Rabu, 18 Agustus 2010

Ledakan museum pertama

Eropa

Selama paruh kedua abad ke-19 museum mulai semakin banyak di Eropa; gerakan kebanggaan akan negara dan kebebasan pendidikan adalah penyebab di antara banyak penyebab terjadinya perkembangan ini. Selama 15 tahun sebelum 1887 di Inggeris ada 100 museum yang dibuka, sementara 50 museum lainnya beridiri di Jerman dalam kurun waktu antara 1876-1880. Periode ini juga merupakan periode inovasi. Museum Liverpool di Inggeris, misalnya, mulai mengedarkan spesimen ke sekolah-sekolah untuk tujuan pendidikan; kelompok-kelompok panorama dan habitat digunakan untuk memfasilitasi interpretasi. Ketika lampu gas pertama dan kemudian lampu listrik ditemukan, museum memperpanjang jam buka hingga malam hari untuk melayani mereka yang tidak dapat berkunjung di siang hari.

Amerika Selatan
Meningkatnya jumlah museum, bagaimanapun, tidak saja terjadi di Eropa atau di Amerika Utara. Di Amerika Selatan khususnya, museum-museum baru didirikan baik di ibukota maupun di provinsi. Beberapa di antaranya didirikan oleh universitas, seperti kasus Geological Museum di Lima, Peru (1891), atau Geographical dan Geological Museum di São Paolo, Brazil (1895). Museum lainnya didirikan oleh lembaga provinsi: museum daerah di Córdoba (1887) dan Gualeguaychu (1898) di Argentina, dan di Ouro Prêto, Brazil (1876); Hualpen Museum, Chile (1882); atau Municipal Museum and Library di Guayaquil, Ekuador (1862). Museum nasional khusus yang baru juga muncul di negara-negara tertentu, sementara di Tigre (Argentina) sebuah museum maritim didirikan pada tahun 1892. Pada awal abad berikutnya, dibuatlah museum peringatan, termasuk museum peringatan yang dipersembahkan kepada Bartolomé Mitre, presiden Argentina sebelumnya, di Buenos Aires (1906) dan kepada Simón Bolivar di Caracas, Venezuela (1911).

Asia
Pada saat tersebut, Museum India di Kolkata, dan Museum Pusat Kebudayaan Indonesia di Jakarta, merupakan lembaga yang sudah mapan di Asia, tetapi beberapa museum baru pun bermunculan pula. Pada tahun 1872 di Jepang dibuka sebuah museum yang bertujuan mendorong industri dan perkembangan sumberdaya alam; museum ini kemudian menjadi Tokyo National Museum and National Science Museum yang dikenal sekarang. Meskipun pada akhir abad ke-19 di Cina sudah ada museum milik kalangan terpelajar, museum pertama dalam arti yang sesungguhnya baru ada di provinsi Kiangsu, yaitu Museum Nan-t’ung yang didirikan pada tahun 1905. Satu dekade kemudian berdiri Museum of the History of China di Peking (Beijing) dan Northern Territory Museum di Tientsin. Koleksi yang ditempatkan di Grand Palace di Bangkok pada tahun 1874 sekitar 60 tahun kemudian menjadi National Museum of Thailand. The National Museum of Ceylon (sekarang Srilanka) dibuka untuk umum pada tahun 1877; Sarawak Museum (sekarang di Malaysia) dibuka pada tahun 1891; dan Peshawar Museum di Pakistan dibuka pada tahun 1906.

Afrika
Di Afrika tengah dan selatan, museum didirikan pada awal abad ke-20. Museum nasional Zimbabwe di Bulawayo dan Harare (sekarang Salisbury) didirikan pada tahun 1901, Uganda Museum bermula tahun 1908 dari koleksi yang dikumpulkan oleh British District Commissioners, dan the National Museum of Kenya di Nairobi diprakarsai oleh the East Africa and Uganda Natural History Society pada tahun 1909. Museum pertama Mozambik, the Dr. Alvaro de Castro Museum, di Maputo didirikan tahun 1913. Sementara di Afrika Utara the Egytian Museum dipindahkan ke bangunan baru pada tahun 1902 dan menjadi dua institusi baru: the Museum of Islamic City (1903) dan the Coptic Museum (1908). Di Afrika Selatan sudah berkembang museum di sejumlah provinsi, misalnya di Grahamstown (1837), Port Elizabeth (1856), Bloemfontein (1877), Durban (1887), Pretoria (1893), dan Pietermaritzburg (1903).


Abad ke-20: museum dan perubahan sosial
Selama abad ke-20 sejumlah kekuatan sosial memberi pengaruh pada perkembangan museum, terutama museum-museum daerah dan nasional yang lonjakan pertambahannya selama abad ke-19 digambarkan di bagian sebelumnya (the Establishment of museums). Dalam artikel sejarah museum, fungsi dan peran baru yang diemban museum karena perubahan ekonomi dan politik dibahas di bawah ini.

Periode reassessment (pemantapan kembali/peninjauan ulang)
Paruh pertama abad ke-20 mengalami dua kejadian penting yang merupakan konsekuensi sosial dari dua perang dunia, yaitu Revolusi Rusia tahun 1917 dan periode resesi ekonomi. Untuk museum-museum di Eropa hal ini merupakan periode reassessment. Pemerintah, asosiasi kaum profesional, dan organisasi lainnya meninjau kembali peran museum dalam masyarakat yang sedang berubah dan mengajukan sejumlah saran untuk meningkatkan pelayanan museum kepada masyarakat. Di beberapa negara dikembangkan pendekatan baru; di negara lainnya museum tetap mencerminkan asal-usulnya yang beragam, dan setelah beberapa dekade lewat belum tersedia sumberdaya yang secara umum siap untuk melaksanakan perubahan-perubahan besar.

Perubahan radikal dapat dilihat di Rusia, di mana koleksi dan museum berada di bawah kendali negara setelah terjadinya Revolusi Rusia pada 1917. Keyakinan Lenin bahwa kebudayaan untuk rakyat dan usahanya melestarikan warisan budaya negara berujung pada meningkatnya jumlah museum sebanyak tiga kali lipat dalam waktu 20 tahun. Bukan saja sebagian besar warisan seni, sejarah, dan ilmiah negara dibawa ke museum, tetapi bermunculan pula berbagai jenis museum lainnya. Perhatian khusus diberikan pada pengangkutan material yang terkait dengan tiga revolusi di Rusia. Museum paling awal yang mendapatkan koleksi semacam itu dibuka tahun 1919 di Istana Musim Dingin di Petrograd (St. Petersburg); setelah tahun 1924 the Central Museum of the Revolution di Moskow menjadi titik fokus untuk koleksi ini. Tipe museum lainnya adalah museum peringatan (memorial museum) yang menyimpan benda-benda pribadi milik tokoh terkenal. Benda-benda semacam ini sering digunakan sebagai alat propaganda – the Central Lenin Museum di Moskow yang dibuka tahun 1936 adalah salah satunya.

Di Jerman sejumlah besar museum daerah didirikan setelah Perang Dunia I untuk mendorong kesadaran akan sejarah dan mengenang tokoh-tokoh penting tanah air, dan bisa dipastikan akan mendorong kecenderungan nasionalistik yang berujung pada zaman Nazi.

Namun, pada umumnya museum tidak terorganisasi dengan baik untuk menghadapi kondisi perubahan sosial. Di Inggeris aneka para penyedia jasa permuseuman – pemerintah baik di tingkat lokal maupun nasional, universitas, masyarakat, perusahaan, dan perorangan – tidak mendorong pembuatan kebijakan yang kohesif di tingkat nasional. Di Eropa tengah berbagai perkumpulan berusaha membangun dan mengelola museum swasta, tetapi mereka tidak dapat menyediakan sumberdaya yang diperlukan. Di luar Eropa pengaruh perubahan sosial tidak terlalu kentara, dan hanya ada sedikit museum yang dikelola sebagai kekuatan nasional. Di Amerika Serikat perkembangan museum dipengaruhi oleh keinginan untuk menguatkan kenangan masa lalu – sebuah gerakan yang secara luas ddorong melalui patronase pribadi.

Di dunia yang telah mengalami industrialisasi muncul museum tipe-tipe baru. Beberapa bangsa dengan sadar berusaha untuk memelihara dan meunjukkan struktur dan adat-istiadat masa lalu mereka. Misalnya, setelah Swedia memelopori pendirian kembali bangunan-bangunan penting, termasuk museum terbuka di Arnhem, maka Belanda (the Open Air Museum dibuka pada tahun 1912) dan  Cardiff, Wales (the Welsh Folk Museum, dibuka tahun 1947) mengikuti jejak Swedia. Preservasi dan restorasi bangunan atau seluruh pemukiman in situ juga mulai dilakukan; yang terutama terkenal adalah Colonial Williamsburg, yang didirikan di Virginia tahun 1926. Tipe baru museum ilmu pengetahuan juga muncul, dimana peragaan peralatan ilmiah yang statis digantikan dengan demonstrasi penerapan ilmu pengetahuan. London’s Science Museum (1857), akhirnya dipindahkan ke gedung yang khusus dibangun untuk keperluan tersebut tahun 1919. Demikian pula halnya dengan Deutsches Museum (Museum Jerman) di Munich yang dipindahkan ke peruntukan baru tahun 1925. Kedua museum ini memiliki reputasi mendunia karena keunggulannya dalam melakukan interpretasi atas ilmu dan teknologi untuk masyarakat umum.

Sumber: Encarto Encyclopaedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar