Rabu, 25 Januari 2012

Museum versus Mal

Topik tentang mengapa orang lebih tertarik datang ke mal daripada ke museum senantiasa mewarnai perbincangan di kalangan insan museum. Upaya berpameran di museum telah dicoba oleh Museum Sri Baduga dan Museum Geologi namun sejauh ini belum terlihat pengaruh signifikan (tentunya harus diteliti lebih lanjut) terhadap ketertarikan masyarakat (khususnya pelajar) untuk datang ke museum. Fakta yang nampak di depan mata adalah,  anak sekolah lebih senang nongkrong di mal daripada di museum. Mereka bahkan rela bolos sekolah demi mal. Apalagi jika di mal ada acara menarik, misalnya peragaan busana, atau pertunjukan musik secara live. Memang banyak hal yang harus diperhatikan jika museum ingin  berpameran di mal. Keterbukaan mal untuk menjalin kerja sama dengan museum tampaknya menjadi salah satu kunci. Seorang sejawat sesama insan museum bercerita bahwa ketika museumnya ingin berpameran di mal ternyata persyaratan yang diajukan pihak pengelola mal cukup banyak, termasuk tingginya biaya sewa per meter persegi dan banyaknya larangan. Intinya, mal yang menawarkan kehidupan modern seperti ketakutan dibawa ke masa lalu oleh museum! Apapun yang terjadi di balik itu, sejawat saya akhirnya bisa berpameran di mal. Sementara itu, sebuah museum seni rupa di Jakarta malah sengaja dibangun di dalam mal. Tentunya ini hal yang membahagiakan bagi dunia permuseum di Indonesia.

Sebetulnya apa yang membuat mal lebih menarik di mata publik (terutama pelajar)? Nina Simon dalam situsnya menyebutkan beberapa titik kelebihan mal yang tampaknya sulit dilakukan oleh museum:

Mal terbuka pada semua jenis pengalaman: mal terbuka untuk semua orang (tidak ada pembatas) dan orang bisa bebas makan, minum, ngobrol, internetan, dan tentu saja, belanja. Di museum orang tidak bisa seenaknya ngobrol, makan dan minum (ada pembatas antara pengunjung dengan museum). Mal memberikan banyak pilihan untuk berbelanja dan orang bebas melakukan eksplorasi selama mungkin. Di mal orang mengeluarkan uang (belanja) setelah melihat barangnya, sedangkan di museum sebaliknya (pengunjung diminta membayar di pintu masuk, sebelum mereka melihat apa yang mereka "beli").

Mal mendahulukan kepentingan konsumen: mal memberikan apa yang dibutuhkan konsumen, museum memajang apa yang menurut pengelola museum dibutuhkan oleh pengunjung. Nina Simon mengatakan, ".... It's not just a question of whether museums have something good to sell; it has tobe something that visitors want to buy."

Mal berisi benda-benda yang sangat berhubungan dengan kehidupan konsumen: mal menyediakan barang-barang yang dapat membuat Anda tampil gaya dan ngetren. Mal seakan-akan berkata kepada konsumennya bahwa semua ini untuk Anda. Benda-benda di museum berada "jauh" dari kehidupan pengunjungnya. Mereka seperti tidak merasa ada ikatan apapun dengan benda-benda di museum. Nina Simon mengistilahkan museum lebih banyak "mendorong" pengunjung sedangkan mal lebih banyak menarik pengunjung.

Mal selalu berubah sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhan: Orang selalu datang berulang kali ke mal karena mal selalu memperbaharui tata pameran dan koleksinya secara berkala sesuai dengan musim, atau event. Museum cenderung statis sehingga orang bosan dan enggan untuk datang kembali secara berulang-ulang.

Arsitektur mal mendukung kebutuhan pengunjung: di mal ada ruang terbuka untuk duduk-duduk santai. Di mal tertentu bahkan ada kamar rias dan ruang menyusui. Jendala-jendela kaca yang besar di mal memungkinkan orang untuk melihat-lihat barang secara keseluruhan. Di museum orang dibatasi dinding dan lorong sempit dan tidak semua koleksi bebas dilihat.

Catatan: Di Indonesia yang mayoritas muslim, sulit sekali mencari mushola di mal (biasanya ada di basement tempat parkir dalam kondisi yang menyedihkan).

Mal menawarkan barang yang kompetitif: setiap gerai di mal berlomba-lomba memberikan yang terbaik semenarik mungkin. Di museum tidak demikian, sehingga pengunjung kurang mendapatkan informasi mengenai koleksi yang dipamerkan. Meminjam istilah Nina Simon, di museum orang harus "...buy first, then browse," sedangkan di mal sebaliknya.

 *****
Julimar (25/01/2012)


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar