Sabtu, 28 Agustus 2010

Mengenang letusan Krakatau

Hari ini, 127 tahun yang lalu alam menunjukkan kekuatannya. Kita merenung sejenak untuk bercermin betapa tidak berdayanya diri kita di hadapan kemahakuasaanNYA.


Krakatau sebelum letusan 1883 (http://www.geocities.com/)
Letusan besar Krakatau terjadi antara tanggal 26 dan 27 Agustus 1883. Puncaknya terjadi pada pukul 10.22 GMT tanggal 27 Agustus 1883, mengakibatkan runtuhnya sebagian besar badan gunung tersebut. Dua pertiga badan Krakatau lenyap. Kombinasi letusan dahsyat dan runtuhhnya gunung inilah yang mengakibatkan timbulnya gelombang tsunami yang menimbulkan kehancuran di sekitar Selat Sunda. Gelombang tsunami ini demikian kuatnya sehingga bongkah koral seberat 600 ton terlempar ke pantai, dan sebuah kapal perang hanyut hingga 3 km ke pedalaman serta terdampar pada ketinggian 10 m di atas permukaan laut. Debu piroklastik hanyut hingga 40 km dari tempat kejadian, dan dentuman letusan terakhir terdengar hingga jarak 4500 km! Sebelum letusan, ketinggian Pulau Krakatau adalah 450 m di atas permukaan laut, dan setelah letusan 250 m tinggi pulau ada di bawah permukaan laut.

Tsunami raksasa yang diakibatkan oleh letusan Krakatau pada tanggal 26 Agustus 1883 mencapai tinggi 37 m, dan mengahancurkan 295 desa dan kota di Selat Sunda, Jawa Barat, dan Sumatera Selatan. Korban tenggelam mencapai lebih daripada 36.000 jiwa. Tsunami ini tercatat hingga mencapai seluruh Pasifik.


Tsunami mencapai desa-desa terdekat di Sumatera sekitar satu jam setelah terjadinya letusan, begitu juga dengan pantai barat Pulau Jawa. Di Anyer gelombang mencapai ketinggian 10 m, sedangkan di Merak mencapai 35 m. Dua setengah jam kemudian tsunami dilaporkan mencapai Batavia (Jakarta) dengan ketinggian 2,4 m; tsunami sampai ke Surabaya dalam jangka waktu 11,9 jam, namun di bagian timur Jawa ini tingginya hanya 0,2 m.

Sumber: http://www.geocities.com/; http://www.earlham.edu/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar