Selasa, 24 Agustus 2010

Fungsi perkakas prasejarah (1)

ARTEFAK: SARANA PENYESUAIAN DIRI MANUSIA PRASEJARAH
DENGAN LINGKUNGANNYA DALAM RANGKA MAKAN DAN MENCARI MAKAN

Oleh. Julianty M


    Sejak awal kehadirannya di bumi, secara langsung atau tidak langsung, manusia selalu tergantung pada lingkungan alam tempat dia hidup. Kenyataan ini tampaknya menjadi fakta yang tidak mungkin disangkal dan kita semua memakluminya. Kebutuhan manusia akan lingkungan berkaitan dengan pemenuhan kebutuhan akan sumber makanan dan pemukiman. Tercakup di dalam hal ini adalah jumlah serta kualitas sumber makanan, jumlah serta kualitas angin, cuaca, suhu, air, serta kelembaban. Hubungan manusia dengan lingkungannya adalah hubungan yang timbal balik, dalam arti manusia tidak saja dipengaruhi oleh lingkungan tetapi juga mempengaruhi lingkungan. Interaksi manusia dengan lingkungannya sudah sejak dahulu terjadi, bahkan sejak mula pertama kemunculannya manusia sudah mengeksploitasi alam untuk keperluan subsistensi (mencari makan).
    Dari data arkeologis maupun paleontologis manusia prasejarah diketahui sudah melakukan perburuan terhadap hewan-hewan tertentu untuk sumber makanannya. Selain itu diketahui pula bahwa mereka pun mengkonsumsi berbagai jenis tumbuhan untuk menambah asupan kalori dalam tubuhnya.
    Cara-cara manusia prasejarah mendapatkan makanan sejak Kala Plestosen Bawah tidak saja mempengaruhi kelangsungan hidupnya tetapi juga mempengaruhi hampir semua aspek dalam masyarakat dan kebudayaan di mana dia hidup (Fagan, 1975). Selama terjadi interaksi manusia dengan lingkungannya telah terjadi perubahan besar karena manusia terus-menerus melakukan penyesuaian dengan lingkungan baik secara fisik maupun –bahkan terlebih- secara kultural. Tahapan aktivitas mencari makan pada manusia prasejarah dikenal dengan tahapan berburu dan meramu, yang kemudian secara bertahap beralih ke pembudidayaan tanaman dan hewan, kemudian selanjutnya melangkah lagi ke pertanian, yang lalu melahirkan peradaban-peradaban besar berkat lompatannya yang luar biasa dalam penyesuaian kultural manusia terhadap lingkungan.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar