori museum pemerintah, peringkat 1-10 berturut-turut: Museum Gunung Api Batur (Kintamani, Bali), Museum Seni Rupa Keramin (DKI Jakarta), Museum Neheri La Galigo (Sulsel), Museum Perangko Indonesia (DKI Jakarta), Museum Bahari (DKI Jakarta), Museum 10 November Surabaya (Jatim), Museum Geologi Bandung (Jawa Barat), Museum Benteng Vredeburg (DI Yogyakarta), Museum Joeang 1945 (DKI Jakarta), dan Museum Sono Budoyo (DI Yogyakarta).

Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Jero Wacik mengatakan, pengelolaan toilet umum bersih di tempat-tempat wisata seperti bandara, museum, dan obyek wisata selain meningkatkan mutu produk wisata sehingga memiliki daya saing, juga sebagai cerminan budaya dan jatidiri bangsa. "Gerakan toilet umum bersih merupakan gerakan pencitraan budaya dan jatidiri masyarakat Indonesia," ujarnya.

Menurut Wacik, Penghargaan Sapta Pesona semacam ini ke depan akan terus dilaksanakan, tidak hanya terbatas pada pengelola toilet umum di bandara dan museum, tetapi akan diperluas pada toilet di obyek dan daya tarik wisata. "Kalau toilet bersih, itu cerminan budaya bangsa dan citra pariwisata Indonesia yang berdaya saing.," katanya.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar