Sabtu, 11 September 2010

Metode Etnografi untuk penelitian pengunjung

Perilaku pengunjung sudah menjadi perhatian saya sejak saya bekerja di museum. Saya tertarik melihat aneka perilaku pengunjung yang datang ke Museum Geologi, yang dalam pandangan saya kebanyakan datang untuk tujuan rekreasi semata. Hingga sekarang, sudah 16 tahun saya di Museum Geologi perilaku pengunjung tidak mengubah pandangan saya terhadap mereka: meskipun mereka datang silih berganti, perilaku mereka menunjukkan kecenderungan umum yang sama.

Yang paling mencolok perilaku rekreasinya adalah rombongan siswa sekolah yang biasanya datang dalam jumlah besar sehingga sulit dikendalikan. Kadang saya kehilangan kesabaran menghadapi perilaku mereka yang cenderung mengarah pada tindakan destruktif. Rombongan anak sekolah berusia tanggung ini meninggalkan "kesan" di museum kami berupa aneka coretan di benda peraga, baik di panel peragaan maupun di benda koleksi. "Kesan" lain adalah bau keringat yang menyengat lama setelah rombongan pergi.

Saya selalu ingin tahu untuk apa sebenarnya mereka datang, dan apa yang mereka harapkan dari kedatangan mereka ke museum. Sering saya mendatangi siswa, guru, ataupun petugas biro perjalanan yang membawa mereka. Saya berbincang dengan mereka tentang berbagai hal berkaitan dengan museum, khususnya museum kami. Dari perbincangan tersebut saya berkesimpulan bahwa saya harus serius melakukan penelitian pengunjung untuk mendapat masukan mengenai apa yang diharapkan pengunjung dari museum kami, dan metode yang tepat untuk ini adalah etnografi. Mengapa etnografi? Mengapa bukan metode survei?

Etnografi adalah metode penelitian kualitatif yang lazim digunakan dalam ilmu sosial, khususnya antropologi. Dewasa ini etnografi bahkan sudah banyak digunakan dalam riset pemasaran untuk branding perusahaan. Dengan metode ini peneliti terlibat langsung dengan komunitas yang ditelitinya dengan cara mengamati, mencatat, dan turut serta dalam kehidupan sehari-hari subjek penelitian. Subjek penelitian biasanya kelompok kecil masyarakat sehingga penelitian bersifat menyeluruh (holistik). Kata kuncinya adalah participant observation.

Berkenaan dengan penelitian pengunjung, etnografi diharapkan dapat mengungkap motivasi sesungguhnya pengunjung datang ke museum. Perilaku berkaitan dengan nilai budaya. Dengan mengetahui nilai budaya yang menjadi latar belakang perilaku pengunjung, museum dapat menentukan strategi yang tepat menghadapi perilaku pengunjung. Dengan demikian dapat mengantisipasi setiap kemungkinan yang dapat mengurangi atau menghilangkan nilai informasi penting yang terkandung dalam koleksi museum akibat buruknya perilaku pengunjung selama berada di museum.

Memang perlu wawancara mendalam untuk mengungkap hal-hal yang tidak mungkin terungkap melalui metode survei. Kalau perlu, dalam metode etnografi peneliti mendatangi subjek di tempat asalnya. Oleh karena itu metode etnografi membutuhkan alokasi waktu dan biaya yang relatif lebih besar dibandingkan dengan metode survei. Namun hasil yang didapat lebih akurat.

Berikut adalah perbandingan antara metode survei dengan etnografi.
METODE SURVEI
-    Objek studi biasanya dipilih secara acak atau ditentukan oleh peneliti
-    Peneliti tidak memiliki kontak personal dengan masyarakat yang ditelitinya. Biasanya peneliti menggunakan telepon untuk mewawancara responden, atau memakai kuesioner yang harus diisi oleh responden
-    Peneliti lebih memusatkan perhatian pada sejumlah kecil variabel daripada kepada kehidupan masyarakat secara keseluruhan
-    Peneliti biasanya bekerja di lingkungan modern yang melek huruf sehingga responden dapat mengisi kuesioner
-    Hasil penelitian harus dianalisis secara statistik karena respondennya banyak dan cakupan wilayahnya luas.
METODE ETNOGRAFI
-    Subjek penelitian biasanya menyeluruh (whole functioning community)
-    Peneliti mendapatkan data dengan cara terjun langsung ke masyarakat (first-hand fieldwork)
-    Peneliti memiliki hubungan pribadi dengan masyarakat yang diteliti, yang didasarkan pada hubungan pribadi dengan informan (key informant/s)
-    Etnografer biasanya mengenal baik informannya dan terlibat dengan kegiatan keseharian masyarakat yang diteliti
-    Peneliti mempelajari seluruh segmen masyarakat, baik yang buta aksara maupun yang melek huruf
-    Tidak perlu statistik karena masyarakat yang diteliti lingkupnya kecil.
Sumber: Kottak, C.P., 1991 Anthropology: the exploration of human diversity, 5th edition, McGraw Hill Inc., New York.

Untuk yang ingin mengetahui lebih jauh tentang penerapan metode etnografi dalam penelitian silakan mampir di sini, atau di sini.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar