Sabtu, 19 Maret 2011

Museum Negeri Kejar Profit

Judul di atas saya dapatkan ketika sedang berselancar di dunia maya. Judul tersebut menjadi kepala berita untuk  sebuah berita di harian Metro Jambi edisi digital. Judul itu membuat saya tersentak, antara kaget dan heran (tapi tampaknya kedua kata ini kurang dapat melukiskan perasaan saya yang sebenarnya). Di satu sisi saya faham bahwa mengelola museum membutuhkan dana yang tidak sedikit. Di sisi lain, museum adalah lembaga nonprofit (lihat definisi dari International Council of Museums). Pengertian nonprofit itu sendiri pun menurut saya masih perlu dijabarkan, karena bagaimana pun museum membutuhkan dana untuk kegiatan operasionalnya. Yang tidak boleh adalah seperti judul di atas, mengejar profit! Jika ini yang dilakukan maka dikhawatirkan aspek edukatif museum akan tersisih dan tergantikan oleh aspek komersial yang kental.

Tetap harus ada batasan jelas tentang apa yang dimaksud dengan profit dan nonprofit. Sponsorisasi tampaknya akan jauh lebih baik. Museum mengajak perusahaan komersial untuk menjadi mitra bisnis dalam menyelenggarakan kegiatan-kegiatan edukatif di museum. Di sini pihak museum haruslah menjadi pemegang kendali. Jangan sampai museum dijadikan alat semata untuk mencari keuntungan finansial oleh pihak perusahaan. Sudah saatnya pemerintah memikirkan kemungkinan adanya dana pendamping untuk kegiatan operasional museum. Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara bisa dipastikan tidak akan memadai untuk mengurus semua museum di negeri ini, dan ini kondisi umum yang terjadi di negara-negara berkembang (lihat Museum di Dunia Ketiga).

Pertanyaan berikutnya adalah "bolehkah museum berbisnis?" Toko cenderamata merupakan salah satu cara untuk mendapatkan sumber dana tambahan, namun untuk museum-museum milik negara hal ini sepertinya tidak dimungkinkan. Ada aturan yang melarang memanfaatkan fasilitas negara untuk keperluan komersial.  Bagaimanapun, museum adalah salah satu tujuan wisata, sisi komersialnya pastilah ada. Yang penting adalah bagaimana mengaturnya secara proporsional agar tidak terkesan museum mengeruk keuntungan finansial (profit) secara berlebihan. Sebuah pengalaman seorang insan museum di Amerika Serikat memperkuat hal ini.

Bagaimana menurut Anda?

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar