Minggu, 10 Oktober 2010

Museum tradisional vs. Museum modern

Museum sebagai sebuah lembaga terus mengalami perkembangan. Pemikiran-pemikian baru mengenai pengelolaan museum terus bermunculan, terutama di negara-negara maju. Di Indonesia sendiri pemikiran tentang permuseuman masih sangat terbatas, jika tidak mau dikatakan stagnan. Museum-museum di Indonesia sepanjang pengetahuan saya masih berada pada tahap perkembangan museum-museum di Eropa dan Amerika Serikat tahun 1950-an.  Dalam literatur permuseuman dikenal istilah museum modern dan museum tradisional. Apa dan bagaimanakah museum tradisional dan museum modern itu?
Hauenschild (1988) mengemukakan skema perbandingan antara keduanya, yaitu:

Skema museum modern:
1. Tujuan: berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, pengembangan sosial.
2. Prinsip dasar: orientasi publik yang radikal dan ekstensif, teritorialitas
3. Struktur dan organisasi: institusionalisasi kecil, pendanaan melalui sumber lokal, desentralisasi, partisipasi, tim kerja berdasarkan kesamaan hak
4. Pendekatan: subjek: realitas kompleks; interdisipliner; berorientasi pada tema; menghubungkan masa lalu dengan masa kini dan masa depan; kerjasama dengan organisasi lokal/regional
5. Tugas: koleksi, dokumentasi, penelitian, konservasi, mediasi, pendidikan berkesinambungan, evaluasi.

Skema museum tradisional:
1. Tujuan : preservasi dan proteksi materi yang sudah ada
2. Prinsip dasar: proteksi objek
3. Struktur dan organisasi: institutionalisasi, pendanaan dari pemerintah, gedung museum menjadi pusat, staf yang profesional, dan struktur yang hierarkis.
4. Pendekatan: subjek ditarik dari realitas (objek ditempatkan di museum), ada pembatasan yang berorientasi disiplin ilmu, berorientasi pada objek, dan berorientasi pada masa lalu. 
5. Tugas: koleksi, dokumentasi, penelitian, konservasi, dan mediasi.

Melihat kedua skema di atas tampak bahwa museum-museum di Indonesia masih bersifat tradisional dalam mengelola lembaganya. Yang ingin saya garisbawahi adalah staf yang profesional, yang ada pada kedua skema di atas. Apakah staf museum-museum di Indonesia sudah profesional? Rasanya sulit mengatakan YA. Mungkin hanya beberapa gelintir saja yang memiliki profesionalitas di bidang permuseuman. Selebihnya, kecemplung di dunia museum di luar kehendak bebasnya. Jadi bisa dibayangkan bagaimana profesionalitasnya. Menurut kamus kata “profesi” yang berasal dari bahasa Inggeris profession adalah pekerjaan tertentu, khususnya yang mensyaratkan pendidikan lanjutan atau pelatihan khusus. Sedangkan profesional berarti mengerjakan pekerjaan secara bersungguh-sungguh sesuai dengan profesinya dan menjadikan pekerjaan tersebut sebagai sumber penghasilan utama (Oxford Advanced Learner’s Dictionary of Current English, 1974).Profesi permuseuman di kalangan masyarakat kita bukanlah profesi yang populer. Bahkan bagi pegawai museum sendiri menjadi pegawai museum belum menjadi kebanggaan sebagaimana layaknya kebanggaan yang dimiliki para pegawai bank.

Hal kedua yang perlu digarisbawahi adalah aspek pendanaan yang bersumber dari pemerintah pada skema museum tradisional. Ini juga menjadi kendala tersendiri bagi perkembangan dan pengembangan museum. Selama museum tidak memiliki sumber dana independen yang dapat dikelolanya sendiri maka akan sulit baginya untuk merancang rencana pengembangan, apalagi mewujudkannya. Inilah yang justru terjadi pada museum-museum di Tanah Air, khususnya museum-museum milik pemerintah.

Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar