Rabu, 18 Agustus 2010

Museum di dunia ketiga

Museum Sonobudoyo, Yogyakarta
Hilangnya sejumlah koleksi benda-benda terbuat dari emas murni dari Museum Sonobudoyo membuat kita miris dan prihatin. Apalagi jika mengingat bahwa koleksi tersebut merupakan koleksi sangat bersejarah dari masa kerajaan Mataram Hindu dari abad ke-8 hingga ke-10. Sistem pengamanan museum menjadi sorotan dari berbagai pihak, dan ujung-ujungnya adalah anggaran minim yang dikucurkan kepada museum. Pencurian yang terjadi di Museum Sonobudoyo dinisbahkan pada minimnya anggaran sehingga museum tersebut tidak mampu membangun sistem pengamanan optimal untuk melindungi koleksinya yang berharga. Sudah menjadi rahasia umum bahwa museum di negeri ini masih terpinggirkan dalam hampir semua segi. Namun ternyata kondisi ini tidak dialami negeri kita saja. Simaklah tulisan berikut ini.



MUSEUM DI DUNIA KETIGA
Oleh: Julianty M  (Museum Geologi)

Museum adalah “lembaga tetap yang tidak mencari untung yang melayani kepentingan masyarakat dan pengembangan lembaga itu sendiri serta terbuka untuk umum, yang memperoleh, mengkonservasi, meneliti, mengkomunikasikan dan memperagakan benda-benda bukti peninggalan manusia dan lingkungannya untuk kepentingan studi, pendidikan dan rekreasi” (ICOM Statutes, 2001). Tugas utama museum adalah merawat spesimen untuk mendukung kegiatan penelitian dalam jangka panjang (Miller, 2004). Salah satu aspek unik museum adalah perannya yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan pendidikan masyarakat (Miller, 2004). Berkenaan dengan hal tersebut de Varine menyebutkan bahwa museum adalah “...an educational tool in the service of societal development”  (Hauenschild, 1988).

Sayangnya, museum tampaknya tidak mendapatkan perhatian sebagaimana seharusnya dari pihak pemerintah/negara. Sebagai sebuah lembaga  museum kerap kali dipinggirkan keberadaannya, baik dari segi sumberdaya manusianya maupun dari segi pengadaan anggaran untuk keperluan operasionalnya. Sejauh yang diketahui penulis, belum pernah ada anggaran yang dikhususkan untuk kegiatan yang sifatnya khas permuseuman. Biasanya anggaran untuk museum ditempelkan pada kegiatan lain yang memiliki potensi besar untuk mendapatkan anggaran operasional. Padahal, jika dilihat dari definisi tentang museum yang diberikan oleh ICOM di atas tampak bahwa museum memiliki kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar jika ingin memenuhi fungsinya sebagai sebuah museum. Baik museum milik negara maupun milik swasta dan milik perorangan sama-sama membutuhkan dana opersional dalam skalanya masing-masing. Museum yang paling kecilpun, katakanlah yang hanya memiliki dua orang staf, tetap membutuhkan dana untuk menyelenggarakan kegiatan opersionalnya. Minimal untuk pemeliharaan ruang peragaan. Negara tampaknya belum menganggap perlu diberikannya anggaran yang memadai untuk sebuah museum, dengan dalih masih banyak hal lain yang lebih penting dan membutuhkan anggaran besar juga. Kondisi ini umum terjadi di negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Sebagaimana dikemukakan oleh Sergio Durán Pitarque “.... masalah museum yang paling penting adalah kurangnya dana.”

Pitarque melakukan studi di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Menurutnya kemiskinan di negara-negara tersebutlah yang menyebabkan museum di negara-negara berkembang  menjadi institusi yang statis, karena tidak mampu melakukan kegiatan dan tidak pula mampu meraih pengunjung dari komunitasnya sendiri. Kurangnya dana tersebut berakibat pada ketidakmampuan sebuah museum mempekerjakan staf berkeahlian khusus yang dibutuhkannya. Dalam kondisi seperti ini sebuah museum akhirnya tidak mampu menerapkan teknik museologikal modern dalam melaksanakan tugas dan fungsinya.  Selain itu banyak museum yang harus menghentikan kegiatan karena mereka tidak memiliki peralatan untuk menyelenggarakan pameran secara layak, atau tidak dapat menyimpan koleksi dalam kondisi yang sesuai. Belum lagi jika menyangkut hal-hal lain yang sifatnya “behind the scene”, seperti mendapatkan objek baru untuk penambahan koleksi, menerapkan sistem keamanan yang efisien, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan lain sebagainya.
Untuk lebih lengkapnya, berikut hasil penelitian Pitarque yang telah diterjemahkan dan ditulis ulang:

Selasa, 17 Agustus 2010

Sejarah museum (10)

Koleksi milik perkumpulan kaum terpelajar

Produk lain dari abad ini adalah perkumpulan kaum terpelajar, yang banyak di antaranya muncul untuk mendorong diskusi kelompok, eksperimentasi dan mengumpulkan koleksi. Beberapa di antaranya muncul setidaknya pada abad ke-16. Namun, perkumpulan yang dikenal baik muncul lebih kemudian, misalnya Royal Society of London (1660) dan Academy of Services di Paris (1666). Menjelang pergantian abad, organisasi yang meliputi area subjek yang lain berdiri pula, di antaranya adalah Society of Antiquaries of London (1707), dan perkumpulan kaum terpelajar pun muncul pula di kota-kota kecil provinsi. Ini merupakan awal gerakan yang, melalui terbentuknya koleksi dan promosi subjeknya, memberikan banyak sumbangan dalam pembentukan museum dalam pengertian modern. Sejarah museum modern dimulai pada bagian selanjutnya.

Sumber: Encarta Encyclopaedia

Sejarah museum (9)

Koleksi pribadi yang khusus

Berkembangnya ketertarikan pada manusia dan sejarah alam pada abad ke-16 berakibat pada terciptanya koleksi-koleksi khusus. Di Italia saja pada abad tersebut ada lebih daripada 250 koleksi sejarah alam yang tercatat, termasuk herbarium milik Luca Ghini di Padua dan koleksi yang lebih ekletik milik Ulisse Aldrovandi di Bologna. Koleksi sejarah alam lainnya yang terkenal di mana-mana di Eropa pada masa itu adalah milik Conrad Gesner, Felix Platter, dan kemudian milik keluarga John Tradescants, ayah dan anak. Di antara koleksi sejarah yang khusus adalah potret orang-orang besar yang dikumpulkan oleh Paolo Giovio di Como, koleksi arkeologikal milik keluarga Grimani di Venesia, dan koleksi indah manuskrip beriluminasi yang dikumpulkan oleh Sir Robert Cotton di Inggeris. Sejumlah koleksi lain yang lebih kemudian didapat dari biara-biara yang ditutup selama masa Reformasi. Pada saatnya nanti berbagai koleksi ini akhirnya sampai ke museum. Begitu juga halnya dengan koleksi Ferrante Imperato dari Napoli, koleksi Bernard Paludanus (Berant ten Broecke) dari Amsterdam, dan koleksi Ole Worm dari Kopenhagen.

Koleksi seperti ini pada abad ke-16 di Inggeris dan Perancis biasanya dikenal sebagai cabinet, sedangkan di wilayah Eropa yang berbahasa Jerman digunakan istilah Kammer atau Kabinett. Kadang-kadang digunakan istilah yang lebih mendekati, istilah Kunstkammer dan Rüstkammer, misalnya, secara berturut-turut merujuk pada koleksi seni dan koleksi objek bersejarah atau perlengkapan perang. Spesimen alam dikelompokkan ke dalam Wunderkammer atau Naturalienkabinett. Di Inggeris istilah gallery dipinjam dari bahasa Italia galleria, dan merujuk pada tempat yang digunakan untuk memamerkan lukisan dan patung. Salah satu koleksi spesimen alam dari Italia disebut museo naturale.

Pada tahun 1565 Samuel van Quicheberg menerbitkan sebuah karya tentang sifat koleksi, yang menyebutkan bahwa koleksi merupakan representasi klasifikasi sistematik dari semua material yang ada di alam semesta. Pandangannya ini mencerminkan semangat sistem dan pencarian rasional yang mulai muncul di Eropa. Koleksi objek natural dan artifisial akan memainkan peran penting dalam gerakan ini. Hal ini misalnya dapat diilhat pada berbagai kajian tentang barang antik, dalam karya Nicolas-Claude Fabri de Peiresc di Aix-en-Provence di Perancis pada awal abad ke-17, atau pada klasifikasi kerajaan tumbuhan dan binatang yang dibuat oleh Carolus Linnaeus satu abad kemudian. Untuk kolektor yang tidak begitu khusus, karya seperti Museographia karya Casper F. Neickel (nama samaran Karpar Friedrich Jenequel) yang terbit di Leipzig tahun 1727, secara umum dapat membantu dalam melakukan klasifikasi, perawatan koleksi, dan mengidentifikasi sumber-sumber potensial yang mungkin dapat mengembangkan koleksi.

Sumber: Encarta Encyclopaedia

Sejarah museum (8)


Koleksi kerajaan

Koleksi kerajaan berkembang di mana-mana di Eropa. Pada abad ke-15 Raja Matthias I dari Hongaria mengoleksi berbagai lukisan di Buda dan menyimpan berbagai barang antik dari masa Romawi di Kastil Szombathely. Maximilian I dari Austria memperoleh sebuah koleksi untuk kastilnya di Wina. Aneka benda, baik materi ilmiah maupun seni, ditampilkan di “green vaults” di istana Augustus of Saxony di Dresden, sementara archduke Ferdinand of Tirol menyimpan berbagai koleksi termasuk gading dari Benin dan lukisan Cina di Kastil Ambras dekat Insbruck. Koleksi-koleksi terkenal lainnya dari Eropa tengah termasuk koleksi kaisar Romawi Suci Rufolf II di Praha dan koleksi Albert V, duke Bavaria, yang dari 1563-1571 memerintahkan untuk merancang dan mendirikan bangunan untuk menyimpan koleksinya di Munich. Koleksi milik raja Polandia Sigismund II Augustus disimpan di Kastil Wawel, Krakow.

Perlindungan dari pihak kerajaan amatlah penting dalam mendorong kemajuan seni pada masa ini. Rudolf II mensponsori para ahli astrologi, ahli alkemi dan para seniman. Francis I dari Perancis mengundang berbagai pengrajin dan seniman terkenal dari Italia dan Perancis untuk membangun kembali dan memperindah kastilnya di Fontainebleu, dan di sana dia menyimpan koleksi seninya yang luar biasa. Henry VIII di Inggeris memberi perhatian pada musik dan dengan demikian tidak membangun koleksi penting. Tetapi dia bertanggung jawab atas pengampuan King’s Antiquary (pengampu barang antik milik raja) pada tahun 1533 yang bertugas membuat daftar dan mendeskripsi barang-barang antik milik negara. (Pengampuan serupa berturut-turut dibentuk pula oleh keluarga kerajaan Habsburg dan Raja Gustav II Adolf dari Swedia). Baru pada abad ke-17 koleksi penting pertama milik kerajaan dibentuk di Inggeris oleh Charles I, yang akhirnya tercerai-berai setelah dia dihukum mati pada tahun 1649. Setelah Restorasi, Charles II juga mengurus sejumlah koleksi, tetapi kemudian koleksi ini hilang terbakar di Istana Whitehall pada tahun 1698. Pada awal pemerintahan Charles II, diselenggarakan pameran senjata dan tameng di Tower of London; karena jelas-jelas untuk kepentingan umum, pameran ini menandai sebuah langkah penting dalam perkembangan museum Royal Armouries (museum Senjata Kerajaan).

Sumber : Encarta Encyclopaedia

Sejarah museum (7)

Italia pada masa Renesans
Berbagai pengaruh yang mengarah pada Renesans Eropa sudah terasa di Italia, dan akibatnya koleksi agung pertama pun mulai terbentuk. Kebangkitan kembali ketertarikan terhadap warisan klasik Italia dan bangkitnya keluarga-keluarga bankir dan pedagang baru di gerbang Mediterania utara yang menuju Eropa kontinental ini menghasilkan koleksi barang antik yang impresif (mengesankan) dan sejumlah pelindung (patron) di bidang seni. Yang terkemuka di antara koleksi ini adalah koleksi milik Cosimo de Medici di Florence pada abad ke-15. Koleksi ini dibangun oleh keturunan Cosimo de Medici sebelum akhirnya diserahkan kepada negara pada tahun 1743, agar dapat diakses “oleh rakyat Tuscany dan oleh semua rakyat”. Untuk memperagakan sebagian lukisan milik keluaga Medici ini, lantai atas Istana Uffizi (dirancang untuk menanpung pegawai atau uffizi) diubah dan dibuka untuk umum pada tahun 1582. Tentunya banyak istana yang menyimpan koleksi semacam ini yang dibuka untuk pengunjung dan ada dalam daftar panduan wisata pada masa itu.

Sumber: Encarta Encyclopaedia

Sejarah museum (6)

Eropa abad pertengahan

Di Eropa abad pertengahan koleksi yang ada terutama menjadi hak istimewa kaum bangsawan dan gereja. Tentu saja seringkali ada hubungan dekat di antara keduanya, seperti dalam kasus kekayaan berharga milik kaisar Charlemagne, yang dibagi-bagi di antara sejumlah rumah ibadah pada awal abad ke-9. Kekayaan semacam itu memiliki nilai ekonomi penting dan digunakan untuk membiayai perang serta pengeluaran negara lainnya. Koleksi lainnya berupa benda yang dianggap relik agama Kristen, yang juga banyak diperdagangkan. Pada masa tersebut maritim Eropa berhubungan dengan bagian dunia lain terutama melalui pelabuhan Lombardi dan Tuscany di Mediterania utara. Keduanya memiliki kepentingan eklesiastik (berkaitan dengan gereja – penerj.) dengan Romawi, dan menghasilkan banyak kontak dengan semenanjung Italia dan benua Eropa. Ada bukti pergerakan benda-benda antik dan perdagangan benda-benda tersebut sejak abad ke-12. Henry of Blois, uskup Winchester, dilaporkan membeli patung-patung kuno selama kunjungannya ke Romawi pada tahun 1151 dan mengirimkan patung-patung tersebut ke Inggeris dengan menempuh perjalanan selama sebulan lamanya.

Pergerakan barang-barang antik ini tidak terbatas hanya di Italia. Benda-benda eksotik dari wilayah lain yang memasuki pelabuhan Italia segera saja menjadi koleksi raja, sementara keterlibatan Venesia dalam Perang Salib pada awal abad ke-13 berakibat pada berpindahnya patung kuda perunggu yang terkenal dari Konstantinopel ke Basilika San Marco di Venesia.

Sumber: Encarta Encyclopaedia

Sejarah museum (5)


Asia dan Afrika

Di Asia rasa hormat terhadap masa lalu dan tokoh-tokohnya berakibat pada pengumpulan berbagai objek. Kegiatan mengumpulkan ini setidaknya dimulai pada masa dinasti Shang, yang memerintah China sejak kira-kira pertengahan abad ke-16 hingga pertengahan abad ke-11 SM. Kebiasaan ini dikembangkan dengan baik oleh dinasti Ch’in (abad ke-3 SM) – seperti terlihat pada makam kaisar Ch’in bernama Shih huang-ti di dekat Sian (Xian) yang dikawal oleh prajurit dan kuda terbuat yang dari terakota. Bersama-sama dengan bekal kubur lainnya, benda-benda tersebut dilestarikan di situsnya di Museum Patung Ch’in (Museum of Ch’in Figures). Istana Shih huang-ti tercatat memiliki benda-benda langka dan berharga.

Kaisar-kaisar China selanjutnya terus mendukung seni, yang terwujud dalam karya-karya indah di bidang seni lukis, kaligrafi, kriya logam, batu giok, kaca, dan tembikar. Misalnya, kaisar Han, Wu-ti (memerintah 141/140-87/86 SM) mendirikan sebuah akademi yang berisi berbagai lukisan dan kaligrafi dari setiap provinsi di China, dan kaisar Han terakhir, Hsien-ti (turun takhta pada 220 M), mendirikan sebuah galeri yang berisi potret para menterinya.

Di Jepang, kuil Tödai, yang menyimpan patung perunggu Buddha Agung yang sedang duduk (Daibutsu) dalam ukuran raksasa, dibangun pada abad ke-8 di Nara. Kekayaan kuil ini masih dapat dilihat di tempat penyimpanan Shoso-in di sana.

Pada saat yang bersamaan, masyarakat Islam membangun koleksi relik di makam para syuhada awal. Gagasan wakaf, yang diformalkan oleh Nabi Muhammad, yaitu memberikan kekayaan untuk kepentingan umum dan tujuan keagamaan, juga berakibat pada terbentuknya berbagai koleksi. Di kawasan tropis Afrika kegiatan mengoleksi berbagai benda juga memiliki sejarah panjang, seperti terlihat di tempat-tempat suci sepanjang jalan dan beberapa upacara keagamaan tertentu. Di beberapa bagian dunia lainpun ada pula berbagai koleksi serupa.

Sumber: Encarta Encyclopaedia