Rabu, 22 Desember 2010

Museum Peta

Internet menyediakan berbagai informasi menarik dan penting jika kita memanfaatkannya dengan baik dan benar. Berselancar di dunia maya membuat saya menemukan banyak hal baru, atau juga mengingatkan kembali akan hal-hal yang pernah saya ketahui tapi telah lama terlupakan. Sejak kecil saya selalu tertarik dengan geografi, dan saya selalu membayangkan para penjelajah yang menemukan tempat-tempat baru, bertemu orang baru dan lingkungan alam maupun budaya yang berbeda dengan lingkungan mereka sendiri. Peta merupakan salah satu sarana penting bagi para penjelajah untuk sampai ke tempat-tempat yang mereka inginkan. Pada masa awal penaklukan dunia luar-Eropa, peta pernah menjadi barang berharga yang menjadi bahan rebutan antarnegara. Dengan memiliki peta suatu tempat, sebuah negara dapat menjad penguasa adidaya karena mereka dapat menguasai sumber daya alam dan manusia yang ada di dalamnya. Kegiatan spionase pada masa lalu, salah satunya adalah untuk mendapatkan peta. Bahkan seorang lelaki rela mengkhianati negaranya demi menolong kekasihnya dengan cara menukar peta dengan sebuah pesawat terbang yang akan membawanya ke tempat kekasihnya berada (ingat film/buku The English Patient?).

Indonesia ternyata memilki sebuah Museum Peta, yang katanya satu-satunya di negeri ini (bagaimana dengan instansi militer?). Berita menarik ini saya dapatkan ketika berselancar di dunia maya, dan saya ingin membaginya dengan Anda semua. Silakan baca di bawah ini.

SATU-SATUNYA DI INDONESIA ; Museum Peta UGM, Koleksi Tertua 1810
08/03/2010 00:42:17

Puluhan  mesin tua itu tersimpan rapi di Museum Peta Fakultas Geografi UGM. Dulu, mesin yang rata-rata berukuran besar itu memang jadi andalan untuk membuat peta. Namun sejak teknologi komputer merambah, praktis mesin tersebut tak digunakan lagi.

Tidak jelas kapan alat-alat reproduksi peta itu dibuat. ”Sejak saya kuliah di Fakultas Geografi tahun 1979 mesin sudah ada. Dulu biasa digunakan untuk praktikum mahasiswa,” kata Drs Noorhadi Rahardjo, Kepala Laboratorium Reproduksi Peta dan Kartografi Digital Fakultas Geografi UGM.

Kini mesin sebesar itu sudah dapat digantikan dengan komputer atau laptop yang jauh lebih ringkas. Meski begitu, koleksi alat-alat reproduksi peta itu tetap bernilai tinggi untuk proses pembelajaran. Peta lama punya nilai histori. Keberadaannya penting untuk melakukan evaluasi fenomena geografi secara keruangan. ”Makanya kami sangat peduli dengan peta yang dulu pernah ada,” ujarnya.

Ide pembuatan Museum Peta yang merupakan satu-satunya di Indonesia berawal ketika Noorhadi berkunjung ke Inggris. ”Di sana ada Museum Peta yang koleksinya sangat lengkap. Dari tahun 1700-an hingga 2000,” ujarnya.

Banyak hal yang bisa dipelajari ketika berkunjung ke museum yang diresmikan Dubes India HE Mr Biren Nanda Oktober 2008 lalu.

Museum ini memang didirikan dalam rangka memberikan pemahaman kepada masyarakat tentang sejarah perkembangan peta dan proses pemetaan dari masa ke masa. Museum Peta juga memberikan gambaran pada masyarakat luas tentang proses penyusunan peta dan manfaatnya dalam berbagai bidang. ”Kami ingin menunjukkan sejarah teknologi pembuatan peta pada generasi sekarang,” ujar Noorhadi. Perkembangan ilmu kartografi dari konvensional hingga digital merupakan sejarah yang perlu didokumentasikan untuk dipelajari dan dipahami masyarakat.

Begitu memasuki ruangan yang tidak begitu luas, pengunjung langsung disambut dengan maket peta DIY berukuran besar. Kecuali itu ada pula peta Yogyakarta dengan skala 1:10 ribu buatan tahun 1837 yang ditempel di dinding. Koleksi tertua lainnya adalah peta Holland buatan Belanda 1810.
Meski dibuat secara konvensional, namun peta-peta tua itu tak kalah berkualitas dengan peta jaman sekarang yang dibuat secara digital. ”Sebagian peta yang ada di sini peninggalan Belanda,” kata Untari, petugas Laboratorium Desain Konstruksi dan Analisa Peta.

Sebagian besar mesin yang ada di museum juga masih bisa digunakan. Hanya saja untuk kondisi sekarang memang kurang efisien. Produksi terakhir dilakukan sekitar tahun 1993 untuk mencetak peta kampus.

Dijelaskan Untari, sebelum komputer menjamur, proses reproduksi peta sangat rumit. Untuk mengubah skala peta misalnya, digunakan mesin map o graph buatan 1979 yang ukurannya cukup besar. Tidak seperti sekarang tinggal klik komputer skala bisa diubah dengan cepat dan akurat.

Ada 13 koleksi alat reproduksi peta yang tersimpan di museum itu. Antara lain pantograph yang berfungsi mengubah skala secara mekanik, meja potong film, enlarger untuk afdruk fotografi, pototypesetter untuk membuat teks secara fotografi.

Tak hanya itu, Museum Peta juga memiliki koleksi alat-alat ukur survei pemetaan sebanyak 15 unit. Antara lain theodolith (pengadaan tahun 1970-1997) yang berfungsi mengukur sudut, jarak dan beda tinggi. Ada pula kompas surveying (pengadaan 1970), plantimer (1970) yang digunakan untuk mengukur luas dll.

Museum juga dilengkapi dengan ruang copy film yang dulu digunakan untuk mencetak peta sebelum ada teknologi printing. ”Dulu mencetak peta prosesnya hampir sama dengan afdruk foto,” ujar Untari.

Drs Sukwarjono MSi, pengajar Jurusan Sistem Informasi Geografi dan Pengembangan Wilayah mengatakan, membuat peta tidaklah mudah. ”Melalui peta kita berusaha membuat gambar atau simbol dari kenampakan alam,” ujarnya. Dalam pembuatannya juga diberikan simbol/tanda yang mudah dimengerti masyarakat luas.

Meski menempati ruangan yang tidak begitu luas, Museum dan Perpustakaan Peta UGM sudah sering dikunjungi siswa dan guru dari berbagai daerah. Museum ini menjadi tempat pembelajaran yang nyata bagi mereka.(Ast)-e

Sumber: http://www.kr.co.id/web/detail.php?sid=210855

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar