Selasa, 24 Agustus 2010

Fungsi perkakas prasejarah (3)

Bukti-bukti diet prasejarah
 
    Rekonstruksi lengkap tentang diet prasejarah diperoleh dari sisa-sisa makanan di dalam perut mayat manusia prasejarah (jika mayat tersebut dimumikan seperti halnya pada beberapa kebudayaan Indian Amerika) dan dari kotoran manusia yang ditemukan di gua-gua kering dan situs-situs tempat tinggal mereka. Selain itu, bukti-bukti lain didapat dari tulang-tulang hewan yang telah disembelih untuk dimakan dagingnya ataupun diambil sumsumnya. Hewan-hewan buruan ini ada yang dibunuh di ladang perburuan dan bangkainya dibawa ke pemukiman. Ada pula yang dibawa ke tempat tinggal dalam keadaan masih hidup lalu disembelih di situ. Hampir semua bagian hewan dimanfaatkan : dagingnya tentu dimakan, ototnya dibuat tali, kulitnya dibuat pakaian, wadah, atau “rumah”. Tulang-tulang panjangnya dibelah dan diambil sumsumnya, beberapa diantaranya dibuat alat seperti mata panah, ujung harpun atau jenis alat untuk keperluan menguliti.
Palinologi (ilmu tentang serbuk sari) juga dapat mendukung dan menjadi sumber data bagi bukti-bukti subsistensi prasejarah. Melalui palinologi dapat diketahui tanaman apa saja yang tumbuh di lingkungan tempat hidup manusia prasejarah sehingga dengan demikian dapat diperkirakan sumber diet manusia prasejarah tersebut.

Penggunaan alat berkaitan dengan aktivitas subsistensi
    Manusia makan untuk hidup. Mengumpul dan meramu merupakan teknik yang paling sederhana dalam aktivitas mencari makan. “Alat” yang digunakan hanyalah lengan untuk mengangkut bahan maka yang terkumpul, kemudian tangan untuk memasukkan makanan ke mulut (Hoebel, 1958). Berbeda dengan hewan yang dapat mempergunakan alat tertentu untuk keperluan subsistensi, manusia tidak hanya mampu menggunakan alat tetapi juga menciptakan alat dan mengembangkan kebudayaan, dan sampai titik tertentu manusia dipengaruhi dan tergantung pada kebudayaan tersebut.
    Alat-alat yang diciptakan manusia tidak terbatas pada satu macam alat untuk satu macam keperluan. Satu alat dapat dipakai untuk berbagai keperluan, seperti memotong, menusuk, atau menyerut. Di samping itu manusia juga mengembangkan bentuk-bentuk alat sesuai dengan fungsi alat itu sehingga akhirnya ada alat tertentu yang dikhususkan untuk kegiatan tertentu. Misalnya, untuk menyerut diciptakan alat yang lebih halus dan dikerjakan dengan sangat cermat. Keanekaragaman alat ini juga memungkinkan manusia untuk mendapatkan aneka makanan dari berbagai sumber makanan sehingga terjadi diversifikasi pangan. Dengan kata lain, manusia bisa bertahan hidup karena dia tidak terspesialisasi pada satu aktivitas subsistensi tertentu. Hal ini membuatnya mampu mengatasi hambatan-hambatan dan gangguan yang disebabkan oleh alam.
    Berbagai macam batu, kayu, dan tulang digunakan manusia pada awal sejarahnya sebagai alat untuk mempermudah aktivitasnya. Manusia prasejarah berhasil membentuk batu menjadi alat yang disesuaikan dengan kebutuhan, dan dengan berbagai teknik mereka melakukan setiap kemungkinan dalam membentuk batu tersebut menjadi alat. Bentuk dasar yang diperoleh dalam pembuatan alat adalah dengan cara memotong dan menetak dengan menggunakan batu lain sampai dicapai bentuk yang diinginkan. Jenis batu yang dipakai biasanya berada di sekitar pemukiman mereka.
    Jenis alat atau piranti lain yang ditemukan dan diduga digunakan oleh manusia prasejarah adalah alat dari tulang, tanduk, dan kayu. Di daerah-daerah berhutan yang banyak timbernya kecenderungan pemakaian kayu sebagai perkakas lebih besar daripada pemakaian tulang atau tanduk.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar