Jumat, 26 November 2010

Perlunya Museum Monumental Gempa

Masyarakat perlu disadarkan tentang pentingnya kehidupan siap bencana.
Oleh Dwikorita Karnawati
Pengajar dan Peneliti pada Universitas Gadjah Mada Yogyakarta

Meskipun wilayah Indonesia sering mengalami bencana gempa bumi yang menimbulkan ribuan korban jiwa, ratusan ribu rumah/bangunan roboh, kerusakan lingkungan dan trauma psikologis, hingga saat ini belum satu pun museum monumental gempa bumi dibangun.

Belum adanya museum monumental ini cukup memprihatinkan, bahkan mengkhawatirkan bagi kepentingan pembelajaran masyarakat untuk siap bencana. Dalam kurun waktu puluhan tahun, masyarakat kita cenderung mudah melupakan kejadian gempa dan dampaknya. Bahkan anak cucu kita mungkin sama sekali tidak bisa lagi membayangkan kejadian gempa bumi tersebut dan dampaknya.

Sebagai contoh, saat ini kita sudah tidak dapat lagi melihat bekas-bekas dampak gempa di Yogyakarta yang baru saja terjadi pada tahun 2006 lalu, karena seluruh bangunan yang roboh telah selesai direkonstruksi. Demikian juga dampak gempa di Nias dan di Aceh. Jadi kehadiran museum monumental gempa ini sangat penting untuk selalu mengingatkan masyarakat dan anak cucu kita betapa dahsyatnya dampak gempa. Juga untuk menyadarkan masyarakat kita bahwa kehidupan siap bencana perlu selalu kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari, bahkan perlu kita kembangkan sebagai budaya siap bencana hingga ke beberapa generasi penerus kita.

Manfaat lain dari museum monumental ini adalah untuk kepentingan riset yang mendukung upaya mitigasi bencana gempa bumi. Tentunya museum monumental ini tidak hanya berupa bangunan fisik saja, namun dapat dilengkapi dengan contoh-contoh cerita, dongeng, lagu, puisi, dan kearifan lokal yang dapat dikembangkan untuk membangun budaya siap bencana.

Pelajaran dari negara lain
Dalam hal ini, kita bisa belajar dari pengalaman negara lain. Sebagai contoh di Cina bagian selatan, tepatnya di Kota Yingxiu, yang masuk di wilayah Provinsi Sichuan, telah didirikan museum monumental gempa bumi.

Museum ini merupakan kompleks gedung sekolah yang roboh akibat gempa bumi Wenchuan pada 12 Mei 2008. Gedung sekolah ini dipilih sebagai museum karena kondisi kerusakan bangunannya dinilai paling kompleks, yaitu dapat mengekspresikan berbagai jenis gelombang rambatan gempa, baik yang mengayun secara vertikal ataupun lateral.

Di museum ini diceritakan pula aksi heroik seorang guru, yang berhasil menyelamatkan seluruh siswa di kelasnya saat gempa terjadi. Guru ini mengutamakan seluruh murid di kelasnya dievakuasi lebih dahulu sebelum bangunan roboh, namun akhirnya justru sang guru yang tidak mendapat kesempatan lolos dari robohnya gedung. Pemerintah Cina kemudian memutuskan, gedung sekolah ini tidak boleh diratakan dengan tanah untuk dibangun kembali dalam tahap rekonstruksi. Sebaliknya, ia tetap dipertahankan dalam kondisi roboh sebagai monumen peringatan.

Selain di Kota Yingxiu, dibangun pula beberapa monumen gempa di wilayah sekitar kota tersebut, dengan cara mempertahankan beberapa dampak gempa seperti bongkahan batu besar yang menggelinding dari lereng bukit ke jalan raya, jembatan yang roboh, bangunan yang terangkat oleh patahan naik namun tetap berdiri kokoh karena bangunan tersebut telah dirancang tahan gempa, serta kondisi tanah yang terpotong oleh patahan dan lereng bukit yang baru muncul karena permukaan tanah terdorong ke atas oleh patahan naik.

Satu monumen yang dirasakan paling mencekam ada di wilayah Beichuan. Akibat gempa Wenchuan, 12 Mei 2008, kota ini hancur total dan 13 ribu warganya tertimbun runtuhan bangunan. Dari museum kota mati ini dapat kita sadari bahwa Beichuan berada tepat di dalam zona patahan aktif, namun tanpa menerapkan konstruksi bangunan yang tepat. Ahli geologi Cina sebenarnya telah mengusulkan agar letak kota ini dipindahkan. Namun usulan ini tidak disetujui karena di dalam kota ini terdapat banyak peninggalan warisan budaya yang tidak dapat dipindahkan. Akhirnya, penduduk beserta warisan budaya kota ini roboh dan tertimbun gempa.

Monumen sejenis banyak pula ditemui di Taiwan dan Jepang, yang juga merupakan negara yang sering dilanda gempa bumi. Lantas, bagaimana di Indonesia? Tampaknya, hingga saat ini masih sangat minim kepedulian kita untuk membangun museum monumental ini, dengan berbagai pertimbangan pendanaan dan pemeliharaan. Bahkan mungkin pula kebutuhan adanya museum untuk edukasi bencana belum dirasa sebagai kebutuhan prioritas, karena dampak kehadiran museum ini tidak langsung terlihat, namun baru dirasakan manfaatnya dalam jangka panjang. Sementara itu, kejadian gempa bumi masih akan terus terjadi di Indonesia, dan satu pun tidak ada yang membekas bagi generasi anak cucu kita. Dapatkah budaya siap bencana menjadi budaya bagi kita dan anak cucu kita?


Sumber: http://geologi.iagi.or.id/2010/01/04/perlunya-museum-monumental-gempa/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar