Jumat, 27 Januari 2012

Bagaimana menamai fosil?

Tata penamaan fosil mengikuti tata penamaan yang diterapkan dalam dunia biologi. Sistem penamaan ini disebut nomenklatur taksonomi (taxonomic nomenclature), yang terdiri atas dua kata (binomial nomenclature). Kata pertama menunjukkan nama keluarga (genus) dan kata kedua menunjukkan nama jenis (spesies).  Nama ilmiah ini berasal dari bahasa Latin dan ditulis dengan huruf miring, atau diberi garis bawah. Contoh: Pithecanthropus erectus, atau  Pithecanthropus erectus (perhatikan, kata pertama diawali dengan huruf kapital sedangkan kata kedua dengan huruf kecil).

Fosil dinamai berdasarkan ciri-ciri bentuk fisiknya (morfologi). Misalnya,  untuk Pithecanthropus erectus, pithecos = kera; anthropos = manusia; erectus = berdiri tegak. Dinamai demikian karena fosil ini memiliki ciri fisik tersebut, yaitu  dia sudah berdiri tegak seperti manusia, tetapi ciri tengkoraknya masih kekera-keraan.

Nama ilmiah tidak bersifat permanen karena bisa saja berubah berdasarkan kesepakatan para ahli terkait di bidangnya. Perubahan ini terjadi bila ada penemuan baru dan/atau penelitian lanjutan yang akhirnya menyimpulkan bahwa fosil tertentu sebenarnya sudah tidak layak menyandang nama lama berdasarkan ciri fisik yang ditemukan kemudian. Misalnya, Pithecanthropus erectus  diubah namanya menjadi Homo erectus karena temuan fosil berikutnya lebih mendukung untuk memasukkan fosil tersebut ke dalam kelompok Homo (manusia) dibandingkan dengan kera-manusia (Pithecanthropus).

Tujuan pemakaian nama ilmiah adalah pertama, agar para ahli dapat secara spesifik menentukan individu/ organisma/fosil tertentu yang mereka maksud. Kedua, untuk menghindari kebingungan mengenai individu/organisma/fosil mana yang dimaksud (ini konsekuensi logis dari alasan pertama di atas).

Tautan berikut mungkin dapat bermanfaat.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar