Sabtu, 09 Oktober 2010

Aspirasi masyarakat


Berikut ini adalah masukan dari anggota masyarakat (guru) untuk perbaikan  pelayanan museum. Pengelola museum seharusnya peka terhadap aspirasi masyarakat semacam ini. Kotak saran di museum-museum bukan hanya proforma melainkan suara yang harus didengar dan dicermati.


Mengubah Citra Museum
Selasa, 21 September 2010 | 17:18 WIB
Oleh Noverius Laoli

Selain berfungsi sebagai perpustakaan dan tempat penyimpanan bukti-bukti otentik catatan sejarah kebudayaan, museum seharusnya juga mampu menjadi tempat hiburan edukatif bagi masyarakat.

Itulah sebabnya, museum yang tersebar di Bandung butuh merenovasi diri. Museum harus kreatif menampilkan wajah masa lalu dengan cara masa kini. Jadi, tempat yang menyimpan segudang koleksi perihal informasi seputar sejarah masa silam itu tidak terkesan asing dan jauh dari perhatian masyarakat luas.

Tidak cukup museum hanya dijadikan tempat mengoleksi, mengonservasi, meriset, dan memberikan informasi seputar masa lalu. Museum justru seharusnya menjadi tempat alternatif bagi masyarakat untuk mencari kemungkinan-kemungkinan baru. Kemungkinan baru itu baik dalam ihwal pengetahuan, seperti ruang penelitian dan pendidikan, maupun sebagai tempat inspiratif bagi generasi sekarang untuk melihat masa lalu sebagai instrumen petualangan memasuki lorong-lorong peradaban.

Namun, yang kerap menjadi persoalan beberapa museum di Indonesia, khususnya Kota Bandung, adalah masalah laten berupa minimnya biaya perawatan. Akhirnya, museum itu tak pernah mampu memperbarui diri dan menampilkan sesuatu yang dapat menarik perhatian dan minat masyarakat luas. Padahal, museum menyimpan berlimpah pengetahuan yang masih mentah dan butuh segera dikelola agar bermanfaat bagi kehidupan manusia. Pusat kebudayaan

Sebenarnya museum adalah harta karun yang tak ternilai. Museum Sri Baduga, misalnya, yang memiliki koleksi naskah kuno terbanyak, seperti Cacarakan (Haracaraka-Jawa), Jawa kuno, Pegon (Arab Sunda), dan Sunda kuno. Naskah itu berisi ajaran sastra, agama, pedoman hidup, kesehatan, adat istiadat, dan silsilah (Kompas, 23/8). Namun, pengetahuan yang tersimpan dalam naskah-naskah kuno itu tidak bisa kita miliki karena minimnya penerjemah naskah kuno.

Meskipun ada rencana memberikan beasiswa bagi staf museum untuk belajar museologi di Universitas Padjadjaran, itu tidak cukup memadai. Kalau naskah-naskah itu sudah diterjemahkan, belum tentu banyak orang berminat mengetahui, apalagi menelitinya. Yang kita butuhkan, selain penerjemah naskah kuno, adalah kreativitas dalam mengelola museum sehingga menjadi pusat kebudayaan bagi masyarakat.

Artinya, bagaimana museum mampu mengundang keingintahuan warga. Salah satu solusinya adalah memodifikasi citra dan bentuk museum sesuai dengan kebutuhan zaman, dengan kata lain bisa memenuhi selera masyarakat zaman kiwari. Para pengelola dan pemerhati museum harus mampu menciptakan ruang bagi pengunjung untuk beraktivitas secara interaktif dan atraktif sehingga menimbulkan ikatan emosi antara museum dan masyarakat.

Museum sebaiknya memberikan apa yang dibutuhkan masyarakat dan menjawab apa yang menjadi keprihatinan mereka. Masyarakat tidak lagi harus menyesuaikan diri dengan museum, tetapi museumlah yang menyesuaikan diri dengan kebutuhan dan harapan masyarakat. Di sini museum harus mengikuti perkembangan zaman dan selalu mereformasi diri sehingga tidak ketinggalan zaman.

Meskipun menjadi tempat mengoleksi barang-barang kuno, museum harus bisa mengekspos kekunoan tersebut dengan metode kekinian. Perlu diingat bahwa benda-benda sejarah itu adalah milik zamannya dan tentu ditulis atau ada sesuai dengan kebutuhan zamannya. Oleh karena itu, ketika diekspos pada zaman sekarang, benda-benda sejarah itu seharusnya dapat dieksplorasi secara kreatif sehingga sesuai dengan pola pikir zaman sekarang. Namun, esensi yang dibawanya tidak boleh dihilangkan.


Melalui cara tersebut museum akan tampak memiliki roh yang dengan sendirinya mampu menyampaikan pesan tertentu kepada setiap pengunjung. Ruang publik

Keberadaan beberapa museum di Bandung merupakan aset berharga bagi kota ini sebagai salah satu pusat pendidikan, pariwisata, dan kebudayaan. Di Bandung ada banyak komunitas kreatif yang kredibel untuk memodifikasi wajah museum sehingga tampak lebih menarik dan sesuai dengan gaya hidup masyarakat di sekitarnya.

Museum dapat diubah menjadi wahana pendidikan sekaligus tempat hiburan yang dapat menampilkan nilai-nilai edukasi kepada pengunjungnya. Dengan demikian, museum dapat menjadi ruang publik yang menampilkan sesuatu yang berbeda dari tempat-tempat hiburan lain.

Menurut saya, sangat menarik bila di sekitar museum dibangun beberapa kafe kecil yang dapat menjadi tempat nongkrong dan diskusi. Di sana juga bisa diadakan lokakarya atau seminar untuk membahas materi beberapa koleksi museum. Hasil diskusi tersebut dapat dipublikasikan di media massa atau jurnal khusus seputar museum dengan beberapa catatan penting yang butuh penelitian lebih mendalam.

Semua pengunjung museum, baik wisatawan maupun kalangan akademis, diberi kesempatan yang sama untuk mengikuti kegiatan tersebut. Bila perlu, didatangkan ahli dari beberapa universitas di Bandung untuk memimpin diskusi-diskusi itu. Lalu, dibuat jadwal rutin sehingga setiap orang dapat menyempatkan diri terlibat.

Pihak museum dapat memanfaatkan kesempatan tersebut untuk mempromosikan museum sekaligus menggalang dana dari masyarakat. Hal itu bisa dilakukan dengan menyediakan sertifikat dan meminta biaya administrasi untuk melestarikan museum.

Melalui kreativitas dan upaya memanfaatkan segala kekayaan yang ada, niscaya museum mampu menjadi salah satu tempat alternatif bagi masyarakat untuk mendapatkan pengetahuan sekaligus hiburan. NOVERIUS LAOLI Guru SMA Talenta Bandung

Sumber: www.oase.kompas.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar