Rabu, 02 November 2011

Pameran Keliling Bersama

Tak terasa setahun berlalu sejak Pameran Keliling Bersama terakhir di Karawang. Pameran tahun ini akan diselenggarakan di Kabupaten Subang mulai tanggal 9-12 November 2011. Pameran kali ini tampaknya akan berbeda dengan pamera-pameran sebelumnya karena panitia penyelenggara menyewa jasa konsultan untuk penataan pameran secara keseluruhan. Konsep pameran kali ini mengusung tema minimalis sehingga museum peserta pameran diharapkan hanya membawa koleksi dalam jumlah minimal dan menampilkannya sebagai simbol. Melihat konsep ini saya senang sekali karena selama ini jika berpameran para peserta cenderung ingin memamerkan sebanyak mungkin koleksi miliknya sehingga arena pameran terkesan sesak. Minimalnya jumlah koleksi yang harus dipamerkan sempat membuat peserta kebingungan karena mereka harus menata ulang konsep pameran sesuai dengan tata pameran baru ini. Pemilihan dan pemilahan koleksi tentu harus sangat hati-hati dan dipertimbangkan masak-masak.

Jika rancangan minimalis ini terwujud, maka akan menjadi sesuatu yang menyegarkan bagi dunia permuseuman di Tanah Air, khususnya di Jawa Barat. Sang konsultan tampaknya ingin membangun citra museum di mata masyarakat, dan ini patut dihargai. Saya sudah tidak sabar ingin segera melihat bagaimana jadinya nanti. Kita tunggu saja!


Kamis, 20 Oktober 2011

Museum Kabupaten Subang

Tanggal 10 Oktober yang lalu saya berkunjung ke Museum Kabupaten Subang. Ruangan museum menempati sayap kanan gedung tua peninggalan zaman kolonial Belanda. Dahulu gedung ini bernama Societet (sekarang Wisma Karya) dan berfungsi sebagai tempat kumpul-kumpul pejabat dan pengusaha Belanda kala itu. Gedung ini masih megah, namun sayang tidak terawat. Di luar bangunan terserak sampah, dan hidung kita disergap bau pesing yang menyengat. Padahal di dalam bangunan terdapat kantor pemerintah. Selasar gedung digunakan sebagai track Tamiya, konon yang terpanjang di kota ini.
 
Tampak luar gedung Wisma Karya (foto: Julimar)

Track Tamiya di selasar (foto: Julimar)

Sampah & bau pesing di sebuah sudut (foto: Julimar)
 

Ketika masuk ke dalam museum saya disambut patung diri Peter Willem Hofland, seorang pengusaha perkebunan dan saudagar kopi yang menjadi tuan tanah di daerah Subang pada sekitar abad ke-19. Dia adalah pemilik perkebunan kopi Pamanoekan & Tjiasemlanden (P & T). Patung diri Peter Willem Hofland ini dahulunya terdapat di perkebunan miliknya tersebut. 
Patung P.W. Hofland di pintu masuk (foto: Julimar)

Patung P.W. Hofland sekitar tahun 1920-1935 (foto: Tropenmuseum)
 
Keterangan di atas saya dapatkan setelah berselancar di dunia maya. Petugas museum tidak dapat memberikan keterangan semestinya mengenai patung ini. Kekecewaan saya kepada petugas semakin bertambah ketika yang bersangkutan tidak mampu menjawab keingintahuan saya tentang riwayat koleksi yang ada di museum itu. Padahal koleksi museum ini cukup menarik dan bersejarah. Namun koleksi yang menarik akan “berbicara” jika diberi keterangan yang informatif. Label koleksi terkesan dibuat seadanya dan petugas tidak mampu melengkapi keterbatasan yang ada pada label.
 


Sebagian koleks museum (foto: Julimar)

Secara umum, tampaknya museum ini ingin menyajikan sejarah Subang. Namun hal itu tidak tergambar pada alur cerita yang dibangun (alur cerita malah tidak terbangun). Benda koleksi yang ada terkesan sekedar ditampilkan dan dipamerkan tanpa diberi interpretasi apapun. Sayang, sungguh sayang. Sebagai sebuah museum milik pemerintah seyogyanya Museum Kabupaten Subang ini mampu menampilkan citra yang ingin dibangun akan sebuah kota. 

Ruang pameran yang tak terawat (foto: Julimar)

Lemari koleksi yang menyedihkan (foto: Julimar)

Rabu, 19 Oktober 2011

Museum dan Mal

Terobosan dilakukan oleh Museum Negeri Jawa Barat Sri Baduga dengan berpameran di mal Bandung Indah Plaza mulai tanggal 11 – 16 Oktober 2011. Butuh waktu cukup lama tampaknya agar pameran ini dapat terwujud (wacana museum goes to mall sudah cukup lama dilontarkan). Ketika akhirnya wacana itu mengejawantah maka publik pun menanggapinya dengan antusias. Setidaknya itu yang saya rasakan ketika berkunjung ke pameran tersebut. Aneka artefak berbahan dasar bambu menjadi pemandangan yang khas di BIP selama lima hari pameran tersebut. Sayangnya ruang pamer tampak terbatas (dibatasi?) sehingga kesan sempit sangat terasa. Namun demikian, hal itu tidak menjadikan penampilan aneka perkakas bambu tersebut berkurang nilai artistiknya di tengah-tengah aneka benda impor modern yang kontras dengan sisi tradisional bambu. Penyelenggara pameran bertindak cerdas dengan menampilkan gambar toong sebagai titik pusat penarik perhatian pengunjung. Benda ini sebenarnya semacam  bioskop yang untuk menontonnya orang harus noong (b. Sunda, mengintip). Zaman dahulu perkakas ini merupakan alat untuk mendongeng, dan pendongeng biasanya keliling keluar masuk kampung. Di dalam perangkat ini ada serangkaian gambar dan sang pendongeng berada di luar perangkat. Dia bercerita berdasarkan gambar yang ada di dalam dengan diiringi akordeon. Tentu saja pada pameran ini sang pendongeng tidak disertakan karena zaman sekarang sudah tidak ada pendongeng semacam ini. Pengunjung hanya dapat menikmati aneka gambar hitam putih yang ada di dalam perangkat tersebut.
 
Berikut ini adalah foto-foto suasana pameran.






Gambar Toong (foto: Julimar)

Pengunjung mencoba noong (atas dan bawah). Foto: Julimar

 

Jumat, 07 Oktober 2011

Hari Pertambangan 2011

Ucapan selamat di pintu masuk arena pameran (Foto: Julimar)
Tanggal 28 September diperingati sebagai Hari Pertambangan di Indonesia. Peringatan perdananya baru saja dilaksanakan bersamaan dengan pameran yang berlangsung pada tanggal 28 September  - 2 Oktober 2011 bertempat di Museum Minyak dan Gas Bumi dan Museum Listrik dan Energi Baru, Taman Mini Indonesia Indah. Pameran diikuti oleh berbagai pemangku kepentingan di dunia pertambangan dan energi baik perusahaan swasta maupun instansi pemerintah.




Alat survei antik koleksi Museum Geologi (Foto: Mirza)
Museum Geologi turut mengisi salah satu gerai di bawah Badan Geologi, dengan menampilkan koleksi fosil gading dan rahang stegodon hasil ekskavasi di Flores (Nusa Tenggara Timur). Selain itu Museum Geologi juga membawa koleksi peralatan survei antik buatan Jerman yang berasal dari masa sebelum Perang Dunia II berikut poster sejarah singkat pertambangan di Indonesia. 





Fosil gading & rahang stegodon Flores (foto: Mirza)
Ada hal penting yang perlu diketahui oleh siapapun yang mengikuti pameran. Pameran sebenarnya adalah ajang untuk promosi dan membangun citra positif bagi peserta. Sebuah perusahaan ataupun instansi pemerintah yang mengikuti pameran seyogyanya bersungguh-sungguh dalam mempersiapkan pameran dan mempersiapkan tenaga yang memadai untuk menjaga gerai dan memberikan informasi kepada pengunjung pameran. Pengunjung pameran adalah masyarakat umum dengan tingkat pengetahuan dan keingintahuan yang sangat beragam. Berpameran secara filosofis adalah memberikan edukasi dan informasi kepada pengunjung tentang apa yang kita tampilkan. Jadi berpameran bukanlah sekedar memajang barang dan aneka produk, melainkan juga memberikan informasi. Setiap barang yang dipamerkan harus disertai dengan informasi yang memadai. Jika peserta pameran tidak menyediakan informasi tertulis tentang apa yang dipamerkannya, maka dia harus menyediakan orang yang mampu (kompeten) memberikan penjelasan dan informasi kepada pengunjung.

Anak-anak serius mencoba teodolit kuno (atas) dan membaca brosur Museum Geologi (bawah). Foto: Julimar




Jangan menyepelekan pengunjung. Itu yang harus tertanam dalam benak setiap peserta dan penyelenggara pameran.

Minggu, 25 September 2011

Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Permuseuman

Rancangan Peraturan Pemerintah tentang permuseuman masih digodok. Banyak hal yang perlu dicermati dari RPP tersebut. Hal menonjol yang perlu diperhatikan adalah kurang terwadahinya museum-museum khusus yang berada di luar Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata. Pasal-pasal dalam RPP tersebut sangat kental diwarnai kepentingan Kemenbudpar dan saya mendapat kesan bahwa museum yang diwadahi "hanya" yang berada di lingkungan Kemenbudpar. Direktorat Permuseuman seyogyanya lebih terbuka dan adil melihat permasalahan karena lembaga ini membawahkan seluruh museum di wilayah republik ini. Dari diskusi yang berlangsung pada waktu pembahasan tampak banyak sekali persoalan yang tidak jelas ke mana cantolannya. Masih banyak hal rancu dan bias. Logika berpikir tampaknya perlu disusun kembali dan ditajamkan dengan kerendahan hati untuk menerima masukan serta belajar dari berbagai literatur permuseuman di negara-negra maju yang telah mapan dunia permuseumannya. Harapan saya pribadi direktorat tersebut seharusnya tidak berada di bawah Kemenbudpar. Seharusnya lembaga ini menjadi lembaga yang independen, terbebas dari kepentingan kementerian mana pun. Semoga draft rancangan tersebut berhasil mengeluarkan PP yang dapat diterapkan secara umum kepada semua museum di Indonesia.

Selasa, 13 September 2011

10 Tip Untuk Menyusun Tata Pameran di Museum

       1. Motivate visitor
Tata pameran yang baik harus mampu memotivasi pengunjung: tentukan kepada siapa informasi ditujukan, apakah pengunjung umum ataukan pengunjung khusus.
       2. Focus content
Fokuslah pada isi, saringlah informasi yang ingin disampaikan sehingga pengunjung tidak dijejali dengan terlalu banyak informasi yang malah akan membuatnya enggan menerima informasi tersebut.
       3. Immersion
Buatlah informasi sedemikian rupa sehingga pengunjung merasa terlibat. Ikatlah pengunjung dengan sebuah "cerita", apa yang ditampilkan harus membangkitkan rasa ingin tahu lebih lanjut.
       4. Modularity 
Susunlah tema kecil-kecil tetapi bersifat menyeluruh dan mudah dipahami. Hindari menyajikan satu tema besar yang rumit.
       5. Skimmability
Skimmability adalah kemampuan sebuah informasi untuk dicerna sambil lalu. Jadi yang dimaksud di sini adalah sistem tata pameran harus dibuat sedemikian rupa sehingga pengunjung dapat memahaminya dengan mudah walaupun dia hanya membaca/melihat sepintas/sebentar. Ingatlah bahwa pengunjung museum berasal dari berbagai tingkatan pendidikan,  berbagai tingkatan ketertarikan, dan berbagai tingkat ketahanan untuk berdiri berlama-lama.
       6. Patterns
Pola sirkulasi lalu-lintas pengunjung merupakan hal yang juga harus diperhatikan demi kemudahan mereka memahami informasi yang disampaikan. Di sini unsur arsitekstur memegang peran penting.
       7. Capture curiosity
Bangkitkan rasa ingin tahu pengunjung: gunakan teknik-teknik storytelling untuk menarik minat pengunjung dan membuat mereka bertahan menikmati sebuah informasi.
       8. Interaction
Bangun interaksi dengan pengunjung dengan melibatkan emosi mereka melalui tata pameran yang interaktif,, baik melalui teknologi maupun dengan cerita yang menarik. Adanya koleksi yang dapat disentuh oleh pengunjung merupakan salah satu cara untuk membangun interaksi.
       9. Integrate technology
Teknologi yang digunakan harus dapat meningkatkan pengalaman pengunjung, bukan sebaliknya. Teknologi sederhana yang dapat memancing rasa ingin  tahu pengunjung kadang-kadang lebih bermanfaat dibandingkan teknologi rumit yang akan membuat pengunjung "bermain-main" dengan peralatan yang ada (bukan mempelajari kandungan informasi yang ada dalam perangkat teknologi tersebut).
      10. Layer content
Sajikan informasi secara berjenjang agar pengunjung mudah memahami apa yang ingin disampaikan.

Selasa, 30 Agustus 2011

Pendidikan Informal di Museum

Ada tiga jenis pendidikan yang selama ini kita kenal, yaitu pendidikan informal, formal, dan nonformal. Pendidikan informal kita dapat sejak kita lahir, yaitu di lingkungan keluarga. Penanaman nilai dan norma yang kita anut diberikan dan dipelajari secara informal melalui contoh dan perilaku orang-orang dewasa di sekitar kita. Ini yang disebut dengan internalisasi. Pendidikan informal memberi dampak kuat dalam kehidupan kita kelak ketika kita dewasa.

Jenis kedua adalah pendidikan formal, yaitu yang dieselnggrakan oleh sekolah. Dalam pendidikan jenis ini ada guru, buku, kelas, penjenjangan, ujian. Titik akhirnya adalah mendapatkan ijazah atau sertifikat. Dengan demikian pendidikan formal memiliki struktur dan sistem tertentu yang cenderung kaku, yang berujung pada adanya sertifikasi.

Jenis ketiga yaitu penddikan nonformal. Pendidikan nonformal adalah bentuk lain atau perpanjangan pendidikan formal tetapi dilakukan di luar sekolah. Bentuk pendidikan seperti ini mulanya diselenggarakan oleh LSM yang memberikan usaha pemberdayaan kepada masyarakat kecil yang lemah secara sosial maupun ekonomi. Dengan demikian kita mengenal ada sekolah di kolong jembatan, atau di perkampungan-perkampungan kumuh di kota tanpa ruang kelas, dan siswanya datang dan pergi tanpa dipungut biaya. Sistem sekolah seperti ini tidak mengejar sertifikasi. Sekedar membaca, menulis, dan berhitung sudah cukup.

Belajar di museum adalah bagian dari pendidikan informal. Namun, latar belajar di museum belum menjadi perhatian dan belum digunakan untuk mengkomunikasikan informasi sosial, budaya dan ilmiah, ataupun memperbaiki miskonsepsi serta meningkatkan keterampilan kognitif dan sikap (Screven, 1993). Belajar di lingkungan informal bersifat sukarela dan "bebas" (tidak ada yang mengarahkan). Tidak ada tuntutan untuk memperhatikan dan tidak ada sanksi bila kita tidak memperhatikan. Screven (1993) menyebutkan empat hal yang mendorong seseorang untuk belajar di lingkungan informal, yaitu: rasa ingin tahu (curiosity), ingin menemukan sesuatu (discovery), melakukan eksplorasi awal (pre-exploration), dan berbagi pengalaman (share experience).

Adakah di antara empat hal di atas yang mendorong Anda untuk datang ke museum secaa sukarela?