Senin, 16 Agustus 2010

Sejarah museum (3)

Bukti dari masa kuno
Asal mula konsep kembar preservasi dan interpretasi, yang membentuk basis bagi museum, ada pada kecenderungan manusia untuk memperoleh dan mencari tahu. Koleksi berbagai objek ditemukan dalam kubur-kubur Paleolitik, sementara bukti penjelajahan terhadap lingkungan, dan pemahaman atas  temuan tersebut, dapat dilihat pada gua dan mobiliary art (istilah dalam arkeologi untuk karya seni paleolitik yang dapat dipindah-pindah. Lawannya adalah parietal art, misalnya lukisan pada dinding gua – penerj.) yang berasal dari masa yang sama. Perkembangan gagasan tentang museum sebenarnya muncul pada awal abad ke-2 SM di Larsa, Mesopotamia, tempat ditemukannya sejumlah salinan inskripsi kuno yang dibuat untuk keperluan sekolah. Tetapi gagasan tersebut juga termasuk melakukan interpretasi atas materi asli – kriteria yang tampaknya sesuai dengan objek yang ditemukan oleh Sir Leonard Woolley dalam lapisan-abad-ke-6-SM kota Ur di Babilonia. Temuan Woolley tersebut mengindikasikan bahwa raja Babilonia Nebuchadrezzar dan Nabonidus pada saat itu telah mengoleksi aneka benda antik. Bukan itu saja, di sebuah ruangan  dekat  sekolah kuil yang berhasil digali juga ditemukan bukan hanya koleksi barang antik tetapi juga sebuah tablet berisi tulisan dari abad ke-21 SM. Woolley menginterpretasikan tablet tersebut sebagai label museum. Penemuan ini tampaknya menegaskan bahwa Ennigaldi-Nanna, anak perempuan Nabonidus yang juga pendeta perempuan yang mengelola sekolah tersebut, memiliki sebuah museum kecil di situ.

Bersambung .......

Sumber: Encarta Encyclopaedia

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar