![]() |
| Museum Sonobudoyo, Yogyakarta |
MUSEUM DI DUNIA KETIGA
Oleh: Julianty M (Museum Geologi)
Museum adalah “lembaga tetap yang tidak mencari untung yang melayani kepentingan masyarakat dan pengembangan lembaga itu sendiri serta terbuka untuk umum, yang memperoleh, mengkonservasi, meneliti, mengkomunikasikan dan memperagakan benda-benda bukti peninggalan manusia dan lingkungannya untuk kepentingan studi, pendidikan dan rekreasi” (ICOM Statutes, 2001). Tugas utama museum adalah merawat spesimen untuk mendukung kegiatan penelitian dalam jangka panjang (Miller, 2004). Salah satu aspek unik museum adalah perannya yang menjembatani ilmu pengetahuan dengan pendidikan masyarakat (Miller, 2004). Berkenaan dengan hal tersebut de Varine menyebutkan bahwa museum adalah “...an educational tool in the service of societal development” (Hauenschild, 1988).
Sayangnya, museum tampaknya tidak mendapatkan perhatian sebagaimana seharusnya dari pihak pemerintah/negara. Sebagai sebuah lembaga museum kerap kali dipinggirkan keberadaannya, baik dari segi sumberdaya manusianya maupun dari segi pengadaan anggaran untuk keperluan operasionalnya. Sejauh yang diketahui penulis, belum pernah ada anggaran yang dikhususkan untuk kegiatan yang sifatnya khas permuseuman. Biasanya anggaran untuk museum ditempelkan pada kegiatan lain yang memiliki potensi besar untuk mendapatkan anggaran operasional. Padahal, jika dilihat dari definisi tentang museum yang diberikan oleh ICOM di atas tampak bahwa museum memiliki kegiatan yang membutuhkan dana cukup besar jika ingin memenuhi fungsinya sebagai sebuah museum. Baik museum milik negara maupun milik swasta dan milik perorangan sama-sama membutuhkan dana opersional dalam skalanya masing-masing. Museum yang paling kecilpun, katakanlah yang hanya memiliki dua orang staf, tetap membutuhkan dana untuk menyelenggarakan kegiatan opersionalnya. Minimal untuk pemeliharaan ruang peragaan. Negara tampaknya belum menganggap perlu diberikannya anggaran yang memadai untuk sebuah museum, dengan dalih masih banyak hal lain yang lebih penting dan membutuhkan anggaran besar juga. Kondisi ini umum terjadi di negara-negara berkembang seperti halnya Indonesia. Sebagaimana dikemukakan oleh Sergio Durán Pitarque “.... masalah museum yang paling penting adalah kurangnya dana.”
Pitarque melakukan studi di Amerika Latin dan Kepulauan Karibia. Menurutnya kemiskinan di negara-negara tersebutlah yang menyebabkan museum di negara-negara berkembang menjadi institusi yang statis, karena tidak mampu melakukan kegiatan dan tidak pula mampu meraih pengunjung dari komunitasnya sendiri. Kurangnya dana tersebut berakibat pada ketidakmampuan sebuah museum mempekerjakan staf berkeahlian khusus yang dibutuhkannya. Dalam kondisi seperti ini sebuah museum akhirnya tidak mampu menerapkan teknik museologikal modern dalam melaksanakan tugas dan fungsinya. Selain itu banyak museum yang harus menghentikan kegiatan karena mereka tidak memiliki peralatan untuk menyelenggarakan pameran secara layak, atau tidak dapat menyimpan koleksi dalam kondisi yang sesuai. Belum lagi jika menyangkut hal-hal lain yang sifatnya “behind the scene”, seperti mendapatkan objek baru untuk penambahan koleksi, menerapkan sistem keamanan yang efisien, peningkatan kualitas sumberdaya manusia, dan lain sebagainya.
Untuk lebih lengkapnya, berikut hasil penelitian Pitarque yang telah diterjemahkan dan ditulis ulang:


