Rabu, 27 Oktober 2010

Museum dan koleksi foto-foto lama

Apa yang dapat kita lakukan dengan foto-foto lama? Museum bersejarah biasanya memiliki sejumlah koleksi foto lama, baik foto museum itu sendiri maupun foto-foto lain tentang kurun waktu tertentu. Foto-foto seperti ini biasanya langka dan menjadi koleksi yang menarik, dan dapat menjadi komponen kuat dalam koleksi museum. Foto yang menangkap suasana tertentu dalam waktu dan tempat tertentu di masa lalu dapat menjadi jendela untuk meneropong masa lalu. Karena sifat foto yang statis maka foto dapat menjadi artefak dalam sebuah peragaan di museum. Di balik sisi statis sebuah foto, terdapat kemampuan foto untuk “berbicara” kepada siapapun yang melihat dan menatapnya. Foto memberi kita kesempatan untuk berimajinasi membangun suasana sesuai dengan yang ditampilkannya.

Oleh karena itu, meskipun foto lama merupakan arsip untuk masa depan, akan jauh lebih baik jika museum memamerkan foto-foto lama tersebut kepada pengunjung dalam sebuah peragaan khusus. Bantuan teknologi modern yang sangat berkembang pesat dewasa ini akan memberi nilai tambah pada koleksi foto lama. Foto-foto lama dapat ditampilkan berbeda dengan sedikit modifikasi untuk menambah kesan artistiknya. Orang biasanya tertarik melihat koleksi foto lama, meskipun mereka tidak memiliki ikatan emosional dan personal dengan apa yang ada dalam foto tersebut.  Berikut ini beberapa gagasan untuk koleksi foto lama yang ada di museum.

1.    Pameran foto. Dengan adanya alat pemindai kita dapat memindai foto-foto lama untuk menghindari kerusakan yang bisa terjadi pada benda aslinya. Hasil pemindaian ini dapat dipamerkan kepada publik. Digitalisasi foto merupakan bagian penting dari kegiatan museum. Jika foto asli yang dipamerkan, dikhawatirkan foto akan pudar terpapar cahaya lampu di area peragaan. Jika dipindai maka kekhawatiran tersebut bisa diminimalisir seoptimal mungkin. Setelah dipindai foto-foto asli  disimpan dalam tempat khusus, dan hasil pindaian ini saja yang diolah untuk berbagai keperluan.

2.    Diskusi atau ceramah umum dengan memanfaatkan koleksi foto lama. Seperti telah dikemukakan sebelumnya, orang biasanya tertarik melilhat foto-foto lama. Buatlah kegiatan khusus, misalnya ceramah umum, berdasarkan koleksi foto yang kita miliki. Pertama, pilih tema apa yang akan disampaikan. Misalnya, tentang para kepala negara yang mengikuti Konperensi Asia Afrika (untuk Museum KAA), tentang kegiatan pertambangan di zaman Belanda (untuk Museum Geologi), tentang kantor pos di zaman Belanda (untuk Museum Pos), dan seterusnya. Banyak pesan yang dapat kita sampaikan melalui kegiatan semacam ini, mulai dari masalah lingkungan, sejarah kota, kondisi sosial budaya, pelestarian bangunan dan kawasan bersejarah, dan lain sebagainya.

3.    Pameran foto secara online. Unggah foto-foto lama ke situs museum kita atau situs jejaring sosial. Pilih foto secara periodik (misalnya per minggu) dan undang orang untuk mengomentari atau memberikan kesannya tentang foto yang ditampilkan. Bisa juga kita memancing orang untuk menebak foto yang ditampilkan.

4.    Menerbitkan koleksi foto dalam bentuk buku. Buku yang berisi koleksi foto lama akan menjadi daya tarik tersendiri di toko cendera mata museum. Apalagi jika foto-foto itu berkaitan erat dengan museum itu sendiri. Pilih foto-foto terbaik, lakukan studi khusus dan kumpulkan data sebanyak mungkin tentang peristiwa yang terekam dalam koleksi foto lama kita agar kita dapat memberikan keterangan detil dan akurat kepada orang yang menikmati foto-foto tersebut. (Julimar 27/10/2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar