Kamis, 19 Agustus 2010

Film dan museum

Gambar merupakan bahasa universal untuk menyampaikan pesan. Sejak dahulu kala manusia sudah mengenal gambar untuk mengabarkan pengetahuannya kepada sesamanya, baik kepada kawan maupun lawannya. Gambar adalah simbolisasi fakta, dan merupakan sistem tanda. Bahkan huruf yang kita kenal sekarang pada mulanya adalah juga gambar, yaitu gambar yang melambangkan bunyi tertentu. Aksara Cina hingga saat ini masih mempertahankan sifat gambar tersebut, sehingga tidak disebut alfabet, melainkan karakter. Setiap tanda melambangkan karakter tertentu (karakter air, pohon, sungai, manusia, dan seterusnya). Karena sifatnya yang universal itu maka gambar dapat dipahami oleh semua orang yang pernah mengenal konsep yang dgambarkan tersebut sebelumnya. Itu pula sebabnya mengapa orang Jepang dan Korea dapat membaca dan memahami karakter Cina, meskipun berbeda dalam membunyikannya. 

Mengapa gambar?
    Fenomena optik sudah sejak lama menjadi perhatian manusia. Para ilmuwan masa klasik sudah membahas tentang pelangi, cermin, radiasi, bayangan, pantulan, dan cahaya (Lindberg, 1976). Mata dan penglihatan menjadi titik perhatian untuk diteliti. Melalui matalah kita menangkap seluruh fenomena dan mengirimkannya ke simpul-simpul saraf di otak yang kemudian mengolahnya menjadi informasi. Manusia adalah mahluk yang memiliki kecenderungan untuk meniru. Mereka pun meniru aneka fenomena alam yang dilihatnya dan menuangkannya ke dalam gambar melalui berbagai media. Mulai sekedar torehan ranting kering pada lempung, hingga lukisan di dinding gua.
Sejak masa prasejarah, manusia sudah membuat gambar di dalam gua tempat tinggalnya. Tema yang disampaikan biasanya aktivitas berburu dan upacara keagamaan. Dari gambar yang mereka buat kita jadi tahu jenis binatang yang hidup pada masa itu dan dijadikan sumber pangan mereka. Dari situ pula kita tahu tata cara perburuan dan senjata apa yang digunakan.


Dewasa ini kita pun hidup dalam lingkungan yang dipenuhi gambar, dengan segala macam ragamnya.  Ke manapun kita menengok, maka gambar akan menyergap kita dan membentuk kesan yang kuat di dalam benak. Jika kita berjalan-jalan sejenak maka kita akan melihat berbagai gambar dalam papan iklan, di badan angkot, di kaos T-shirt, di tas sekolah, di badan becak, bahkan di badan manusia (tato). Semuanya seakan beriklan dan menjelaskan identitas yang disandang. Yang sangat mendominasi adalah gambar dalam televisi, mulai iklan hingga film. Gambar dalam iklan televisi bahkan dapat membius penontonnya untuk mengikuti pesan yang disampaikan sehingga timbul gaya hidup konsumtif yang dipicu oleh iklan dalam televisi. 


Film adalah citra bergerak (moving image), atau gambar hidup (bioscoop). Jika gambar tak bergerak membuat kita bergerak untuk mengamatinya, maka film sebaliknya. Penonton film diam di tempat. Oleh karena itu penonton film tidak memiliki banyak waktu untuk memusatkan perhatian pada apa yang dilihatnya karena gambar dalam film bergerak sedemikian cepatnya. Film melibatkan hampir seluruh indera. Menonton film membutuhkan konsentrasi audio, visual, maupun perseptual dalam waktu singkat. Sedangkan pada gambar tak bergerak kita bebas mengatur waktu untuk mengamatinya. Namun film sebagai gambar bergerak memiliki fleksibilitas karena penonton dapat melihatnya dalam berbagai perspektif, sedangkan gambar tak bergerak hanya dapat dinikmati dari satu perspektif saja. Kekuatan film terletak pada kesinambungan perpindahan gambar dan logika berkisah. Film juga dapat membangun emosi tertentu bila dilengkapi dengan musik dan dialog/narasi yang memang dibuat untuk tujuan tersebut. Oleh karena itu film disukai sebagai alat propaganda, mulai propaganda rokok yang mengesankan kejantanan hingga propaganda politik yang menyesatkan. Tentu saja film pun dapat digunakan untuk mengampanyekan hal-hal positif, pendidikan misalnya.
 

Vaughan (dalam Crawford dan Turton, 1992) menyebutkan bahwa film memiliki dua sisi, yaitu sebagai catatan/rekaman (record), dan sebagai bahasa (language). Film sebagai catatan mengandung arti bahwa film bersifat mendokumentasikan peristiwa. Lebih khusus lagi peristiwa yang langka, atau tak mungkin terulang lagi. Dari sisi ini tampak betapa film dapat menjadi media sangat penting dalam menginformasikan sebuah peristiwa kepada generasi yang akan datang, yang tidak pernah melihat ataupun mengalami hal-hal yang ada dalam film tersebut. Film sebagai bahasa (language) mengandung arti film sebagai salah satu alat untuk menyampaikan pesan. Melalui film penonton diajak untuk merenungkan gagasan si pembuat film tersebut. Dengan film kita dapat menggiring massa untuk berpikir seperti yang kita inginkan. Film dapat mengharu biru perasaan, membangkitkan simpati dan membangun empati kepada sesama, bahkan memaki dan mencaci. Semua itu karena melalui film kita seolah melihat realitas yang terjadi, langsung di tempat kejadian.
    Sejalan dengan Vaughan, Bank (dalam Crawford & Turton, 1992) mengemukakan bahwa film memiliki sisi sebagai objek (object) dan sekaligus juga sebagai konsep (concept). Film sebagai objek merujuk pada kapasitas penyimpanan dokumen yang dimiliki pita seluloid (documentational capacities of celluloid strip), sedangkan film sebagai konsep merujuk pada kapasitas film sebagai produk sinematik (cinematic products). Jika ditelisik lebih cermat, maka kedua sisi film yang disifatkan baik oleh Vaughan maupun Bank memiliki semangat yang saling mendekati satu sama lain. Singkatnya, dengan film kita bisa menyimpan data/informasi, sekaligus menyebarluaskannya. Bahkan Hastrup (1992) menyebutkan film bukan hanya untuk memperoleh data tetapi juga untuk menciptakan data.

Film versus teks
Telah dikemukakan di atas bahwa film memliki “keunggulan” dibandingkan dengan teks, dalam arti film dapat mewujudkan khayalan yang didapat dalam teks. Jika dalam teks kita hanya akan membayangkan apa yang diceritakan, maka dalam film kita akan dibawa seakan kita mengalami sendiri peristiwa yang terjadi. Di samping itu, film memiliki konteks sosial yang kentara. Film dapat ditonton beramai-ramai, sedangkan membaca teks cenderung diam dan soliter. Namun bukan berarti yang satu lebih baik daripada yang lain. Dalam kondisi tertentu film/gambar pun tetap membutuhkan teks untuk memperkuat kesan yang hendak dibangunnya. Sebaliknya tekspun bisa saja membutuhkan film/gambar untuk “menyelaraskan” imajinasi pembacanya. Pandangan ekstrim menyebutkan bahwa film tanpa teks/narasi ibarat buku tanpa gambar. Kering.


Film dokumenter sebagai prasasti ilmiah
    Film dokumenter adalah film yang menceritakan fakta mengenai orang atau peristiwa tertentu. Gambar yang ditayangkan bisa pengambilan gambar di lokasi kejadian pada waktu peristiwanya terjadi, atau bisa juga gambar hasil reka-ulang peristiwa yang dibuat dengan bantuan rekayasa teknologi agar sesuai dengan kenyataan yang terjadi. Film dokumenter disebut juga film nonfiksi dan lawannya adalah film fiksi. Film dokumenter merupakan film yang sering digunakan untuk mengabadikan peristiwa-peristiwa yang tak mungkin terulang sehingga pada kasus tertentu film dokumenter memiliki nilai informasi yang tak ternilai. Contohnya, film tentang proses terjadinya kerusakan alam, tentang kerusuhan sosial, tentang pendakian gunung tertinggi untuk keperluan ilmiah, dan sebagainya. Film dokumenter dengan demikian juga dapat dimanfaatkan untutk mengabadikan aneka penemuan ilmiah di lapangan dan laboratorium. 


Contoh mutakhir adalah penemuan fosil gajah purba di Blora beberapa waktu yang lalu. Penemuan spektakuler ini berhasil diabadikan menjadi film dokumenter oleh tim audio-visual Museum Geologi. Dari film tersebut kita dapat mengetahui bagaimana cara kerja para ilmuwan di lapangan pada waktu menyelamatkan fosil tersebut. Diperlihatkan pula bagaimana kondisi fosil di lapangan, sebelum diangkat ke permukaan dan diangkut ke Museum Geologi. Gambar-gambar yang disajikan dapat menjawab pertanyaan dari banyak pengunjung Museum Geologi tentang bagaimana fosil ditemukan dan direkonstruksi. Selain itu film semacam ini juga dapat menggugah siswa yang menonton mengenai sebuah profesi yang mungkin ingin mereka geluti kelak. Film meningkatkan pemahaman kita akan sesuatu, termasuk saling pengertian terhadap sebuah perbedaan dan cara menyikapinya.

Film dan museum
Museum, yang salah satu fungsinya adalah pendidikan, dapat pula memanfaatkan film untuk menyampaikan informasi mengenai segala hal yang berkaitan dengan visi dan misinya. Film dapat menjadi salah satu sarana pembelajaran. Melalui film sebuah museum dapat menjadi agen perubahan. Dari film kita mendapat wawasan baru dan pemahaman mendalam tentang sebuah peristiwa sehingga mengubah cara berpikir dan cara pandang kita ke arah yang lebih membangun. Tentu saja film, seperti dikemukakan di atas, hanyalah sebuah alat. Dia dapat digunakan untuk kebaikan maupun keburukan, tergantung pemakainya. Film adalah produk budaya, dalam arti memiliki nilai. Ceritera dalam film bisa fiktif, atau hasil rekayasa dan modifikasi atas kisah nyata, namun nilai budaya tetap tercermin dalam produk film karena nilai-nilai itu inheren dalam diri sang pembuat film. Oleh karena itu film hampir selalu mengandung pesan yang akan meninggalkan kesan kepada penontonnya. Museum pun seyogyanya dapat menyajikan film-film yang mengetengahkan pesan kuat yang positif kepada masyarakatnya agar tercipta kesan yang positif pula tentang museum.


Sebagai lembaga yang berkaitan erat dengan dunia pendidikan Museum Geologi pun memanfaatkan film untuk menyampaikan informasi kegeologian. Berbagai proses geologi yang rumit dapat dijelaskan melalui film, khususnya film animasi. Teks dan gambar tentang proses-proses geologi yang tersaji di ruang peragaan akan lebih lengkap jika dialihmediakan menjadi film. Para siswa akan lebih mudah memahami film dibandingkan dengan membaca teks di ruang peragaan, yang membutuhkan waktu relatif lama. Dalam kondisi padat pengunjung, ruang peragaan Museum Geologi menjadi tempat yang tidak terlalu nyaman untuk membaca teks dan mengamati gambar diam. Kesan monoton akan langsung muncul. Benda peraga dan menonton film adalah solusi yang dapat ditawarkan kepada mereka. Benda peraga di ruang peragaan dapat menjadi pengalih perhatian sejenak setelah orang membaca teks dan mengamati gambar statis. Berganti-ganti membaca teks dan mengamati benda peraga mengurangi keterpakuan pengunjung pada satu titik pengamatan. Film, terlebih lagi, dapat menjadi pelengkap seluruh materi di ruang peragaan, di samping juga menjadi pengalih perhatian seperti disebutkan sebelumnya. Sekarang sudah saatnya museum memanfaatkan sarana multimedia (dalam hal ini film) untuk menjangkau masyarakatnya.
Film dapat digunakan sebagai perangkat pelengkap pendidikan kepada masyarakat dan dapat mendekatkan museum kepada masyarakatnya, serta menjembatani keduanya. Di sisi lain, pada kondisi tertentu film bahkan dapat menjadi pengganti perangkat pendidikan. Film dapat menjadi guru bagi penontonnya. Ketika museum tidak dapat hadir langsung kepada masyarakat, atau masyarakat tidak dapat datang ke museum secara fisik, maka film dapat menggantikan peran museum untuk sementara waktu. Karena film memiliki sisi sebagai alat merekam peristiwa dan penyampai pesan (informasi), maka film yang dibuat oleh museum sebaikmya memiliki konsep yang kuat agar film tersebut dapat menjadi objek yang bermanfaat bagi masyarakat. (Julimar 31/07/2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar