Tampilkan postingan dengan label Geologi populer. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Geologi populer. Tampilkan semua postingan

Kamis, 21 Juni 2012

Geobatik

Batik merupakan karya seni khas Indonesia yang telah dikenal luas di masyarakat kita, bahkan hingga ke mancanegara. Alam menjadi sumber inspirasi bagi seniman batik untuk menuangkan gagasannya. Binatang dan tumbuhan kerap dijadikan ragam hias dan motif pada kain batik. Kini ada terobosan unik  yang dilakukan oleh salah seorang pensiunan pegawai Museum Geologi. Sang geolog yang acap mengintip berbagai jenis batuan dan mineral serta fosil di bawah kaca mikroskop itu kini membagi pengalamannya kepada masyarakat. Batuan, mineral, dan fosil yang biasanya diakrabi oleh ahli geologi kini bisa tampil cantik menjadi motif batik berkat kerja keras Bapak Priharjo Sanyoto dan kawan-kawannya di Georesearch.  Melalui penelitian yang dirintis sejak tahun 2001 kini Georesearch telah menghasilkan berbagai motif batik yang berasal dari motif sayatan tipis batuan, mineral, dan fosil.  Memang, batuan, mineral, fosil memiliki warna dan pola yang indah jika dilihat di bawah kaca mikroskop. Nah,  kini  masyarakat dapat menikmati keindahan batuan, mineral, dan fosil melalui produk yang diberi nama Geobatik ini. Silakan mencermati.





Foto-foto oleh Julimar

Kamis, 30 Desember 2010

Panas Bumi untuk Minyak Atsiri

KOMPAS.com — Indonesia, khususnya Garut, Jawa Barat, memiliki potensi yang sangat besar dalam industri minyak atsiri di dunia, terutama minyak akar wangi atau vetiver root oil. Selama ini puluhan penyuling akar wangi di Garut terjepit di antara dua persoalan: krisis bahan bakar dan tengkulak yang mencekik.

Kebijakan pemerintah akhir tahun 2005 tentang mengurangi subsidi bahan bakar minyak (BBM) dengan menaikkan harga BBM lebih dari 100 persen telah menempatkan para penyuling di ambang kehancuran. Biaya membeli minyak tanah sebagai bahan bakar utama penyulingan naik lebih dari dua kali lipat. Sementara harga minyak akar wangi kerap tak menentu akibat ulah para tengkulak.

Kondisi semakin sulit tatkala banyak penyuling yang ditangkap polisi gara-gara membeli minyak tanah dalam jumlah besar. Aturan pembatasan pembelian menjadi tembok penghalang menyakitkan bagi penyuling yang membutuhkan 250 liter minyak tanah untuk sekali menyuling selama lebih kurang 24 jam. Terlebih untuk bisa keluar dari jerat hukum mereka kerap ”menyetor” uang jutaan rupiah kepada polisi.

Dampaknya, kini, dari 30 penyuling akar wangi, 20 di antaranya kolaps. Lahan akar wangi seluas 2.400 hektar yang tersebar di lima kecamatan pun menyusut menjadi sekitar 1.000 hektar.

Baca selengkapnya di http://sains.kompas.com/read/2010/12/09/12560860/Panas.Bumi.untuk.Minyak.Atsiri

Jumat, 17 September 2010

Paleontologi

Dalam tulisan mengenai fosil telah disinggung tentang paleontologi. Tulisan ini adalah penjelasa singkat tentang apa yang dimaksud dengan paleontologi. Secara singkat paleontologi adalah ilmu yang mempelajari ekologi purba, evolusi dan keberadaan kita sebagai manusia di muka bumi, melalui fosil. Paleontologi menggabungkan berbagai pengetahuan dari bidang ilmu lain, seperti biologi, geologi, ekologi, antropologi, arkeologi, bahkan ilmu komputer untuk memahami proses-proses yang mengakibatkan asal-muasal dan hancurnya berbagai organisme sejak munculnya kehidupan. Ilmu ini memiliki beberapa cabang sebagai berikut.
  • Micropaleontology (paleontologi mikro): kajian yang secara umum mempelajari fosil mikroskopik (fosil berukuran sangat kecil yang hanya dapat dilihat melalui mikroskop).
  • Paleobotani: mempelajari fosil tumbuhan, termasu mempelajari fosil ganggang dan fosil jamur di samping fosil tumbuhan darat.
  • Palinologi: mempelajari serbuk sari dan spora, baik yang masih hidup maupun yang sudah memfosil, yang dihasilkan oleh tumbuhan darat dan protista.
  • Paleontologi invertebrata: mempelajari fosil binatang invertebrata seperti moluska, echinodermata, dan lain-lain.
  • Paleontologi vertebrata: mempelajari fosil binatang vertebrata, mulai ikan primitif hingga mamalia.
  • Paleontologi manusia (Paleoantropologi): mempelajari fosil manusia prasejarah dan fosil proto-manusia.
  • Taphonomy: mempelajari proses pembusukan, terawetkannya dan terbentuknya fosil secara umum.
  • Ichnology: mempelajari fosll jejak.
  • Paleoekologi: mempelajari iklim dan ekologi purba, yang tercermin dalam fosil maupun yang lainnya.
Di Indonesia belum ada museum khusus yang menampung koleksi paleontologis, padahal negara kita sangat kaya akan tinggalan paleontologis yang bermanfaat bagi ilmu pengetahuan. Di negara-negara maju biasanya lazim dijumpai museum-museum seperti ini di universitas terkemuka. Universitas California di Amerika Serikat adalah salah satunya. (Julimar 17/09/2010)

Baja dan Pelestarian Lingkungan

Baja adalah logam yang terdiri dari campuran besi (Fe) dan karbon (C). Baja biasa digunakan untuk membuat sesuatu yang membutuhkan struktur kuat, seperti kendaraan dan bangunan (Cambridge Advanced Learner’s Dictionary, 2007). Jadi baja bukanlah logam murni dan unsur besi lebih dominan dalam senyawa besi-karbon ini. Karbon pada baja berfungsi untuk meningkatkan kualitas baja, baik daya tariknya (tensile strength ) maupun tingkat kekerasannya. Untuk mendapatkan baja dengan kualitas tertentu seperti antikarat, tahan panas dan sebagainya, maka biasanya ditambahkan unsur lain seperti chrom (Cr), nikel (Ni), vanadium (V), atau molybdenum (Mo).
 
Baja sudah digunakan secara luas dalam beberapa peradaban kuno seperti Mesir dan Mesopotamia. Bukti arkeologis tertua tentang penggunaan baja berasal dari tahun 1400 SM. Kala itu baja banyak digunakan untuk membuat perkakas sehari-hari, termasuk senjata dan perkakas rumah tangga. Teknik pembuatan, pengolahan dan penempaan baja terus berkembang hingga saat ini, namun ada teknik kuno pembuatan senjata yang hingga sekarang masih dipakai yaitu teknik damaskus (damascene technique). Teknik modern pembuatan baja dimulai pada abad ke-19. Adalah Sir Henry Bessemer yang menemukan teknik pembuatan baja secara massal namun ekonomis.   

Menara Eiffel (www.eiffel-tower.us)
 
Baja sebagai bahan konstruksi bangunan mulai dikenal di Eropa sekitar tahun 1860-an. Ketika itu terjadi gerakan arsitektur modern yang secara tidak langsung dipicu oleh penemuan Sir Henry Bessemer tersebut. Menara Eiffel di Paris (Perancis) yang selesai dibangun pada tahun 1899 menjadi tonggak dunia konstruksi yang memanfaatkan material baja. Setelah itu di Amerika Serikat berturut-turut dibangun gedung pencakar langit yang menggunakan konstruksi baja, yaitu Flatiron Building (1902), Chrysler Building (1930), dan Empire State Building (1931). 

Kamis, 02 September 2010

Apakah fosil dilindungi oleh UU?

Fosil merupakan benda alam yang sangat berharga dan menarik. Orang tertarik mengumpulkan fosil karena bentuknya yang unik dan jarang didapat. Bagi orang kebanyakan fosil dapat menjadi benda penghias rumah. Bagi para ilmuwan, khususnya ahli paleontologi, fosil memiliki nilai ilmiah yang amat tinggi untuk menyingkap kehidupan masa lalu. Dengan mempelajari fosil kita dapat mengetahui jenis-jenis mahluk hidup yang pernah menghuni Bumi kita ini jutaan tahun yang lampau. Beberapa jenis fosiil memiliki nilai ekonomis tinggi seperti minyak bumi dan batubara.

Indonesia belum memiliki undang-undang yang secara khusus mengatur segala hal yang berkaitan dengan fosil. Peraturan menyangkut fosil sampai saat ini dimasukkan dalam UU No. 5/1992 tentang benda cagar budaya. Sebenarnya ini tidak tepat karena fosil adalah benda produk alam, bukan produk budaya. Dalam undang-undang ini fosil dimasukkan ke dalam benda cagar budaya dalam konteks temuan yang berasosiasi dengan benda-benda arkeologis. Namun setidaknya untuk sementara sudah ada peraturan yang melindungi fosil walaupun dalam lingkup kecil. Dalam UU tentang benda cagar budaya tersebut fosil termasuk dalam kategori yang tercantum dalam pasal 1 ayat 2, yaitu benda alam yang dianggap mempunyai nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan. Tentang boleh tidaknya fosil diperjualbelikan, kita dapat merujuk pada Pasal 15 ayat 2f UU No. 5/1992 tersebut, yaitu “tanpa izin dari pemerintah setiap orang dilarang untuk memperdagangkan atau memperjualbelikan atau memperniagakan benda cagar budaya.”
Amerika Serikat adalah negara yang sangat memberi perhatian besar pada upaya perlindungan benda-benda alam seperti fosil, dan mereka memiliki beberapa peraturan khusus terkait dengan hal tersebut, misalnya regulasi tentang Cultural and Paleontological Resources dan Vertebrate Paleontological Resources Protection Act. Jadi pemerintah dan rakyat Amerika Serikat menganggap fosil sebagai sumberdaya yang harus dilindungi. Indonesia belum sampai ke tahap tersebut, namun UU No. 5/1992 setidaknya sudah menunjukkan niat baik pemerintah dalam melakukan upaya perlindungan terhadap fosil. (Julimar, 24/09/2004)

Sabtu, 28 Agustus 2010

Fosil


Apakah fosil itu?


Fosil berasal dari bahasa Latin fossilis. Kata fossilis merujuk pada setiap benda yang didapat dari menggali tanah. Kata fosil mulai dipakai dalam geologi pada abad keenambelas. Pada masa itu yang disebut fosil meliputi mineral, artefak, dan benda aneh lainnya yang didapat dari dalam tanah. Saat ini pengertian fosil dibatasi pada sisa-sisa mahluk hidup (hewan, tumbuhan, manusia) yang telah terawetkan di dalam batuan. Ada dua macam fosil, yaitu fosil tubuh dan fosil jejak. Pada fosil tubuh yang terawetkan adalah tubuh organisma secara keseluruhan dan mengalami proses fosilisasi; sedangkan pada fosil jejak yang terawetkan adalah bekas-bekas suatu organisma seperti jejak kaki, jejak liang, atau jejak tumbuhan.


Mengapa kita mempelajari fosil?


Sudah sejak zaman kuno manusia mengenal dan mengoleksi fosil. Ketika itu fosil dianggap berharga karena dianggap mampu menyembuhkan orang sakit, mengusir arwah jahat, bahkan meminta jodoh. Tidak ada, atau setidaknya belum ada, yang mengetahui bahwa fosil adalah sisa mahluk hidup. Pada zaman modern barulah diketahui bahwa fosil merupakan sisa mahluk hidup dan keberadaannya dapat dimanfaatkan untuk ilmu pengetahuan. Dari fosil kita dapat membuat perkiraan tentang kehidupan masa lampau (lingkungan purba), atau mengetahui bentuk-bentuk awal suatu mahluk hidup (evolusi). Fosil juga dapat memberikan informasi tentang pola makan (paleodiet), dan lain sebagainya. Untuk lebih jelasnya bisa dilihat di bagian tentang kegunaan fosil.


Apa kegunaan fosil?


Ada beberapa kegunaan fosil, baik dari segi ilmu pengetahuan maupun kepentingan ekonomis. Dari segi ilmu pengetahuan fosil mengandung berbagai informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui bentuk-bentuk kehidupan di masa lampau dan lingkungan hidup tempat mahluk-mahluk purba ini pernah hidup. Salah satu bidang ilmu pengetahuan yang ada kaitannya dengan fosil adalah taksonomi. Taksonomi adalah ilmu yang mempelajari hubungan kekerabatan antarmahluk hidup baik yang telah punah maupun yang masih ada


1. dari segi taksonomi : fosil mengandung informasi morfologis sehingga ilmuwan dapat mengenal dan memberinya nama serta mengtahui hubungannya dengan organisma lain berdasarkan morfologi tersebut.


2. dari segi etiologi (ilmu tentang perilaku) : fosil memberi informasi tentng cara hidup suatu organisma yang dulu pernah hidup dan sekarang telah punah.


3. dari segi evolusi : fosil memberi informasi tentang proses evolusi yang terjadi di Bumi.


4. dari segi ekologi : fosil memberi informasi dan pemahaman tentang sifat dan perkembangan ekosistem dan tentang interaksi antara hewan dan tumbuhan dengan lingkungannya di masa purba.


5. dari segi lingkungan : organisma tertentu distribusi dan keragamannya terbatas pada lingkungan tertentu (disebabkan oleh faktor-faktor lingkungan). Keadaan lingkungan purba seperti salinitas, suhu, dan tingkat oksigen dapat diketahui melalui perbandingan antara organisma hidup dengan fosil.


6. segi kimiawi : susunan biokomia tubuh organisma yang satu berbeda dengan organisma lain dan melalui studi isotopik dapat diketahui suhu dan salinitas purba tempat organisma tersebut pernah hidup.


7. segi sedimentologis : fosil biasanya ditemukan berjenjang sesuai dengan lapisan pengendapan. Berdasarkan hal ini dapat diketahui proses sedimentasi yang telah terjadi di masa purba.


8. segi diagenetik : fosil memberi informasi tentang proses yang terjadi dalam sekuen sedimen yang menyertai kematian, proses terkuburnya organisma sampai pada saat penemuan organisma yang telah memfosil tersebut.


9. segi stratigrafi : fosil dapat memandu kolom stratigrafi yang ditentukan oleh batas waktu (time boundaries).


10. segi susunan pengendapan (way up) : urut-urutan sedimen dikenali melalui fosil yang ada di tiap lapisan umur sedimen. Berdasarkan hal ini dapat diketahui bahwa pengendapan terjadi dari bawah ke atas.


Mengenang letusan Krakatau

Hari ini, 127 tahun yang lalu alam menunjukkan kekuatannya. Kita merenung sejenak untuk bercermin betapa tidak berdayanya diri kita di hadapan kemahakuasaanNYA.


Krakatau sebelum letusan 1883 (http://www.geocities.com/)
Letusan besar Krakatau terjadi antara tanggal 26 dan 27 Agustus 1883. Puncaknya terjadi pada pukul 10.22 GMT tanggal 27 Agustus 1883, mengakibatkan runtuhnya sebagian besar badan gunung tersebut. Dua pertiga badan Krakatau lenyap. Kombinasi letusan dahsyat dan runtuhhnya gunung inilah yang mengakibatkan timbulnya gelombang tsunami yang menimbulkan kehancuran di sekitar Selat Sunda. Gelombang tsunami ini demikian kuatnya sehingga bongkah koral seberat 600 ton terlempar ke pantai, dan sebuah kapal perang hanyut hingga 3 km ke pedalaman serta terdampar pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut. Debu piroklastik hanyut hingga 40 km dari tempat kejadian, dan dentuman letusan terakhir terdengar hingga jarak 4500 km! Sebelum letusan, ketinggian Pulau Krakatau adalah 450 m di atas permukaan laut, dan setelah letusan 250 m tinggi pulau ada di bawah permukaan laut.

Tsunami raksasa yang diakibatkan oleh letusan Krakatau pada tanggal 26 Agustus 1883 mencapai tinggi 37 m, dan mengahancurkan 295 desa dan kota di Selat Sunda, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Korban tenggelam mencapai lebih daripada 36.000 jiwa. Tsunami ini tercatat hingga mencapai seluruh Pasifik.


Tsunami mencapai desa-desa terdekat di Sumatera sekitar satu jam setelah terjadinya letusan, begitu juga dengan pantai barat Pulau Jawa. Di Anyer gelombang mencapai ketinggian 10 m, sedangkan di Merak mencapai 35 m. Dua setengah jam kemudian tsunami dilaporkan mencapai Batavia (Jakarta) dengan ketinggian 2,4 m; tsunami sampai ke Surabaya dalam jangka waktu 11,9 jam, namun di bagian timur Jawa ini tingginya hanya 0,2 m.

Sumber: http://www.geocities.com/; http://www.earlham.edu/