Jumat, 20 Agustus 2010

Artefak paleolitik



Artefak adalah objek yang mudah dibawa (portable) yang dibuat dan dimodifikasi serta dipakai oleh manusia, seperti perkakas batu, bejana keramik dan senjata dari logam (Renfrew & Bahn, 1996:45). Artefak merupakan sarana manusia untuk beradaptasi dengan lingkungannya, dan dengan demikian menentukan strategi makan, niche, wilayah perburuan dan buruan (Jacob, 1987). Artefak menjadi perpanjangan tangan manusia untuk membantunya mempermudah pekerjaannya. Pada mulanya manusia memanfaatkan apa saja yang tersedia di alam untuk keperluan subsistensinya. Kemudian lama-lama dia mampu menciptakan alat yang diolah dan digunakannya untuk mengeksploitasi alam, dan ini akan tampak bekasnya pada alat-alat yang telah digunakannya tersebut.
Renfrew & Bahn (1996:45-46) menyebutkan bahwa informasi yang dapat diperoleh dari sebuah artefak adalah:
1.    umur alat tersebut dan juga penentuan pertanggalan (dating) lokasi penemuan alat;
2.    sumber bahan baku pembuatan alat sehingga dapat diketahui daya jelajah di pembuat alat dalam memanfaatkan lingkungan;
3.    bentuknya dapat dipakai untuk membuat klasifikasi tipologi alat; dan
4.    sisa organik maupun anorganik pada alat dapat digunakan untuk menganalisis diet prasejarah, lingkungan prasejarah, dan cara alat itu dipakai.

Artefak  dapat memberikan gambaran tentang perilaku manusia pembuat dan pemakainya. Metode yang umum dilakukan dalam arkeologi untuk memahami hal ini adalah pendekatan etnografis. Dengan pendekatan ini arkeolog membandingkan temuan arkeologis dengan alat serupa/sejenis yang masih dipakai oleh masyarakat tradisional pada masa sekarang. Jika didapati alat tertentu digunakan untuk aktivitas tertentu pada masa sekarang maka diasumsikan bahwa artefak sejenis digunakan untuk aktivitas serupa pada masa prasejarah.

Alat batu paleolitik tipe bifasial (www.historyofscience.com)
Metode lain yang digunakan untuk menganalisis kegunaan alat paleolitik adalah analisis microwear. Metode ini lebih disukai oleh para ahli karena dipandang dapat memberikan data yang lebih akurat dibandingkan dengan pendekatan etnografis (Renfrew & Bahn, 1996:261). Analisis microwear adalah studi mikroskopis terhadap tajaman alat untuk menentukan penggunaan alat (ibid. : 52). Analisis ini dapat mengidentifikasi apakan alat tersebut digunakan untuk memotong daging, kayu, ataukah material lain melalui berbagai macam bekas upam/asah (polish) dan goresan (striation) (ibid.:307). Dari tipe-tipe microwear dapat diidentifikasi pada material apa sebuah alat digunakan dan untuk keperluan apa (memotong, menusuk, ataukah menyerut). Sedangkan dari kepadatan arah alur gores dapat diidentifikasi bagaimana alat itu digerakkan: alur gores yang paralel dengan tajaman alat dihasilkan dari gerakan memotong, sementara alur gores yang tegak lurus dihasilkan dari gerakan menyerut.

Scanning Electron Microscope (www.microscopehelp.com)
Studi ini pertama kali dilakukan pada abad ke-19 dan memperoleh terobosan penting oleh hasil penelitian Sergei Semenov dari Uni Soviet (sekarang Rusia), yang dipublikasikan pada tahun 1957. Ketika itu Semenov masih menggunakan mikroskop binokuler. Perkembangan pesat dalam studi ini dicapai dengan diperkenalkannya SEM (Scanning Electron Microscope), yang mempunyai tingkat presisi tinggi untuk menentukan tipe-tipe microwear dan merekamnya dalam fotomikrograf.

Bagaimana dengan di Indonesia?
Mindra Faizaliskandiar (1989) mengatakan bahwa kebanyakan artefak paleolitik Indonesia ditemukan sebagai temuan permukaan sehingga aspek konteksnya tidak dapat diamati secara tajam. Itu sebabnya, menurut pendapatnya, kajian artefak paleolitik Indonesia “… hanya berupa kajian tipologi dan persebaran belaka.”  Dia lalu menawarkan penelitian artefak dengan melihat variabilitas alat sebagai indikator strategi subsistensi (1989). Dalam kajiannya itu Faizaliskandiar mencari hubungan antara aneka bentuk alat dengan kemungkinan aktivitas subsistensi tertentu. Berdasarkan penelitiannya tersebut dia berkesimpulan bahwa batu paleolitik Indonesia lebih dekat hubungannya dengan aktivitas pembuatan alat kayu. Atau dengan kata lain, alat-alat itu digunakan untuk membuat alat lain yang bahan dasarnya kayu, bukan untuk keperluan berburu seperti diyakini selama ini. Namun hal ini tentu saja sulit dibuktikan karena kayu adalah bahan alami yang sangat tidak tahan lama dan mudah sekali hancur oleh proses-proses alamiah sehingga tidak ada alat kayu yang tertinggal untuk mendukung pendapat Faizaliskandiar tersebut. (Julimar, 20/04/2003).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar