Rabu, 18 Agustus 2010

Setelah PD II: perkembangan baru dan peran baru

Museum dan masyarakat
Tahun-tahun setelah PD II merupakan periode pencapaian luar biasa bagi museum. Hal ini tercermin baik pada kebijakan internasional maupun nasional dan pada masing-masing museum ketika museum-museum tersebut merespon masyarakat yang semakin terpelajar dan berubah dengan cepat. Museum menjadi fasilitas edukasional, sumber kegiatan hiburan, dan medium komunikasi. Kekuatan museum terletak pada fakta bahwa museum merupakan tempat penyimpanan “benda nyata”, yang – tidak seperti dunia plastik di sekitar kita, gambar hasil reproduksi, dan lingkungan alam dan manusia yang semakin rusak – dapat memberi inspirasi dan memicu rasa takjub, realitas, stabilitas, bahkan nostagia.

Khususnya di Eropa, ada periode rekonstruksi pascaperang. Selama perang banyak karya seni dipindahkan demi keamanan, dan sekarang harus diperbaiki serta diperagakan kembali; bangunan-bangunan juga harus dipugar. Pada beberapa kasus, museum dan koleksinya hancur; pada kasus lain koleksi museum dijarah (meskipun pada beberapa kasus ada ganti rugi). Rekonstruksi menyediakan kesempatan untuk mewujudkan gagasan yang telah muncul pada awal abad ini. Muncul pendekatan baru, dan pada pendekatan ini para kurator di museum-museum besar menjadi anggota tim yang terdiri atas berbagai ilmuwan sebagai konservator, para perancang yang membantu pekerjaan di peragaan, para edukator yang membangun fasilitas baik untuk pelajar maupun masyarakat, para ahli informasi yang menangani data ilmiah yang melekat pada koleksi, bahkan para manajer pemasaran untuk mempromosikan museum dan pekerjaan museum. Ada pergeseran jelas dari melayani ilmuwan (sesuai dengan institusi yang menyimpan banyak bukti primer dunia material) menjadi sekaligus penyedia jasa bagi masyarakat awam. Akibat dari inovasi ini museum mendapat popularitas baru dan menarik semakin banyak pengunjung. Kebanyakan pengunjung museum adalah wisatawan, dan pemerintah, khususnya di negara-negara Eropa tertentu, segera mengakui kontribusi museum bagi perkembangan ekonomi.

Data statistik dari Amerika Serikat memberikan indikasi meningkatnya jumlah museum dan kunjungan ke museum. Berdasarkan laporan tahun 1988, dari 8200 museum 75% berdiri sejak tahun 1950 dan 40% sejak tahun 1970. Di tahun 1970-an museum-museum di Amerika mendapatkan hampir 350 juta kunjungan per tahun; di tahun 1988 angka yang dilaporkan menjadi 566 juta kunjungan. Di berbagai tempat di Rusia museum negeri saja diketahui mendapat kunjungan sekitar 140 juta kunjungan per tahun, sementara beberapa museum yang tertua di Eropa – seperti the British Museum, the Louvre, dan the Hermitage – secara teratur menarik lebih daripada 3 juta kunjungan per tahun. Beberapa museum ilmu pengetahuan dan teknologi bahkan lebih populer lagi.

Di samping pertumbuhan tersebut, masih saja ada kesenjangan dalam keberadaan museum. Lebih dari duapertiga museum dunia ada di negara-negara industri, dengan perbandingan satu museum berbanding kurang dari 50.000 penduduk Eropa dan Amerika Serikat. Tetapi di India atau Nigeria, perbandingannya satu museum berbanding 1,5 juta penduduk.

Museum dan lingkungan
Di antara berbagai faktor yang berkontribusi pada perkembangan museum sejak pertengahan abad ke-20 salah satunya adalah meningkatnya kesadaran akan lingkungan dan kebutuhan untuk melestarikannya. Banyak situs ilmiah penting telah dilestarikan dan diinterpretasikan, kadang-kadang di bawah perlindungan taman nasional, dan situs serta bangunan bersejarah pun dipugar, kemudian dijadikan museum. Hal ini berujung pada berkembangnya lanskap sejarah dan alam sebagai museum, seperti halnya renovasi Mystic Seaport di Connecticut sebagai museum maritim, pemanfaatan Ironbridge Gorge sebagai museum untuk menginterpretasikan tumbuhnya Revolusi Industri di Inggeris, serta pemugaran kota-benteng abad pertengahan di Suzdal dan Vladimir di Rusia. Di Australia masa keemasan gold rush direka ulang dalam bentuk Sovereign Hill Historical Park, di dekat kota tambang emas Ballarat. Goree, sebuah pulau kecil di lepas pantai Senegal yang menjadi gudang utama bagi perdagangan budak di Atlantik, dipugar sebagai situs bersejarah dengan sejumlah museum pendukung.

Perkembangan yang berkaitan adalah ekomuseum, seperti Ecomuseum of Urban Community di Le Creusot-Montceau-les-Mines di Perancis. Di sini dilakukan eksperimen besar-besaran yang melibatkan masyarakat secara keseluruhan - bukan hanya para spesialis - dalam menginterpretasikan lingingan alam dan manusia, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih baik di antara penduduk tentang sebab-sebab terjadinya perubahan lingkungan, sosial, dan budaya. Sebagian proyek ini termasuk melakukan akuisisi dan preservasi artefak-artefak masif; tetapi tidak ada hal yang lebih spektakuler dibandingkan dengan mengangkat kapal dari dasar laut (misalnya kapal Vasa, kapal dinasti Sung dari Ch’uan-chou, kapal Mary Rose, ataupun gigi roda Henseatic dari Bremerhaven; semua kapal tersebut secara berturut-turut sekarang disimpan di museum di Swedia, Cina, Inggeris, dan Jerman).

Museum dan pendanaan publik
Perkembangan museum saat ini lebih dipengaruhi oleh berubahnya kebijakan di sektor keuangan publik. Di banyak negara kontribusi dana publik kepada museum tetap statis atau malah tidak ada, sehingga dewan pengelola dan direktur museum  harus mencari dana dari sumber-sumber alternatif. Hal ini tidak hanya berakibat pada cara mengelola museum tetapi juga pada penekanan akan perlunya keahlian pemasaran dan penggalangan dana. Jadi, karena museum negara di Rusia menerima otonomi anggaran yang lebih besar sejak runtuhnya Uni Soviet, maka the Hermitage di St. Petersburg mengambil ahli dan dana internasional untuk melaksanakan pekerjaan pembaharuan yang besar. Di Inggeris, the National Museum of Arms and Armour menggalang dana cukup besar dari sektor swasta untuk membangun Royal Armouries Museum di Leeds; selain itu, museum ini juga mendirikan perusahaan publik untuk menjalankan museum tersebut dibuka pada 1996.

Refleksi lain dari adanya perubahan situasi keuangan adalah dikenakannya biaya masuk museum. Pada tahun 1984 tak satupun museum nasional di Inggeris memungut biaya masuk, tetapi 10 tahun kemudian hampir setengahnya melakukan hal tersebut. Pada periode yang sama jumlah museum di Amerika yang memungut biaya masuk meningkat dari 32% menjadi 55%.

Museum dan koleksi baru
Meskipun ada keterbatasan dalam pendanaan publik, pemerintah tidak tinggal diam. Pada tahun 1982, misalnya, Australia membuka National Gallery od Art di Canberra. Juga National Gallery of Victoria diperluas sebagai bagian dari kompleks seni Melbourne, sementara Sydney’s Powerhouse Museum (1988) menjadi daya tarik utama di kota itu. Di Paris the Pompidou Centre (1977) menggabungkan galeri seni modern dan galeri pameran khusus dengan aktivitas budaya lainnya, sementara proyek “Grand Louvre” memasukkan pembukaan piramid (1989) dan renovasi sayap Richelieu, Denon, dan Sully ke dalam proyeknya – semuanya untuk memperbesar kapasitas Louvre. The Museum of London, yang menyatukan koleksi dari dua museum sebelumnya, dibuka tahun 1976 untuk menceritakan kisah ibukota dan lingkungan di sekitarnya. Pada tahun 1964 the National Museum of Anthropology, salah satu kompleks museum di Mexico City, membuka gedung barunya yang megah untuk memperagakan kekayaan arkeologi negara tersebut. The National Air and Space Museum (1976) dan the Hirshhorn Museum and Sculpture Garden (1974) ditambahkan ke dalam kompleks museum the Smithsonian. Perkembangan spektakuler dari segi arsitektur terjadi pada the Canadian Museum of Civilization di Hull, Quebec, yang dibuka pada 1989. Bangunan museum baru lainnya termasuk the Vasa Museum di Stockholm (1990), the Olympic Museum di Lausanne, Swiss (1993), dan the Holocaust Memorial Museum di Washington, D.C. (1993).

Banyak bangunan penting bersejarah diadaptasi menjadi museum rumah. Di antaranya adalah the Orsay Museum, yang dulunya merupakan stasiun keretaapi utama di Paris, yang dibuka kembali tahun 1986 sebagai museum nasional abad ke-19, dan Tate Galley of the North di Liverpool (1988), sebuah museum seni yang berada di dalam sebuah gudang di Albert Dock, di tepi sungai Mersey.

Perkembangan museum ini tidak terbatas pada negara-negara industri saja. Keinginan kuat untuk melestarikan sejarah setempat membuat pulau-pulau di Karibia membangun museum-museum kecil. Beberapa negara Afrika juga memberikan prioritas utama untuk keberadaan museum. Di Nigeria museum didirikan di kota-kota besar oleh National Museums and Monuments Commission untuk membantu membangun identitas budaya dan mendorong persatuan nasional. Salah satu museum tertua yang seperti ini, the Jos Museum, juga mengelola sebuah museum yang merupakan bangunan tradisional, sementara yang lainnya membuat bengkel kerja tempat dipertunjukkannya kerajinan tradisional. Seni kriya juga merupakan ciri National Museum di Niamey, Niger, dan hasilnya diekspor ke Eropa dan Amerika Utara.


Sumber: Encarta Encyclopaedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar