Sabtu, 28 Agustus 2010

Transformasi Pengelolaan Museum


Author: Hemat Dwi Nuryanto
Kompas, Kamis, 12 Agustus 2010

PEMERINTAH bertekad menjadikan 2010 sebagai warsa kunjungan museum. Sayangnya ada ganjalan serius dibalik tekad tersebut, yang terkait dengan kondisi aktual museum di negeri ini. Gerakan Nasional Cinta Museum yang dicanangkan pemerintah seolah bertepuk sebelah tangan. Karena para pengelola museum di negeri ini kebanyakan kurang kreatif dan inovatif dalam hal layout obyek atau koleksi museum. Begitu juga masih minimalis dalam hal sistem informasi terhadap koleksi yang dimiliki. Akibatnya, image museum tetap saja usang, membosankan, dan kurang atraktif. Eksistensi museum belum mampu mencuatkan nilai-nilai koleksi yang ters impan kepada publik. Pentingnya mentransformasikan sistem pengelolaan dan SDM museum. Agar lebih adaptif dengan perkembangan jaman dan kompatibel dengan industri pariwisata global. Sistem pengelolaan museum harus bisa mengemas koleksi sehingga bisa mendongkrak segmentasi pasar, promosi serta nilai estetika dan ilmiahnya. 

Langkah transformasi yang penting disegerakan adalah menyangkut sistem pengelolaan museum yang berbasis konvergensi teknologi informasi dan komunikasi (TIK). Pentingnya mengembangkan sistem informasi museum atau e-Museum yang menarik dan mampu merasuki jejaring sosial internet. Transformasi sistem tersebut akan menunjang profesionalitas bagi edukator (programmer) dan  kehumasan (public relation) museum. Selain itu sistem informasi yang andal akan menjadikan museum sebagai destinasi yang sangat potensial. Transformasi pengelolaan museum tentu saja tidak mengurangi atau menggangu fungsi dasar museum dalam konteks Museologi. Yang mencakup penelitian, konservasi atau pelestarian serta komunikasi yang merupakan aspek mediasi dengan masyarakat. Fungsi dasar tersebut menempatkan museum sebagai lembaga non-profit yang bertugas menyimpan, merawat, meneliti dan memamerkan koleksi. Tetapi pada era gelombang keempat sekarang ini yang ditandai dengan pertumbuhan industri kreatif yang luar biasa pesatnya, menempatkan museum sebagai pusat industri budaya. Juga merupakan tempat yang sangat ampuh sebagai sarana kontemplatif dan pemicu lahirnya daya dan karya kreatif. Sehingga makna yang terdalam dari museum bisa terwujud, yakni positioning museum sebagai inspirator dan motivator bagi warga bangsa dalam mengarungi persaingan global.

Sebaiknya sistem informasi museum tidak sekedar berbentuk website atau situs internet yang bersifat database ilmiah semata. Tetapi merupakan sistem informasi yang cerdas berbasis geospasial dan bisa merasuki jejaring sosial dengan tampilan yang menarik. Selama ini sudah cukup banyak website yang menyediakan informasi tentang museum seperti contohnya bidang arkeologi. Website arkeologi tersebut diantaranya ada yang menyediakan informasi secara gratis tetapi ada juga yang diharuskan menjadi anggota dengan persyaratan tertentu dan dikenai biaya. Konten yang disediakan dapat meliputi objek-objek arkeologi, foto, jurnal, peta sitrus,dan lain-lain. Jenis data atau informasi yang akan ditampilkan dapat berupa  teks, suara, video, gambar,  maupun gabungan keseluruhan jenis data tersebut yang lebih dikenal dengan istilah multimedia. Kebanyakan website museum ditampilkan dalam halaman yang bersifat statis.  Agar lebih menarik dan berbobot harus dibuat halaman yang kontennya bersifat dinamis. Yang disupport dengan multimedia dan memakai aplikasi yang bersifat GIS ( Geographical Information System ).

Transformasi pengelolaan museum akan menjadikan museum yang modern. Yang bisa memanjakan pengunjung menikmati fasilitas ruang pamer yang atraktif dan bisa memvisualisasikan imajinasi mengenai obyek tertentu. Konten koleksi museum tersaji dalam bentuk data spasial dan smart map hasil intepretasi dari metode GIS. Dengan menggunakan sistem GIS maka musem arkeologi bisa memenuhi kebutuhan konten arkeologi secara baik. Begitu juga dengan proyek-proyek arkeologi dan peta situs purbakala dapat terpenuhi secara paripurna. Pada saat ini sistem informasi museum yang sangat ideal yang patut dicontoh adalah milik Smithsonian. Kita bisa berselancar dalam situs Smithsonian yang spektrummya sangat luas dan beragam serta disajikan secara menarik. Berbagai macam peradaban yang pernah ada di bumi, fenomena alam, proses inovasi, semuanya ada dalam koleksi Smithsonian. Kita juga bisa napak tilas proses kreatif atau inovatif yang terkait tentang inventing yang berkontribusi terhadap kemajuan dunia. Napak tilas tersebut sangat penting untuk merangsang daya pikir bagi pelajar  mengenai bagaimana para penemu atau inovator kelas dunia bekerja. Semua itu tersaji dalam sistem informasi yang sangat paripurna dan mudah diakses oleh warga dunia. Dari museum aerospace yang menampilkan berbagai macam pesawat ruang angkasa hingga fenomena gunung berapi yang ada di bumi semua tersaji secara apik. Sekedar catatan Smithsonian American Art Museum selama ini mampu menggugah kreativitas warga Amerika. Koleksi karya seni di semua media yang membentang lebih dari tiga abad tersebut merupakan wahana yang sangat ideal untuk menstimulir kapasitas otak kanan warga Amerika dan warga dunia. Wahana diatas juga sangat strategis untuk proses pendidikan di perguruan tinggi terkemuka seperti Massachusetts College of Art, Institut Seni Boston di Lesley College, Sekolah Museum of Fine Arts, Boston dan Universitas  Harvard, Princeton dan Yale.


Smithsonian juga telah menggunakan aplikasi Google Earth untuk menunjang misinya.  Antara lain merancang Global Volcanism Program yang memanfaatkan Google Earth sebagai sistem informasi gunung berapi yang ada di seluruh dunia dengan profil dan keunikannya masing-masing. Dengan itu kita bisa melihat perbedaan puncak gunung berapi dengan citra satelit. Berkat proyek Smithsonian tersebut warga dunia bisa melihat profil dan panorama eksotik dari gunung berapi yang ada di kepulauan Nusantara seperti gunung Krakatau, Gede-Pangrango, Bromo, Merapi dan lain-lainnya. Rancangan diatas akan membuahkan semacam BI (business intelligence) museum dan sistem destinasi yang baik. Sistem informasi museum dan destinasi tersebut bisa mengkondisikan image yang dapat didekati hingga ketinggian ratusan meter.  Analog dengan program diatas, mestinya Museum Geologi Bandung bisa merancang sistem informasi yang lebih lengkap. Yang dilengkapi dengan berbagai teknik koneksi data. Dengan demikian kita tidak hanya merasakan efek terbang berkat teknologi Google Earth. Namun juga bisa terhubung  dengan berbagai knowledge management dan data base yang ada di seluruh dunia.

*) HEMAT DWI NURYANTO, Chairman Zamrud Technology, Alumnus UPS Toulouse Prancis

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar