Senin, 03 Januari 2011

Citarum: Sungai terkotor di dunia?


 





Apa yang terjadi bila sembilan juta orang membuang sampah ke sungai, dan banyak pabrik membuang limbah berbahayanya ke situ? Sungai itu akan seperti Citarum (Jawa Barat, Indonesia)! Citarum dipadati sampah plastik, dibebani limbah kimiawi dan kotoran manusia. Satu generasi yang lalu Citarum merupakan aliran sungai yang tenang tempat hidupan liar menikmati air yang bersih dan jernih, dan penduduk sekitar menangkap ikan setelah bertanam di sawah.

Sekarang penduduk sudah tidak bisa lagi menangkap ikan, sebagai gantinya mereka kini memulung sampah dari permukaan sungai, mengais rizki yang mungkin masih bisa didapat dengan cara menjual barang rongsokan yang masih laku dijual. Industrialisasi yang marak tahun 1980-an mengakibatkan tumbuhnya lebih dari 500 pabrik di sepanjang  aliran Citarum yang panjangnya sekitar 300 km. Limbah kimiawi hasil olahan pabrik tekstil masuk ke sungai ini. Sampah yang menumpuk di permukaan sungai adalah akibat dari kurangnya pelayanan pengangkutan sampah di kawasan sekitar Citarum. Semua rumahtangga, pabrik, dan bangunan-bangunan lain di sepanjang sungai membuang sampah rumahtangganya ke situ karena tidak ada lagi tempat untuk membuang sampah.

Banyak orang di sekitar sungai yang masih mengambil air Citarum untuk memasak, minum, dan mencuci pakaian. Mereka tidak punya pilihan lain karena hanya itulah satu-satunya sumber air yang dekat.

Tahun 2008 yang lalu Bank Pembangunan Asia (Asian Development Bank - ADB) meluluskan pinjaman sebesar 500 juta dolar AS (sekitar 1,69 triliun rupiah!) kepada pemerintah Indonesia hanya untuk membersihkan sungai ini. Waah!!!!

Tidak diketahui benar apakah Citarum memang sungai terkotor di dunia karena sejauh ini belum ada kajian yang memberi kesimpulan demikian. Banyak juga sungai lain yang juga sangat kotor, dan kebanyakan terletak di Asia. Sebagian masalah ini sebenarnya disebabkan oleh negara-negara kaya seperti Amerika yang membayar negara-negara miskin di Asia untuk menerima sampah mereka. Yang paling banyak adalah sampah elektronik dari negara-negara kaya tersebut karena rakyat negara kaya mengganti peralatan elektronik yang sekarang sudah usang  dengan yang lebih baru. Banyak sungai di dunia akan mengalami nasib  sama dengan Citarum jika kita tidak mulai memperbaiki sistem sanitasi kita, dan sedapat mungkin membantu negara-negara lain untuk mengelola sampahnya.
Sumber gambar: http://www.kaskus.us/showthread.php?t=3082067

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar