Minggu, 13 November 2011

Museum Tsunami Aceh: Kaya Nuansa, Miskin Makna

Foto: Julimar

Sudah lama ingin berkunjung ke museum ini. Akhirnya kesempatan itu datang di awal November lalu. Selama ini saya hanya melihat gambar bangunan museum di internet, atau foto kiriman kawan yang pernah berkunjung ke sana.

Pertama kali menatap gedungnya saya sangat terkesan. Megah. Masif. Tampilan luar kaya akan nuansa budaya Aceh, mulai struktur bangunan hingga ornamennya. Museum ini terletak di pusat kota, tidak begitu jauh dari Masjid Raya Baiturrahman. Dari maket yang terdapat di dalam museum, tampak bahwa museum ini mengambil bentuk perahu. Saya tidak akan berpanjang-panjang tentang arsitektur gedung. Yang menjadi perhatian utama saya adalah isi museum ini. Lebih tepat lagi kesan yang ingin dibangun dan pesan yang ingin disampaikan.

Ruang yang pertama dimasuki pengunjung adalah sebuah lorong gelap yang diapit oleh dinding berair yang --menurut pemandu-- menampilkan kesan tsunami. Di sini diharapkan pengunjung dapat merasakan kedahsyatan tsunami. Sayang ketika saya datang, simulasi tsunami ini sedang tidak difungsikan. Saya hanya berjalan di lantai basah bekas cipratan tsunami buatan itu. Kemudian saya dibawa ke ruangan (Memorial Hall) yang menayangkan foto-foto pasca tsunami. Foto-foto ini ditampilkan dalam bentuk slide melalui perangkat komputer yang disimpan dalam sebuah "tugu" masif yang kaku. Tidak ada keterangan apapun, selain tayangan itu. Ruangan-ruangan berikutnya membuat saya semakin kebingungan. Sebagian besar isi museum ini adalah foto-foto kejadian tsunami dan foto-foto Banda Aceh sebelum dan sesudah tsunami. Ada juga maket kejadian tsunami dan bangunan-bangunan yang roboh akibat gempa tanggal 26 Desember 2004 itu. Ada juga beberapa benda yang rusak akibat tsunami serta simulasi gempa. Secara keseluruhan museum ini "kosong".

Isi museum tidak sebanding dengan kemegahan gedungnya. Saya tidak melihat adanya alur cerita yang utuh tentang tsunami. Apa yang ingin ditonjolkan tidak jelas. Museum ini menyandang nama "tsunami" tetapi tidak tergali di dalam isi apa yang ingin disampaikan dari "tsunami" ini. Saya khawatir informasi yang ada dalam isi gedung malah menjadi "tsunami" bagi pengetahuan masyarakat. Apa yang ingin disampaikan? Pengetahuan tentang tsunamikah? Sebuah tanda untuk mengenang korban tsunamikah? Atau sekedar proyek ambisius belaka? Beribu tanya menekan dada.....

Dalam salah satu definisi museum fungsi museum adalah '........ collects, documents, preserves, exhibits and interprets material evidence and associated information for the public benefit'. Mengamati Museum Tsunami Aceh saya menyimpulkan bahwa museum ini hanya mengumpulkan dan memperagakan (collects and exhibits), fungsi pemeliharaan, pendokumentasian, apalagi melakukan interpretasi sama sekali belum terlihat. Apa yang disajikan di sebuah museum seharusnya tidak telanjang apa adanya, melainkan harus sudah melalui proses interpretasi oleh para kuratornya. Freeman Tilden, yang pertama kali membahas interpretasi dalam konteks museum mendefinisikan interpretasi sebagai "an educational activity which aims to reveal meanings and relationships through the use of original objects by first-hand experience, and by illustrative media, rather than simply to communicate factual information."

Mueum Tsunami baru menyajikan factual information. Sepertinya museum ini harus ditata ulang secara menyeluruh dari segi pemaknaan koleksi. Hm...dibutuhkan orang-orang idealis yang berdedikasi untuk mewujudkan kerja besar ini. Anggaran besar tidak akan berbicara banyak jika tidak ada sentuhan nurani dalam mengerjakan sebuah proyek besar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar