Rabu, 18 Agustus 2010

Menuju museum modern

Dari koleksi pribadi menuju pameran publik

Di bagian sebelumnya sudah dijelaskan bahwa museum modern dapat melacak asal-usulnya sampai ke koleksi pribadi yang dimiliki oleh orang-orang terkemuka selama masa Renesans. Sebagian koleksi Renesans ini merupakan simbol dari prestise sosial dan menjadi elemen penting dalam tradisi kaum bangsawan dan keluarga penguasa, tetapi dalam kurun waktu tersebut semangat mencari yang terus berkembang membawa pada usaha mengumpulkan berbagai makna dan tujuan yang berbeda sejalan dengan semakin luasnya kelompok praktisi yang ada. Para kolektor baru ini, karena menaruh perhatian pada kesenangan/hiburan dan kajian serta kemajuan pengetahuan, sekaligus juga menaruh perhatian pada keberlangsungan koleksi mereka, tidak memiliki penerus/pewaris. Jika jaminan ini tidak ada pada keluarga mereka, maka jalur suksesi harus didapat dari tempat lain, dan unit kerja sama menyediakan keamanan yang lebih besar. Kemudian, jika pengetahuan harus tetap penting, maka pengetahuan tersebut harus ditransmisikan kepada domain publik. Perpindahan koleksi dari domain pribadi ke domain publik inilah yang akan menjadi topik bahasan bagian ini.

Koleksi publik

Contoh tertua yang tercatat mengenai badan publik yang menerima koleksi pribadi muncul pada abad ke-16 dengan adanya wasiat dari dua bersaudara Domenico Cardinal Grimani dan Antonio Grimani kepada republik Venesia pada tahun 1523, yang ditambah dengan wasiat selanjutnya dari keluarga mereka pada tahun 1583. Motivasi pemberian wasiat ini tampaknya untuk mendorong keilmuwanan (scholarship) dan untuk menyokong kedudukan pemerintah. Pada masa Reformasi di Swiss, material ini diserahkan dari pejabat gereja kepada penguasa kota Zurich dan kota-kota lainnya, yang akhirnya membentuk komponen penting dalam museum mereka. Kota Basel, karena khawatir bahwa cabinet yang indah milik Basilius Amerbach akan diekspor, membeli cabinet itu pada tahun 1662 dan sembilan tahun kemudian menyusun peragaan cabinet tersebut di perpustakaan universitas. Pada tahun 1694 biarawan kepala di Saint-Vincent-de-Besanςon di Perancis menyerahkan koleksi lukisan dan medalinya kepada biara agar menjadi koleksi publik. Pada kadar tertentu perkumpulan kaum terpelajar yang baru ini juga merupakan tempat penyimpanan berbagai koleksi, demi mengembangkan perkumpulannya tersebut. Pada kasus koleksi Ole Worm, seperti halnya pada kasus lain, kurangnya minat di antara keluarga pemilik setelah kematian sang pemilik berakibat pada dialihkannya koleksi tersebut kepada cabinet di Kopenhagen pada tahun 1655.

Museum publik yang pertama

Museum Ashmole
Museum Ashmole, Inggeris (www.ukstudentlife.com)

Lembaga pertama yang menerima koleksi pribadi dan mendirikan sebuah bangunan untuk menyimpan semua itu, serta membuka koleksinya untuk umum adalah Universitas Oxford. Pemberi hibah adalah Elias Ashmole; koleksinya terdiri atas sebagian besar koleksi Tradescant, dengan syarat harus dibangunkan tempat untuk menyimpan koleksi tersebut. Bangunan dimaksud, yang kemudian dikenal sebagai Museum Ashmole, dibuka pada tahun 1683. (Museum Ashmole kemudian dipindahkan ke gedung baru di dekat bangunan lama, dan bangunan aslinya sekarang ditempati oleh Museum of the History of Science).



The British Museum
The British Museum (www.oberlin.edu)

Abad ke-18 adalah masa merebaknya zaman Pencerahan (Enlightenment) dan semangat ensiklopedik, serta tumbuhnya citarasa eksotik. Pengaruh-pengaruh ini - didorong oleh meningkatnya eksplorasi dunia,  perdagangan yang berpusat di Eropa baratdaya, dan  berkembangnya industri - sangat jelas pada waktu dibukanya dua museum terkemuka di Eropa, yaitu the British Museum di London pada tahun 1759 dan Louvre di Paris pada tahun 1793. The British Museum dibangun sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah untuk merawat dan melestarikan tiga koleksi “yang bukan hanya untuk penelitian dan kesenangan kaum terpelajar dan mereka yang penuh rasa ingin tahu, melainkan juga untuk dimanfaatkan oleh masyarakat umum”. Ketiga koleksi tersebut disimpan di Montagu House di Bloombury, yang khusus dibeli untuk keperluan ini. Koleksi dimaksud merupakan benda-benda yang dikumpulkan oleh Sir Robert Cotton, Robert Harley (Earl of Oxford pertama), dan Sir Hans Sloane. Koleksi Cotton dan Harley sebagian besar berupa manuskrip. Namun, koleksi Sloane berupa spesimen sejarah alam dari Jamaika serta berbagai materi klasik, etnografika, numismatika dan seni, serta cabinet William Courten, yang seluruhnya terdiri dari sekitar 100.000 buah spesimen. Meskipun pada mulanya akses publik ke British Museum tidak dipungut biaya, selama bertahun-tahun masuk ke sana harus melalui permohonan karena tiket yang dikeluarkan setiap harinya dibatasi. Meskipun demikian, Franςois de la Rochefoucauld, yang datang dari Perancis pada tahun 1784, setelah mengamati dia menyetujui bahwa museum tersebut haruslah “untuk memenuhi keinginan dan kepuasan publik.”

Louvre
Louvre (www.forum.panorama.it)

Di Perancis rakyat merasa prihatin karena koleksi milik kerajaan tidak bisa diakses oleh rakyat, dan akhirnya beberapa lukisan terpilih untuk dipamerkan di Istana Luxembourg oleh Louis XV pada tahun 1750. Karena didesak terus, termasuk usulan Diderot untuk mendirikan museum nasional, maka disusunlah pameran yang memperagakan lebih banyak lagi koleksi milik kerajaan di Grande Galerie istana Louvre. Namun, ketika Grande Galerie dibuka untuk umum pada tahun 1793, pembukaan tersebut dikarenakan adanya dekrit yang dikeluarkan oleh pemerintahan Revolusioner, bukan atas mandat pihak kerajaan, dan galeri ini diberi nama Central Museum of the Arts. Banyak kesulitan yang dialami, dan museum ini baru dapat diakses sepenuhnya pada tahun 1801. Koleksi di Louvre berkembang cepat, setidaknya karena National Convention memerintahkan Napoleon untuk mengambil karya-karya seni selama operasi militernya di Eropa; akibatnya banyak koleksi raja dan kaum bangsawan yang dibawa ke Paris untuk dipamerkan di sebuah tempat yang kemudian dikenal sebagai Musée Napoléon (Museum Napoleon). Pada tahun 1815 Kongres Wina menuntut agar benda-benda yang dijarah ini dikembalikan kepada pemiliknya. Bagaimanapun, perang Napoleon ini merupakan episode yang membangkitkan minat baru akan seni dan menjadi pemicu yang membuat sejumlah koleksi dapat diakses oleh masyarakat.

Museum di Roma
Museum Capitoline, Italia (sumber: www.hugin.sourceforge.net)



Koleksi Vatikan yang luar biasa banyaknya juga mengalami reorganisasi besar-besaran selama abad ke-18. Museum Capitoline dibuka untuk umum pada tahun 1734, dan Palazzo dei Conservatori diubah menjadi galeri lukisan pada tahun 1749. Museum Pio-Clementino, yang sekarang menjadi bagian dari kompleks museum di Vatican City, dibuka pada tahun 1772 untuk menyimpan sejumlah besar koleksi barang antik. Arsitektur neoklasik pada bangunan ini menjadi standar yang harus dimiliki oleh sejumlah negara Eropa selama setengah abad lamanya.

Menjelang akhir abad ke-18 fenomena museum telah meluas ke bagian-bagian lain dunia. Pada tahun 1773 di Amerika Serikat Charleston Library Society di Carolina Selatan mengumunkan rencananya untuk membangun museum. Tujuannya adalah untuk mendorong pemahaman lebih baik terhadap pertanian dan pengobatan herbal di daerah tersebut. Institusi awal lainnya, Peale Museum, dibuka di Philadelphia pada tahun 1786 oleh pelukis Charles Wilson Peale. Koleksinya berkembang sangat cepat melebihi kapasitas ruang yang ada di rumahnya, dan dipamerkan sementara di Independence Hall. Setelah mengalami beberapa kali perubahan koleksi tersebut akhirnya disebar pada pertengahan abad ke-19, tetapi setelah koleksi China menjadi benda pamer utama di London.

Pengaruh kolonial Eropa berperan dalam berdirinya sejumlah museum di berbagai tempat. Di Jakarta, Indonesia, koleksi Batavia Society of Arts and Science dimulai tahun 1778, yang akhirnya menjadi Museum Pusat Kebudayaan Indonesia dan menjadi bagian dari Museum Nasional. Museum India di Kolkata pada mulanya juga demikian, dimulai dengan koleksi milik Asiatic Society di Bengala pada tahun 1784. Di Amerika Selatan sejumlah museum nasional berdiri pada awal abad ke-19: Argentine Museum of Natural Science di Buenos Aires berdiri tahun 1812; dan Brazil’s National Museum di Rio de Janeiro, yang koleksi awalnya berupa lukisan terpilih milik John VI, raja Portugal di pengasingan, dibuka untuk umum pada tahun 1818. Yang lainnya adalah National Museum di Bogota, Colombia (1824), dan museum nasional sejarah alam di Santiago, Chile (1830), serta di Montevideo, Uruguay (1837). Di Kanada koleksi zoologikal milik Pictou Academy di Nova Scotia (berdiri tahun 1816) sepertinya dibuka untuk umum pada tahun 1822. Di Afrika Selatan sebuah museum berbasis koleksi zoologi koleksi Andrew (kemudian menjadi Sir Andrew) Smith didirikan di Cape Town pada tahun 1825. Sedangkan di Australia, kemungkinan seorang amatir dan diplomat bernama Alexander Macleay yang berinisiatif membuka gedung yang sekarang bernama Australian Museum di Sydney pada tahun 1829.

Koleksi publik yang baru di Eropa

Rijkmuseum, Belanda (www.trekearth.com)





Di Eropa saat ini sejumlah koleksi baru terbuka untuk umum. Banyak di antaranya yang berasal dari koleksi yang ada dalam perlindungan raja dan kaum bangsawan, sementara sebagian lainnya berasal dari inisiatif pejabat publik. Prado Museum di Madrid berdiri tahun 1785 ketika Charles III membentuk komisi untuk mendirikan sebuah bangunan baru yang akan dijadikan museum ilmu alam. Pembangunan gedung terhenti karena adanya Perang Napoleon, dan ketika dibuka pada tahun 1819 gedung tersebut dijadikan galeri seni yang memamerkan sebagian koleksi kerajaan. Di Prusia Frederick William III memerintahkan dibangunnya galeri lukisan di Berlin untuk menyimpan sebagian koleksi miliknya, dan galeri ini dibuka untuk umum pada tahun 1830. Itu semua merupakan awal dari dibangunnya kompleks sangat luas selama satu abad berikutnya, yang difungsikan untuk menyimpan berbagai koleksi nasional dalam satu tempat, yang dikenal sebagai Museuminsel. Perkembangan lain di Jerman adalah didirikannya Alte Pinakothek (1836) di Munich untuk memamerkan koleksi lukisan milik para duke dari Wittelsbach. Bangunan ini dirancang oleh Leo von Klenze mengikuti standar ketat; dia juga bertanggung jawab atas pembangunan gedung New Hermitage, satu dari lima bangunan di museum Hermitage di St. Petersburg, tempat Nicholas I pada tahun 1852 mengizinkan koleksi utama para tsar Rusia dipamerkan kepada publik. The Royal Museums di Brussels berawal dari surat perintah kerajaan tahun 1835 tentang minat pada kajian sejarah dan seni. Di Belanda sebuah galeri seni nasional dibuka di Huis ten Bosch tahun 1800, galeri ini kemudian dipindahkan ke Amsterdam dan akhirnya menjadi Rijksmuseum (Museum Negara). The National Gallery di London, yang berdiri karena adanya koleksi pribadi seorang pedagang dan penganut filantropi bernama John Juliu Angerstein, dibuka untuk pertama kalinya di Angerstein’s House tahun 1824. Pada tahun 1838 galeri ini dipindahkan ke gedung yang diusulkan dibangun di Trafalgar Square.


Sumber: Encarta Encyclopaedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar