Sabtu, 06 November 2010

Hingar-bingar di Pameran Museum

Museum Geologi baru saja mengikuti pameran keliling museum yang secara berkala diselenggarakan oleh Museum Negeri Sri Baduga. Pameran keliling kali ini berlangsung di Kabupaten Karawang mulai tanggal 1 - 4 November 2010, diikuti oleh 10 museum dari Jawa Barat dan DKI Jakarta.

Pengunjung pameran cukup membludak, sebagian  besar pelajar, mulai TK hingga SLTA. Mereka memang diwajibkan oleh sekolah masing-masing untuk datang ke pameran tersebut. Saya sendiri mendapat kesan bahwa siswa sebenarnya datang lebih karena adanya tugas sekolah tersebut. Mereka banyak memotret koleksi tanpa tahu apa yang dipotretnya. Ketika saya bertanya untuk apa mereka memotret, jawabannya adalah "karena disuruh guru". Mereka juga tampak takut bertanya kepada pemandu yang ada di gerai masing-masing museum. Hanya sebagian kecil yang terlihat berminat pada koleksi dan mencari informasi lewat pemandu.

Yang menjadi sorotan saya adalah penyelenggara dan penyelenggaraan pameran ini. Selama pameran berlangsung panitia menyajikan hiburan dengan organ tunggal. Banyak pelajar yang tertarik untuk menyanyi dan berjoget di pentas selama pameran berlangsung. Suara organ tunggal berikut suara sumbang para penyanyi dadakan dilantangkan dengan keras lewat perangkat sound system entah berkekuatan berapa volt. Peserta pameran mengeluhkan hal ini karena mereka tidak dapat memberikan keterangan kepada para pengunjung akibat gaduh dan kerasnya suara musik. Suara manusia tidak berdaya menghadapi hingar-bingar suara alat musik. Untuk mengimbangi suara musik, para pemandu harus berusaha bicara keras hingga nyaris serak.

Menyelenggarakan permainan organ tunggal dan karaokean mungkin tadinya untuk menarik pengunjung, tetapi akhirnya arahnya jadi tidak tepat lagi jika ini dikaitkan dengan pameran museum. Museum erat kaitannya dengan dunia pendidikan, dan menikmati koleksi ataupun informasi di museum haruslah dalam suasana tenang, bukan dengan suara gaduh dan hingar-bingar seperti di pameran keliling ini. Kegaduhan musik pada waktu itu juga memecah konsentrasi anak-anak yang sedang mendengarkan penjelasan dari pemandu museum. Mereka berhamburan meninggalkan pemandu yang sedang bicara ketika mereka mendengar pemusik memainkan lagu favorit mereka. Yang paling menyedihkan adalah dua museum yang gerainya berhadapan langsung dengan panggung. Pemandu di kedua museum ini sama sekali tidak dapat memberikan penjelasan kepada pengunjung selama musik bermain.

Apakah Museum Sri Baduga selaku penyelenggara tidak mengantisipasi hal ini sebelumnya? Alangkah baiknya jika penyelenggara membuat panggung khusus di luar area gedung pameran agar tidak mengganggu suasana pameran. Selain itu, permainan organ tunggal sebaiknya dijadwal secara terbatas, misalnya dalam sehari dua kali masing-masing satu jam pada pagi hari dan satu jam di sore hari. Jadi tidak sepanjang hari terjadi hingar-bingar musik. Kami pulang dalam keadaan seakan nyaris tuli.

Panggung di area pameran sebaiknya dimanfaatkan untuk hal-hal yang berkaitan atau menunjang pameran. Misalnya diskusi buku, atau talkshow tentang museum dengan guru ataupun pelajar. Panggung bisa juga dimanfaatkan untuk memberikan berbagai pengumuman terkait dengan pameran, termasuk memberikan kuis seperti yang sudah dilakukan selama ini.

Susunan gerai pameran sebaiknya dirancang sedemikian rupa sehingga tidak menutupi pandangan dari panggung ke pintu masuk.  Di panggung pemain organ tunggal asyik bermain dan penyanyi amatir asyik bernyanyi sambil berjoget. Mereka tidak melihat bagaimana hebohnya siswa yang berdesakan merangsek masuk ke area pameran. Jika tidak ditahan saya yakin banyak siswa yang terinjak-injak oleh kawan sendiri.

Buatlah alur pengunjung agar pengunjung teratur masuk menurut kaidah FIFO (first in first out). Jadikan kualitas pameran sebagai tolok ukur keberhasilkan pameran, BUKAN kuantitasnya. Untuk apa jumlah pengunjung banyak tapi mereka tidak dapat menikmati apa yang tersaji? Banyaknya pengunjung malah akan mengarah pada kecelakaan, jika alur tidak ditata dengan baik.

Banyak hal yang masih harus kita perbaiki. Marilah kita sama-sama melakukan evaluasi dan introspeksi. Tujuan pameran adalah menyebarluaskan informasi kepada masyarakat, dan ini harus menjadi perhatian kita semua selaku insan museum. (Julimar, 5/11/2010).


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar