Rabu, 29 September 2010

Oleh-oleh dari Jepang


Tulisan menarik ini ditulis oleh seorang dosen yang sedang belajar di Jepang. Saya ingin membaginya dengan Anda semua. Semoga bermanfaat.

Museum dan Orang Jepang
Selama tinggal di Jepang hingga detik ini saya sudah mendatangi banyak museum, mulai dari Museum Toyota, museum vinegar, museum kertas jepang (washi), museum kain jumputan, museum sutera, museum sains, museum keramik, dan satu lagi yang ingin saya datangi museum robot di Nagoya.
 
Banyak sekali museum di Jepang, tersebar di seluruh provinsi, bahkan ada yang secara mandiri membuat dan mengabadikan sejarah nenek moyangnya dalam bentuk museum yang sederhana.  Ada situs yang mendata tentang museum-museum di Jepang, informasinya cukup lengkap.  Silahkan klik di  sini.  Museum di Jepang sangat beragam, sampai ada museum matematika di Ibaraki prefecture.  Kampus kami pun punya museum yang menyimpan benda dan dokumen bersejarah tentang Nagoya University.

Museum termasuk dalam fasilitas yang wajib ada sebagai pusat belajar masyarakat.  MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang) mengkategorikan museum sebagai fasilitas belajar pendidikan sosial. Survey MEXT di tahun 2002 menunjukkan ada 1120 museum dan 4243 fasilitas setipe museum.  Dari keseluruhannya museum yang paling banyak adalah museum sejarah dan museum seni.  Museum sains juga termasuk terbanyak ketiga.

Saya tidak punya data tentang berapa banyak orang Jepang yang datang ke museum setiap tahunnya, tetapi berdasarkan pengamatan sehari-hari, orang Jepang termasuk getol mengunjungi museum.  Bahkan anak-anak sekolah menghabiskan akhir pekannya dengan mendatangi museum-museum.

Membangun sebuah museum memang memerlukan biaya, apalagi jika museumnya berupa gedung yang megah.  Tapi museum yang ada di Jepang terkadang hanya bangunan sederhana yang diusahakan secara privat oleh warga yang mempunyai kaitan dengan sejarah desa misalnya, atau nenek moyangnya secara turun temurun membuat kimono, maka jadilah museum kimono.  Museum tidak hanya dikelola oleh pemerintah tapi juga dikembangkan oleh warga.  Yang menarik banyak perusahaan ternama yang juga membuat museum.  Misalnya museum Toyota yang memaparkan mobil pertama hingga mobil mutakhir produksi Toyota.  Museum uang milik bank Mitsubishi UFJ juga menjadi tempat belajar yang sangat bermanfaat, atau musim listrik milik chubu denki, semacam PLN di wilyah chubu.  Produsen cuka terbesar di Jepang, Mitsukan punya museum di daerah Aichi.  Dua kali saya mengunjungi tempat ini.

Ada suatu penelitian yang mengatakan karakter masyarakat kelas atas atau masyarakat terdidik adalah rajin ke museum, menggemari musik klasik dan rajin datang ke konser. Mungkin ada benarnya sebab hanya orang beruang yang bisa mengakses itu semua. Tapi di Jepang, karena ongkosnya terjangkau, maka masyarakat kelas bawah seperti saya pun kadang-kadang dapat tiket konser gratis atau murah (^_^).

Yang pasti, saya yang hampir tidak pernah mengunjungi museum di Indonesia (karena memang ga ada di daerah saya (>_<)), sangat menikmati berjalan-jalan mengunjungi museum di Jepang.  Saya gemar pergi sendiri, karena bebas mau nongkrong berjam-jam memandangi hasil karya atau kebiasaan saya memotret yang berjam-jam sepertinya tidak akan membuat teman jalan bertahan.  Seperti ketika mengunjungi museum sutra di Nagano bersama teman-teman peserta training guru.  Belum sampai satu jam teman-teman sudah naik ke bis, sedangkan saya masih berkeliling memotret semua mesin dan produk sutra, pun duduk menonton penjelasan tentang silk road, atau bermain-main dengan pupa yang sedang menari.  Saya banyak belajar dari jalan-jalan yang saya lewati berikut tempat-tempat yang saya singgahi dan orang-orang yang dengan semangat berbagi cerita tentang sejarahnya. 

Sumber: www.murniramli.wordpress.com

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar