Selasa, 22 Februari 2011

Perut tak kenyang, kekayaan melayang

Negeri kita kaya akan kekayaan alam maupun budaya, namun kita tetap miskin karena ulah kita sendiri. Kita tidak mau memanfaatkan kekayaan yang kita miliki untuk membangun bangsa secara menyeluruh. Kekayaan tak ternilai yang kita punya malah dijual dengan harga sangat murah kepada pihak asing dalam berbagai bentuk dan cara. Kenikmatan sesaat yang merusak, demi sesuap nasi. Benarkah demi sesuap nasi? Ataukah hanya ingin memenuhi nafsu serakah yang sebenarnya tak kan pernah terpuaskan?

Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak benda bersejarah negeri kita dilarikan ke luar negeri oleh orang berduit yang ingin dapat duit tambahan dengan menjarah negeri sendiri. Kita tak mendapat apa-apa selain kisah sejarah yang terputus dan bekas tinggalan yang terserak tanpa makna karena sudah kehilangan konteksnya.
Penggali liar (Foto; Ewon)

Namun, Allah Mahabesar. Di tengah-tengah himpitan gaya hidup hedonistik sekarang ini masih ada orang-orang "gila" yang berjuang menyelamatkan kekayaan negerinya yang masih tersisa. Mereka adalah sebuah komunitas kecil di kota kecil Bojonegoro. Mereka berupaya secara mandiri untuk mengumpulkan tinggalan-tinggalan sejarah dan prasejarah daerahnya dari penjarahan para penggali liar yang menjarah kubur-kubur kuno di sekitar pemukiman mereka. Berbagai artefak kuno yang diduga sebagai bekal kubur sedikit demi sedikit dikumpulkan dan disimpan untuk dijadikan materi pendidikan di daerahnya. Tentunya ini bukan usaha mudah karena mereka harus berhadapan dengan mafia penjarah kubur dan  elit di birokrasi pemerintahan yang seringkali lebih banyak mempersulit daripada membantu.

Batu lumpang yang berhasil diselamatkan (Foto: Ewon)
Selain berusaha menyelamatkan, komunitas kecil ini juga berusaha memberikan pendidikan kepada para penggali liar untuk menghargai kekayaan milik kita bersama ini. Mereka mendekati para penggali dan memberi tahu nilai penting peninggalan prasejarah tersebut. Bumi Bojonegoro memang kaya akan tinggalan arkeologis, antropologis dan paleontologis. Para penggali liar ini umumnya mencari benda-benda bekal kubur (manik-manik, logam mulia) untuk dijual kepada para penadah di kota-kota besar. Mereka menjarah kekayaan negerinya sendiri! Seharusnya kekayaan ini tersimpan di daerah yang bersangkutan untuk bahan penelitian para ahli serta pembelajaran bagi masyarakat. Rencana pendirian museum daerah adalah upaya yang mulia, namun jangan sampai museum ini menjadi alat untuk kepentingan politik seseorang. Bukankah jika demikian masyarakat sendiri yang merugi?

Bokor kuningan di rumah penduduk (Foto: Ewon)
 Penjarahan dan penjualan kekayaan alam dan budaya ini memberikan kenikmatan sesaat yang mampu membuat perut kenyang. Tapi perut tidak akan kenyang sekali saja...... Itu sebabnya kekayaan kita terus melayang. Jika jangka pendek yang menjadi ukuran, maka masa depan yang dipertaruhkan. Kekayaan melayang, sementara perut tak pernah kenyang!

Adakah yang tergerak untuk ikut "gila" demi menyelamatkan kekayaan negeri kita?Di tengah-tengah sekumpulan orang gila maka yang waraslah yang disebut gila. Mau pilih yang mana?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar