Senin, 23 Mei 2011

PENDIDIKAN GEOLOGI DI MUSEUM KEGEOLOGIAN

Oleh: Julianty M

Museum dan perpustakaan dewasa ini menjadi ciri bagi kota-kota modern, khususnya di negara-negara maju. Kedua lembaga tersebut mencerminkan tingkat keterpelajaran masyarakat tempat museum dan perpustakaan tersebut berada. Dengan demikian museum erat kaitannya dengan dunia pendidikan, bahkan menjadi sarana bagi pendidikan itu sendiri. ICOFOM mendefinisikan pendidikan di museum (museal education)  sebagai serangkaian nilai, gagasan, pengetahuan dan praktik yang bertujuan meningkatkan perkembangan (pengetahuan – pen.) pengunjung. Lebih khusus lagi, pendidikan di museum berhubungan dengan mobilisasi pengetahuan yang berasal dari museum (ICOFOM).

Bagaimana sebenarnya penyelenggaraan pendidikan di museum dijalankan?

Pendidikan di  museum dilakukan melalui objek (koleksi) yang disusun dalam sebuah sistem tata peragaan, dan menurut Rebbert (2007) museum memberikan kesempatan kepada para pembelajar untuk melakukan perjumpaan dengan objek secara nyata (koleksi museum). Para edukator di museum menyusun objek dan mengelompokkannya berdasarkan berbagai kategori kemudian memberinya interpretasi sehingga objek tersebut memiliki nilai informasi dan menjadi informasi bagi siapa saja yang mengamatinya.  Yang perlu dipahami adalah bahwa museum bukanlah lembaga pendidikan formal melainkan lembaga pendidikan informal.

Pendidikan formal diselenggarakan secara klasikal (di dalam kelas)di sekolah dan memiliki kurikulum, standar kelulusan serta tenaga pengajar (guru) yang memiliki kompetensi di bidang/mata pelajaran yang diajarkan. Pendidikan informal diselenggarakan di luar sekolah, di antaranya dalam keluarga, dalam organisasi sosial kemasyarakatan, di museum dan di perpustakaan. Pada pendidikan informal para pembelajar bergerak bebas mencari informasi yang dibutuhkannya, dan para pembelajar dapat lebih santai belajar karena tidak ada tekanan harus menyelesaikan tugas dan pekerjaan rumah, atau keharusan lulus ujian dan lain sebagainya.
Koleksi geologi yang ada di Museum Geologi di Bandung maupun di museum-museum kegeologian lainnya di lingkungan KESDM memiliki nilai penting bagi pendidikan geologi di museum. Situs museum geologi San Bernardino menyebutkan bahwa:
·    Koleksi geologi menampilkan sejarah geologi Bumi, termasuk sejarah perubahan iklim dan bentuk-bentuk mahluk hidup.
·    Koleksi geologi membantu kita memetakan lokasi-lokasi sumber daya alam dan kekayaan keanekaragaman hayati di muka bumi
·    Koleksi geologi memiliki informasi kunci yang kita butuhkan untuk melindungi sumber daya alam yang kita miliki.

Museum-museum kegeologian di lingkungan KESDM didirikan atas dasar pemikiran pentingnya masyarakat mengetahui kondisi geologi tempat tinggalnya, di samping juga mengingatkan kita bahwa kita memilki kekayaan alam berlimpah sekaligus potensi bencana yang tidak dapat dianggap remeh.
Museum Tsunami di Banda Aceh dapat mengingatkan kita betapa dahsyatnya kekuatan alam. Museum Karst di Wonogiri menampilkan bentangalam unik dan kekayaan keanekaragaman hayati di kawasan karst. Informasi semacam ini dapat digunakan untuk menyusun rencana konservasi kawasan tersebut. Demikian pula halnya dengan Museum Gunungapi Merapi dan Batur. Keduanya memberikan informasi berharga tentang gunungapi, khususnya Gunung Merapi dan Gunung Batur, mulai dari bencana yang ditimbulkannya hingga ke manfaat yang dihasilkannya. Dengan mengetahui semua itu kita dapat mengantisipasi kejadian bencana melalui upaya-upaya mitigasi, sekaligus juga melakukan konservasi di kawasan sekitar gunung-gunung tersebut.

Koleksi batuan, mineral dan fosil di Museum Geologi di Bandung juga tak kalah pentingnya. Semuanya menjadi informasi edukatif yang sangat kaya bagi para pembelajar yang datang ke museum. Stanley (2004) mengelompokkan nilai penting koleksi geologi ke dalam lima kategori nilai, yaitu:
1.    Research value
Dari sisi penelitian, koleksi geologi dapat digunakan untuk mengukur perubahan iklim dan keanekaragaman hayati secara global. Koleksi geologi juga bermanfaat ketika para ahli akan melakukan eksplorasi sumber daya alam (misalnya digunakannya biostratigrafi dalam eksplorasi minyakbumi), penelitian batuan dan mineral untuk bahan bangunan, penelitian sejarah Bumi dan sejarah kehidupan di Bumi, serta penelitian mineral untuk membedakan mineral asli dengan mineral sintetis.
2.    Cultural value
Hobi mengumpulkan aneka koleksi geologi (batuan, mineral, fosil) dapat menjadi ajang kumpul-kumpul dan silaturahim antarsesama penggemar koleksi dimaksud.
3.    Financial value
Batuan, mineral dan fosil yang memiliki keunikan tertentu biasanya memiliki nilai tinggi sehingga harganya mahal.
4.    Educational value
Koleksi geologi dapat dijadikan sumber pelajaran dan pendidikan, terutama dalam lifelong learning di museum.
5.    Entertainment value
Batuan, mineral, dan fosil yang bentuk dan warnanya indah memiliki nilai estetik bagi siapapun yang memandangnya.
*****
Bahan bacaan:
ICOFOM, Key Concepts in Museology, ICOM-UNESCO, 2006.
Stanley, Mick, Standards in Museum Care of Geological Collections, Museum, Libraries and Archives Council (MLA), 2004
*****
Tulisan di atas disampaikan pada Public Lecture tanggal 21 Mei 2011 di Bandung dalam rangka Hari Ulang Tahun Museum Geologi dan Hari Museum Internasional

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar