Minggu, 12 September 2010

Religiusitas Ilmu Pengetahuan


Gambar: www.intifadah87.blogspot.com
Oleh: Julianty M



Dewasa ini perkembangan ilmu sedemikian pesatnya sehingga ilmu pengetahuan, terutama di negara-negara barat, dianggap lebih tinggi daripada agama. Mereka seperti tidak membutuhkan agama karena ilmu pengetahuan dipandang dapat mengatasi semua persoalan dalam kehidupan umat manusia. Namun, lambat-laut para ilmuwan mulai sadar bahwa ilmu pengetahuan ternyata tidak bisa menyelesaikan semua persoalan kehidupan. Ada hal-hal immaterial yang tidak dapat dipecahkan oleh ilmu pengetahuan semata. Akhirnya banyak di antara mereka kembali kepada kehidupan spiritual, yang ironisnya belum tentu religius/agamis.

Logika berpikir barat memisahkan dengan tegas antara agama dengan ilmu pengetahuan. Itu sebabnya meeka merasakan kekosongan jiwa. Islam tidak mengenal pemisahan antara ilmu dengan agama karena agama adalah pedoman hidup bagi umatnya; jadi setiap segi kehidupan haruslah berada dalam kerangka agama. Dalam Islam ditekankan bahwa agama harus disertai dengan ilmu, dan ilmu harus dibingkai oleh agama. Ilmu, dengan demikian, tidak bebas nilai.

Pencapaian ilmu pengetahuan seharusnya semakin mendekatkan manusia (terutama ilmuwan) kepada Sang Pencipta. Orang yang memahami dan menghayati benar ilmunya akan menyadari betapa luasnya ilmu Sang Pemilik Ilmu, dan betapa sedikitnya ilmu yang kita miliki. Sedikit sekali yang diberikanNya kepada kita. Itu sebabnya ilmuwan sejati senantiasa rendah hati dan mendekatkan diri kepada Sang Pencipta. Jika ilmu malah menjauhkan seseorang dari Sang Pencipta, mka pastilah ada yang salah dalam proses dia mencari ilmu. Mengapa demikian? Karena ilmu pada dasarnya adalah hidayah dari Sang Pencipta.

Yang perlu ditekankan adalah tidak ada kebenaran mutlak dalam ilmu pengetahuan. Apa yang sekarang dianggap benar di dunia ilmu pengetahuan, suatu saat akan runtuh karena adanya perkembangan baru, penemuan baru, dan peralatan penelitian baru dalam ilmu pengetahuan. Kebenaran mutlak hanya milik Sang Pencipta, Penguasa Ilmu Pengetahuan. Al-Faruqi dalam Islamization of Knowledge: General Principle and Work Plan (1982) mengemukakan metode tauhid sebagai satu kesatuan kebenaran. Dengan ini dimaksudkan bahwa ilmu pengetahuan harus memperkuat keyakinan kita akan ketauhidan Allah SWT.

Dalam perspektif ini Al-Faruqi mendudukkan ilmu pengetahuan dalam posisi yang benar, yaitu sebagai bagian dari hidayah Allah kepada manusia di samping agama (Luth, 2010). Selanjutnya menurut Luth, metode tauhid yang dimaksudkan Al-Faruqi adalah menjadikan ilmu pengetahuan sebagai pintu masuk untuk meyakini keberadaanNya dan ketunggalanNya.

Jadi, janganlah melepaskan ilmu dari agama karena jika sampai demikian maka umat manusia akan jatuh kembali ke masa jahiliyah, kebodohan spiritual. Jadi, mari kita meningkatkan keyakinan kita akan ketauhidan Allah melalui disiplin ilmu masing-masing. (Julimar, 12/09/2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar