Minggu, 21 November 2010

Pameran di Mal

Pameran di mal bagi museum setahu saya sudah cukup lama menjadi wacana. Pengelola museum ingin agar museum didatangi oleh sekian banyak orang seperti halnya mal. Harus diakui memang, bahwa orang lebih mudah datang ke mal dibandingkan ke museum, dan mereka lebih senang berlama-lama di mal daripada di museum. Daya tarik mal yang memang dirancang untuk memanjakan mata pengunjungnya (dan dengan demikian mudah mengeluarkan isi dompetnya) sangat membius warga kota, terutama kalangan muda. Banyak anak muda datang ke mal hanya untuk nongkrong dan ngobrol ke sana ke mari. Mungkin sedikit sekali yang berbelanja. Mal menjadi ajang pertemuan sosial untuk berbagai lapisan masyarakat dari segala lapisan usia dan jenis pekerjaan.

Hingga saat ini pameran di mal tetap menjadi wacana. Belum ada museum yang mewujudkan wacana ini menjadi kenyataan. Entah apa kendalanya. Saya juga tidak tahu usaha apa yang sudah dilakukan  para pengelola museum untuk mewujudkan cita-citanya ini. Namun, secara tak terduga Museum Geologi malah mendapat undangan untuk berpameran di sebuah mal di kota kecil di Jawa Timur! Bagi saya ini luar biasa.....ada kota kecil yang mau mengundang museum berpameran di malnya. Wah, ini benar-benar tantangan yang menggetarkan hati.  Surat-menyurat berlangsung....... membahas materi yang akan dipamerkan serta koleksi yang akan dibawa. Tentu saja termasuk di dalamnya bagaimana pengangkutan yang aman hingga di tempat tujuan dan kembali lagi ke Bandung dengan selamat. Ketika semuanya berhasil dilaksanakan, semua pihak lega dan hasilnya sudah ditampilkan di tulisan sebelumnya.

Saya bukan hendak membahas bagaimana pameran itu berlangsung, melainkan hendak menyoroti proses yang terjadi di balik pameran tersebut. Ada beberapa hal yang perlu dicermati (ternyata) bila museum ingin berpameran di mal.

1.    Pemilihan tema pameran: tema harus ditentukan dengan cermat agar apa yang ditampilkan dapat menarik sebanyak mungkin perhatian publik dan menambah wawasan intelektual mereka. Pameran secara keseluruhan sebaiknya merupakan alur cerita. Di titik ini bukan tidak mungkin terjadi benturan kepentingan antara pihak museum dengan pengelola mal. Mal adalah wahana hiburan sedangkan museum lebih kental sisi edukasi dan ilmiahnya. Kedua belah pihak harus mampu menggabungkan ketiga aspek ini dalam kemasan yang menarik. Tata pameran benda museum di mal harus tetap mempertahankan aspek ilmiah yang benar dan baik. Keindahan menjadi aspek berikutnya. Bukan sebaliknya.

2.    Terkait dengan butir 1, pameran harus merupakan exhibition, bukan sekedar display. Dalam museologi display bermakna memamerkan koleksi tanpa diberi interpretasi, sedangkan exhibition adalah memamerkan koleksi dengan diberi interpretasi (keterangan dalam label ataupun caption).

3.    Koleksi yang dibawa: sebaiknya tidak membawa benda koleksi yang asli. Mal adalah tempat berkumpulnya banyak orang dan kita tidak tahu sejauh mana rasa ingin tahu mereka. Pengunjung mal yang terlalu bersemangat dan rasa ingin tahunya besar cenderung berdesakan ingin melihat pameran dan hal ini dapat menjadi penyebab rusaknya koleksi yang dipamerkan, baik sengaja maupun tidak sengaja.

4.    Pengangkutan: prosedur pengangkutan harus diperhatikan benar demi melindungi koleksi dari kerusakan selama perjalanan (terutama untuk jarak jauh). Meskipun yang dibawa adalah repllika koleksi, dalam kadar tertentu benda ini harus diperlakukan sama dengan aslinya. Pilih perusahaan ekspedisi yang mau terbuka untuk berdiskusi dengan pihak museum. Tidak semua perusahan ekspedisi berpengalaman dalam mengangkut koleksi museum. Pihak museum harus terlibat dalam proses pengepakan koleksi karena merekalah yang tahu benar di bagian mana benda tertentu rawan kerusakan. Bila dianggap perlu, tidak ada salahnya jika koleksi yang dibawa tersebut diasuransikan. Tentukan dengan jelas siapa yang akan menanggung seluruh biaya pengangkutan, termasuk biaya asuransinya.

5.    Terbuka atau tertutup?: tentukan apakah koleksi akan dipamerkan secara terbuka ataukah tertutup (misalnya dalam kotak kaca, atau dalam bingkai, dan sebagainya). Jika akan dipamerkan secara terbuka maka pihak museum harus mengantisipasi bahwa koleksi tersebut pasti akan disentuh oleh pengunjung, dan dengan sendirinya kemungkinan rusak cukup besar. Pengaman berupa rantai pembatas tidak banyak membantu jika pengunjung membludak.

6.    Penulisan label: tingkat keterbacaan tulisan dalam label harus cukup tinggi. Tulisan harus dapat dibaca dari jarak minimal 50  cm. Tulisan yang terlalu kecil akan mengakibatkan pengunjung mendekat untuk membacanya dan ini dengan sendirinya mendekati koleksi sehingga dikhawatirkan akan merusak koleksi jika mereka berdesakan untuk membaca label. Pemilihan jenis huruf (tipografi) perlu dipertimbangkan pula. Pilih jenis huruf yang sederhana dan mudah dibaca.

Demkian, semoga bermanfaat! (Julimar 21/11/2010).

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar