Senin, 06 Juni 2011

Museum dan Pendidikan (lagi!)

Wisata Edukasi di Museum

Oleh: Wanda Listiani


Museum sebagai pilihan wisata edukasi belum banyak dilakukan oleh masyarakat kita. Padahal koleksi museum menyimpan budaya masa lalu dan diperuntukkan bagi generasi mendatang sebagai pembelajaran. Museum menjadi media bagi pengunjung untuk mencari inspirasi, memahami dan hiburan di waktu luang.

Museum tidak hanya mengoleksi budaya material dan sejarah sosial keseharian tapi juga termasuk mengoleksi perilaku manusia. Museum sebagai tempat sebuah koleksi dan sebagai wilayah reposisi dimana proses berjalannya negosiasi tentang makna dan nilai budaya masyarakat tertentu. Museum mendefinisikan identitas dan latar budaya lewat koleksi yang ada didalamnya. Perkembangan evolusi manusia, sejarah tulisan, lapisan batu mulia, berbagai rumah adat dan perlengkapan upacara serta pengetahuan yang pernah hidup di masa lalu dapat dijumpai dalam museum. Tak heran kalau benda-benda bersejarah menjadi sasaran oknum tertentu untuk diperjualbelikan karena nilai ekonominya yang sangat tinggi.

Bandung menawarkan berbagai pilihan wisata edukasi seperti museum Sri Baduga, museum Barli, museum Geologi, museum Pos Indonesia, museum Konferensi Asia Afrika. Keunikan museum dengan berbagai ukuran dan koleksinya memberikan variasi pengetahuan bagi pengunjung. Kunjungan museum tergantung pada ketertarikan dan antusias pengunjung. Museum menyimpan, mengumpulkan dan memberikan akses budaya masalalu kepada masyarakat melalui koleksi. Peran museum bagi masyarakat, pertama, sebagai tempat rekreasi belajar. Kedua, rekonstruksi masa lalu. Ketiga, sebagai bukti material sebuah kearifan lokal.

Pendidikan informal dalam museum distrukturisasi melalui gerakan dalam ruang. Tata ruang dalam museum membentuk cara dimana pengunjung menggali pengetahuan, terlibat dan memahami koleksi. Hal ini ditunjukkan dengan pola perilaku yang tersistematis berhubungan dengan karakteristik akses ruang dan jarak penglihatan. Penataan koleksi juga mempengaruhi pola akses pengunjung di dalam melihat koleksi secara berurutan sesuai dengan periodesasi maupun tema koleksi yang ada di museum.

Karakter unik pendidikan informal dalam museum merupakan pesan pendidikan yang dikonstruksi melalui gerakan dalam ruang. Cara pengunjung mengakses museum tergantung pada sistem tanda atau petunjuk. Pola kemudahan akses melalui ruang pameran, koneksi dan elemen pameran membentuk persepsi dan pemahaman pengunjung. Begitu pula dengan bentuk ruang, tata ruang bangunan, penempatan elemen pameran dalam layout, atau struktur ruang yang tersedia, berdampak pada gerakan, kontak visual dan keterlibatan aktif pengunjung.

Museum Geologi misalnya, memberikan pengalaman yang unik kepada pengunjung. Pemanfaatan penggunaan imajinasi pengunjung untuk merangsang kepekaan dan rasa pada cerita sejarah masalalu. Museum Geologi tidak hanya sebuah tempat artefak naratif atas pengembangan peradaban modern. Namun juga sebagai teknologi produksi atas perbedaan sosial, politik dan budaya masyarakat yang telah punah. Berbagai perbedaan ini kemudian direkonstruksi kembali mendekati bentuk yang nyata seperti aslinya dalam sebuah replika. Replika binatang purba, replika busana, replika rumah adat dan tempat tinggal, replika batu mulia, replika karya seni, replika senjata dan peralatan rumah tangga dan lain sebagainya.

Museum melakukan pengembangan dan desain ulang kehidupan dan peradaban masa lalu lewat pameran, alih pengetahuan dan pertukaran koleksi serta sumber daya ke berbagai wilayah. Dari keempat medium ini diharapkan pengunjung mendapat nilai pembelajaran baik pemahaman ideologi, tradisi dan budaya untuk memahami konteks perkembangan ilmu pengetahuan dan peradaban.

Begitu pula dengan pengetahuan kearifan lokal yang tersimpan dalam museum Sri Baduga Bandung. Berbagai motif batik, teknik pewarnaan dan penggunaannya yang dianggap kuno mengandung nilai-nilai kearifan lokal. Nilai yang tidak begitu saja tumbuh tapi sarat dengan pembelajaran dan pengetahuan tentang alam. Kearifan lokal menjadi alternatif pencegahan bencana yang terjadi karena kerusakan alam dan lingkungan akibat ulah manusia. Idiom pamali misalnya dikenal sejak lama dalam masyarakat Sunda, untuk memberi peringatan, penghidupan dan pemeliharaan tentang cara-cara memperlakukan sumber mata air. Begitupula dengan penggunaan warna alam dari tumbuhan dan rempah-rempah pada proses pewarnaan batik.

Pengembangan kota Bandung sebagai kota wisata museum tidak hanya terbatas pada ruang namun tempat bersejarah. Hal ini dibuktikan dengan adanya museum-museum bertumbuh yang tersimpan dalam bangunan bersejarah di sepanjang jalan Braga dan jalan Dago. Bangunan yang memberikan tanda bahwa pertama, perlu kebijakan tata ruang tempat-tempat bersejarah dan pemeliharaan ruang publik. Kedua, sosialiasi dan publikasi koleksi museum pada masyarakat secara berkala. Ketiga, pameran koleksi di pusat perbelanjaan dan ruang publik kota Bandung. Keempat, pengenalan museum sejak dini pada siswa sekolah dasar dan menengah dalam kurikulum pendidikan di Jawa Barat. Semoga keempat resolusi museum pada tahun 2011 ini membawa sejarah baru dalam permuseuman bertumbuh Kota Bandung.

Sumber: http://sosbud.kompasiana.com/2011/03/24/wisata-edukasi-di-museum/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar