Kamis, 07 Oktober 2010

Mengapa emas murni kadarnya 24 karat, bukan 100 karat?


Sumber foto: www.wikimedia.org
Istilah karat berasal dari bahasa Yunani keration yang kemudian diambil oleh bahasa-bahasa lain menjadi carat (Perancis), carato (Italia) dan qirat (Arab) yang berarti kacang polong. Pada zaman dulu biji-bijian sering digunakan untuk menakar benda berkuantitas keciil. Satu qirat sama dengan 4 butir kacang polong. Mulai tahun 1575 ukuran ini digunakan untuk menakar berat berlian. Ukuran keration Yunani ekuivalen dengan ukuran siliqua Romawi yang beratnya sama dengan seperduapuluhempat koin emas di zaman kaisar Konstantin dari Byzantium Timur. Sejak saat itu karat berarti “bagian dari seperduapuluhempat” dan ditetapkan menjadi ukuran untuk mengukur kadar kemurnian emas (bukan beratnya). Dengan demikian emas 24 karat adalah emas murni (tidak ada campuran logam lain). Emas 22 karat berarti terdiri dari 22 bagian emas, 1 bagian tembaga dan 1 bagian perak.

Saat ini sistem karat diperluas menjadi sistem millesimal, yang diterapkan untuk mengukur kadar kemurnian campuran platina, emas, dan perak. Sistem ini lebih mudah dipahami karena menghitung bagian-bagian per seribu logam murni yang terkandung dalam suatu campuran logam (alloy). Jadi, jika disebutkan emas 750 berarti kandungan emasnya 75%, dan sisanya adalah logam-logam lain. Sistem millesimal menggunakan tiga angka bulat seperti contoh di atas. Di toko-toko emas saat ini orang pada umumnya tidak menggunakan karat melainkan menyebutkan prosentasi kadar emas, misalnya dengan menyebutkan emas 70, emas 80, yang berarti kandungan emasnya 70% dan 80%.
(Julimar 2006, dari berbagai sumber)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar