Kamis, 30 September 2010

Bolehkah Memotret di Museum? - Bag 2


Melanjutkan tulisan tentang boleh tidaknya memotret di museum, saya mencari info ke beberapa museum di Bandung terkait kebijakan potret-memotret ini. Berikut ini adalah hasilnya:

Museum Sri Baduga: boleh dan bebas memotret

Museum Konperensi Asia Afrika: 
boleh memotret tapi terbatas di area yang telah ditentukan (Ruang Konperensi, Ruang Diorama, dan Ruang Bola Dunia)

Museum Pos: boleh dan bebas memotret

Museum Mandala Wangsit: tidak bisa dihubungi

Museum Geologi: boleh dan bebas memotret

Museum PUSPA IPTEK: 
boleh memotret di area museum (dalam dan luar) sepanjang untuk keperluan pribadi dan tugas sekolah. Untuk keperluan komersil harus mendapat izin khusus

Museum Barli: boleh memotret di sekitar galeri, boleh memotret lukisan KECUALI karya Barli

Selasar Sunaryo:
boleh memotret di luar galeri tapi dengan izin. Di dalam galeri tidak boleh ada potret-memotret.

Yang membolehkan dan membebaskan potret-memotret beralasan untuk kesenangan pengunjung supaya mereka mempunyai kenang-kenangan bahwa mereka pernah berkunjung ke museum-museum dimaksud. Museum dan galeri lukisan melarang dan membatasi potret-memotret dengan alasan hak cipta dan untuk keamanan koleksi dari kerusakan akibat lampu kilat dari kamera.

Museum Pendidikan Pertama Berdiri di Yogya


Ternyata negeri kita memiliki museum pendidikan. Tulisan ini merupakan berita di harian Sinar Harapan tertanggal 9 Juli 2008. Semoga  bermanfaat bagi yang membutuhkan informasi semacam ini.
Yogyakarta-Museum Pendidikan pertama di Indonesia yang dimiliki Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) diresmikan Selasa (8/7). Peresmian ini bersamaan dengan didirikannya Pusat Pengolahan Sampah dan peluncuran Industri Bola.

"Museum ini memang dikemas untuk pendidikan, yakni mengenalkan kepada masyarakat proses yang terjadi hingga dewasa ini. Ada suryo sengkala ngesti luhur utoro katon yang bermakna bahwa pendidikan itu melahirkan keluhuran budi," kata Rektor UNY Sugeng Mardiyono.

Sugeng mengatakan keberadaan Museum Pendidikan ini juga dapat sebagai wahana rekreasi yang mendidik sekaligus sebagai wisata edukasi. Dalam museum yang dibangun dengan dana Rp 2,25 miliar tersebut menyimpan berbagai benda asli maupun reproduksi yang menggambarkan sejarah pendidikan dari zaman kolonial hingga reformasi.

"Ada koleksi yang menggambarkan kronologi perkembangan proses pendidikan, termasuk model pendidikan alternatif yang pernah ada hingga kini," kata Sugeng.


Di antara koleksi museum yang menggambarkan proses perkembangan pendidikan di Indonesia
ini adalah meja dan kursi belajar model lama, alat tulis sabak, juga ada sepeda kuno yang dipakai guru-guru zaman dulu. Selain itu juga terdapat foto-foto tokoh pendidikan sejak Ki Hadjar Dewantara hingga Menteri Pendidikan Nasional Bambang Sudibyo.


Sementara itu, Sri Sultan Hamengku Buwono X, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta yang pada kesempatan itu juga hadir, menyatakan keberadaan bangunan museum layak jadi wahana pendidikan di luar rutinitas belajar-mengajar. Para pengunjung dapat mengenali pendidikan di masa awal sebelum kemerdekaan hingga alat-alat bantu pendidikan di masa sekarang.


Hanya saja yang perlu dicermati dan dipikirkan, lanjut Sultan, rendahnya minat masyarakat untuk mengunjungi sebuah museum. Benda-benda yang ada di museum padahal bisa menjadi sumber inspirasi bagi ilmuwan terutama generasi muda. Dengan begitu, diperlukan sebuah strategi untuk menarik minat pelajar untuk mengunjungi tanpa ada paksaan.
(yuyuk sugarman)
   
     
Copyright © Sinar Harapan 2008

Rabu, 29 September 2010

Oleh-oleh dari Jepang


Tulisan menarik ini ditulis oleh seorang dosen yang sedang belajar di Jepang. Saya ingin membaginya dengan Anda semua. Semoga bermanfaat.

Museum dan Orang Jepang
Selama tinggal di Jepang hingga detik ini saya sudah mendatangi banyak museum, mulai dari Museum Toyota, museum vinegar, museum kertas jepang (washi), museum kain jumputan, museum sutera, museum sains, museum keramik, dan satu lagi yang ingin saya datangi museum robot di Nagoya.
 
Banyak sekali museum di Jepang, tersebar di seluruh provinsi, bahkan ada yang secara mandiri membuat dan mengabadikan sejarah nenek moyangnya dalam bentuk museum yang sederhana.  Ada situs yang mendata tentang museum-museum di Jepang, informasinya cukup lengkap.  Silahkan klik di  sini.  Museum di Jepang sangat beragam, sampai ada museum matematika di Ibaraki prefecture.  Kampus kami pun punya museum yang menyimpan benda dan dokumen bersejarah tentang Nagoya University.

Museum termasuk dalam fasilitas yang wajib ada sebagai pusat belajar masyarakat.  MEXT (Kementerian Pendidikan Jepang) mengkategorikan museum sebagai fasilitas belajar pendidikan sosial. Survey MEXT di tahun 2002 menunjukkan ada 1120 museum dan 4243 fasilitas setipe museum.  Dari keseluruhannya museum yang paling banyak adalah museum sejarah dan museum seni.  Museum sains juga termasuk terbanyak ketiga.

Saya tidak punya data tentang berapa banyak orang Jepang yang datang ke museum setiap tahunnya, tetapi berdasarkan pengamatan sehari-hari, orang Jepang termasuk getol mengunjungi museum.  Bahkan anak-anak sekolah menghabiskan akhir pekannya dengan mendatangi museum-museum.

Membangun sebuah museum memang memerlukan biaya, apalagi jika museumnya berupa gedung yang megah.  Tapi museum yang ada di Jepang terkadang hanya bangunan sederhana yang diusahakan secara privat oleh warga yang mempunyai kaitan dengan sejarah desa misalnya, atau nenek moyangnya secara turun temurun membuat kimono, maka jadilah museum kimono.  Museum tidak hanya dikelola oleh pemerintah tapi juga dikembangkan oleh warga.  Yang menarik banyak perusahaan ternama yang juga membuat museum.  Misalnya museum Toyota yang memaparkan mobil pertama hingga mobil mutakhir produksi Toyota.  Museum uang milik bank Mitsubishi UFJ juga menjadi tempat belajar yang sangat bermanfaat, atau musim listrik milik chubu denki, semacam PLN di wilyah chubu.  Produsen cuka terbesar di Jepang, Mitsukan punya museum di daerah Aichi.  Dua kali saya mengunjungi tempat ini.

Ada suatu penelitian yang mengatakan karakter masyarakat kelas atas atau masyarakat terdidik adalah rajin ke museum, menggemari musik klasik dan rajin datang ke konser. Mungkin ada benarnya sebab hanya orang beruang yang bisa mengakses itu semua. Tapi di Jepang, karena ongkosnya terjangkau, maka masyarakat kelas bawah seperti saya pun kadang-kadang dapat tiket konser gratis atau murah (^_^).

Yang pasti, saya yang hampir tidak pernah mengunjungi museum di Indonesia (karena memang ga ada di daerah saya (>_<)), sangat menikmati berjalan-jalan mengunjungi museum di Jepang.  Saya gemar pergi sendiri, karena bebas mau nongkrong berjam-jam memandangi hasil karya atau kebiasaan saya memotret yang berjam-jam sepertinya tidak akan membuat teman jalan bertahan.  Seperti ketika mengunjungi museum sutra di Nagano bersama teman-teman peserta training guru.  Belum sampai satu jam teman-teman sudah naik ke bis, sedangkan saya masih berkeliling memotret semua mesin dan produk sutra, pun duduk menonton penjelasan tentang silk road, atau bermain-main dengan pupa yang sedang menari.  Saya banyak belajar dari jalan-jalan yang saya lewati berikut tempat-tempat yang saya singgahi dan orang-orang yang dengan semangat berbagi cerita tentang sejarahnya. 

Sumber: www.murniramli.wordpress.com

Selasa, 28 September 2010

Museum Apartheid di Afrika Selatan


Museum menampilkan memori kolektif umat manusia, baik pencapaian ilmu pengetahuan dan kebudayaan yang membanggakan maupun sisi lain kebudayaan yang membuat getir siapapun. Museum Apartheid menampilkan sisi getir sejarah umat manusia. Tulisan di bawah dipinjam dari  kantor berita Antara. Selamat merenung!


Museum Apartheid, Jejak Kegelapan Masa Lalu Afsel
Jumat, 9 Juli 2010
Atman Ahdiat
Foto: www.tripadvisor.com
Foto: etours.co.za

Johannesburg (ANTARA News) - "Kulit berwarna dianggap lebih baik dari penduduk asli (kulit hitam) yang hampir berada di tingkat paling dasar kehidupan manusia. Mereka menjadi objek eksploitasi dan hidup dalam kemiskinan dan penuh penderitaan."

Demikian salah satu dari sekian banyak tulisan yang menghiasi dinding di dalam ruangan Museum Apartheid di Johannesburg.

Di sudut lainnya, juga terdapat cerita bagaimana Willie Vickerman, seorang anak yang harus menerima kenyataan dikategorikan sebagai masyakarat kelas berwarna (coloured) hanya karena ia berayah seorang kulit putih dan ibu kulit hitam.

Ketika bekerja di perusahaan kereta api, ia pun menerima posisi dan jabatan sebagai seorang kulit berwarna, memiliki tanah khusus untuk kulit berwarna, dan pajak pun dikategorikan berdasarkan warna kulit.

Masih banyak cerita-cerita yang menggambarkan ketidak adilan sistem pemerintahan apartheid yang membagi umat manusia ke dalam tiga kelompok, yaitu kulit putih (white), berwarna (coloured) dan hitam (black).

COPYRIGHT © 2010
Ikuti berita terkini di handphone anda http://m.antaranews.com

Senin, 27 September 2010

Bolehkah Memotret di Museum?


Beberapa waktu yang lalu saya terlibat diskusi dengan beberapa orang kawan tentang boleh tidaknya memotret di museum. Seorang kawan senior yang sudah malang-melintang ke museum-museum dunia memaparkan keprihatinannya tentang foto-foto koleksi beberapa museum di Indonesia yang menjadi materi komersial di luar negeri tanpa melalui prosedur resmi. Menurutnya ini merupakan pelanggaran hak intelektual terhadap kekayaan budaya negeri ini. Kita sering kecolongan seperti itu, katanya. Saya sependapat. Betapa banyaknya pembenahan yang harus dilakukan di negeri kaya yang dimiskinkan ini!

Menurut kawan senior tersebut pemotretan di museum seharusnya diatur untuk menghindari hal-hal tersebut di atas. Pengunjung tidak boleh memotret sesuka hati, atau bila ingin memotret ada biaya tertentu di luar tiket masuk museum. Masalahnya, museum-museum di Indonesia umumnya gratis atau nyaris gratis (tiket masuknya sangat sangat murah). Jadi rasanya aneh, masuk gratis tapi memotret harus membayar. Rupanya kedua hal ini harus berjalan seiring. Museum tempat saya bekerja pun tidak memberlakukan biaya masuk, dan pengunjung boleh memotret sesuka hati mereka (tidak ada batasan mana yang boleh dan mana yang tidak boleh dipotret). 
Sumber gambar: www.cahgk.files.wordpress.com

Sebetulnya bagaimana aturan mainnya? Apakah memotret di museum itu memang dilarang? Atau, boleh memotret tapi dengan syarat tertentu? Siapa yang berhak mengeluarkan izin memotret? Jika memotret dilarang, apakah kamera yang dibawa pengunjung harus dititipkan? Di mana tempat penitipannya, bagaimana keamanannya? Jika memotret diperbolehkan tapi dengan syarat tertentu, bagaimana pengawasannya? Apakah pihak museum sanggup memastikan bahwa pengunjung tidak melanggar persyaratan yang diberikan?  Di negara kita hal-hal seperti ini tampaknya belum mendapat perhatian serius. Mau tidak mau saya harus mencari rujukan ke museum di negara maju untuk mencari aturan main ini. Salah satunya adalah di sini.

Ternyata di negara maju pun hal ini masih menjadi bahan perdebatan. Sebuah diskusi khusus diselenggarakan untuk membahas masalah ini. Ada yang pro, dan tentu saja ada yang kontra. Masing-masing memiliki logikanya sendiri.

Sepertinya museum-museum di Indonesia perlu juga menyelenggarakan diskusi semacam ini. Kita jaring pendapat masyarakat, dan kita olah sehingga menghasilkan peraturan yang sifatnya win-win solution. Bagaimana museum-museum Indonesia? (Julimar, 27/09/2010).

Minggu, 26 September 2010

Museum Mandala Wangsit Siliwangi vs Museum AK-47 Kalashnikov


Masa liburan lalu saya mengajak anak mengunjungi Museum Mandala Wangsit Siliwangi. Sebetulnya banyak informasi berharga dan menarik di museum ini, namun suasananya suram dan seram. Anak saya ketakutan berlama-lama di museum ini. Sayang sekali saya tidak membawa kamera. Foto-foto di Museum Mandala Wangsit SIliwangi ini dipinjam dari www.visitbandung.multiply.com di bagian tentang museum ini. Dulu ketika masih sekolah saya pernah dibawa ke museum ini oleh orangtua. Seingat saya kala itu museum ini tidak sesuram sekarang. Tapi, yah....sudahlah. Yang ingiin saya sampaikan sekarang adalah perbandingan koleksi yang ada di museum ini dengan Museum AK-47 Kalashnikov di Rusia. Dua-duanya menyimpan koleksi senjata, namun dari jenis dan masa yang berbeda. Apa yang ada di pikiran Anda ketika melihatnya? Silakan menikmati.



Sumber foto: www.visitbandung.multiply.com
Yang di bawah ini adalah koleksi senjata Museum AK-47 Kalashnikov





Sumber: www.englishrussia.com

Mana yang lebih suram? Menurut saya Museum Mandala Wangsit Siliwangi lebih suram (jelas banget!) tapi Museum AK-47  Kalashnikov lebih "seram" mengingat berapa banyak nyawa sudah hilang lewat senjata-senjata favorit para teroris ini!

Sabtu, 25 September 2010

Seni bertanya kepada pengunjung

Sebagai insan museum, saya sebenarnya selalu tertarik dengan apa yang dipikirkan orang tentang museum, khususnya museum tempat saya bekerja. Saya tertarik untuk mengetahui tanggapan pengunjung terhadap pelayanan museum di semua segi, baik saran maupun kritik. Apapun bentuknya, semua harus diberi tanggapan-balik yang seimbang. Kita tidak boleh terpancing oleh kritik pedas dan tidak boleh terbuai oleh pujian yang melambung setinggi awan.

Untuk mengetahui apa dan bagaimana tanggapan pengunjung terhadap sebuah museum, hal pertama yang dilakukan oleh pengelola museum tentunya adalah mengajukan pertanyaan. Pertanyaan yang bukan sembarang pertanyaan. Saya sendiri merasakan sangat tidak mudah merumuskan pertanyaan untuk diajukan kepada pengunjung. Hal pertama yang terpikirkan adalah bagaimana kesan anda tentang museum kami? Sepertinya ini pertanyaan yang mudah dan orang akan dengan mudah pula memberikan jawaban. Namun kenyataannya tidaklah demikian. Jawaban yang keluar biasanya adalah cukup bagus/baik, pokoknya asyik deh, ya gitu deh....siip lah! Jawaban seperti itu bukannya membuat saya senang, malah sebaliknya. Saya tidak yakin mereka memberikan jawaban jujur. Kesan saya, mereka ingin segera terbebas dari saya, mereka ogah-ogahan menjawab pertanyaan saya. Dua pertanyaan muncul di benak saya: apakah saya yang salah merumuskan pertanyaan, atau mereka yang tidak mampu mengungkapkan pikirannya? Keduanya mungkin benar. Merumuskan pertanyaan yang bermutu merupakan hal penting jika sebuah museum menginginkan keterlibatan pengunjung dalam menilai pelayanan museum.

Tidak mudah memang. Dari pengalaman tersebut akhirnya saya berkesimpulan sayalah yang tidak mampu merumuskan pertanyaan. Tidak mudah merumuskan pertanyaan dan lebih sulit lagi mendapatkan jawaban yang sesuai dengan maksud pertanyaan saya. Kesulitan dalam merumuskan pertanyaan adalah menentukan apakah pertanyaan yang saya ajukan akan dipahami atau tidak oleh pengunjung. Nampaknya selama ini pertanyaan yang saya ajukan kurang mampu menarik perhatian pengunjung sehingga dengan sendirinya tidak mampu pula membuat pengunjung merasa harus menjawab (dengan antusias). Pada waktu bertanya saya sebenarnya menginginkan jawaban yang jujur, bukan jawaban yang benar. Yang harus dipelajari adalah bagaimana bertanya dengan baik dan benar.

Lalu bagaimana sebenarnya seni bertanya kepada pengunjung itu?  Pertanyaan yang bagaimana yang dapat menggali pendapat pengunjung?

Menurut Nina Simon dalam Design Techniques for Developing Questiions for Visitor Participation, pertanyaan yang benar adalah pertanyaan yang:
  • Memancing tanggapan langsung. Contohnya: apa yang sedang Anda amati?
  • Membuat pengunjung berusaha keras menjawab. Contohnya: di antara fosil yang ada di ruangan ini, mana yang menurut Anda adalah fosil hewan karnivora?
  • Memotivasi ekspresi otentik. Contohnya: apa yang membuat Anda datang ke museum ini?
  • Berasal dari pengalaman pribadi, bukan sebuah kesimpulan. Contohnya: dari sekian objek/koleksi, mana yang akan Anda rekomendasikan kepada teman?
  • Terbuka untuk semua orang
  • Bersifat spekulatif (bukan apa ini? melainkan bagaimana jika?)
  • Menghasilkan jawaban yang menarik untuk ditanggapi kembali.

Pertanyaan yang salah/buruk menurut Nina Simon adalah yang:
  • Menggurui (apa yang sedang dilakukan oleh orang dalam lukisan ini?)
  • Terlalu abstrak (apa arti geologi untuk Anda?)
  • Terlalu impersonal/ketus/kurang hangat (menurut Anda fosil itu apa?)
  • Terlalu superlatif sehingga orang bingung (mana yang menurut Anda paling bagus/baik?)
  • Terlalu umum (apa kesan Anda tentang museum ini?)

Pertanyaan yang “benar” bisa dalam bentuk kalimat pendek, atau panjang. Bisa sederhana, bisa juga agak rumit. Mulai yang hanya membutuhkan jawaban YA/TIDAK hingga yang membutuhkan jawaban panjang lebar. Kuncinya adalah pertanyaan tersebut harus benar-benar menarik dan memicu proses belajar kepada penjawab maupun orang di sekitarnya yang mendengarkan tanya jawab tersebut. Intinya, kita harus menaruh perhatian pada setiap jawaban yang mereka berikan, apapun jawabannya.

Nina Simon memberikan tip tentang bagaimana caranya membuat pertanyaan yang benar di atas, yaitu:

  • Buat “pertanyaan menarik” yang menghubungkan isi pertanyaan kita. Pastikan bahwa pertanyaan itu adalah pertanyaan yang bisa dijawab oleh semua orang dan kita sangat ingin mendengar jawabannya. Ajukan pertanyaan tersebut kepada beberapa orang. Tanya diri sendiri. Dengarkan atau baca jawaban mereka. Jika kita sendiri merasa jengah mengajukan pertanyaan tersebut kepada orang kesepuluh, maka itu berarti kita mengajukan pertanyaan yang salah. Kita harus membuat pertanyaan baru.
  • Ajukan pertanyaan tersebut kepada sekelompok orang dan mintalah mereka untuk segera mengacungkan tangan jika tahu jawabannya. Tanya apakah mereka mau membaca jawaban orang lain.
  • Kumpulkan semua jawaban yang ada dan periksa baik-baik. Jawaban-jawaban ini adalah “peragaan” kita. Tentukan mana yang menarik, dan tentukan sebarapa banyak yang membuat kita termotivasi untuk mengajukan pertanyaan berikutnya.
  • Ajukan pertanyaan tersebut dengan cara berbeda-beda kepada kelompok yang berbeda pula. Usahakan untuk melakukan penekanan yang berbeda-beda dengan pilihan kata yang berbeda-beda. Bandingkan hasilnya. Tanyakan kepada mereka seberapa sulit menjawab pertanyaan yang berbeda-beda dan apakah ada pertanyaan yang harus dilewat.

Penelitian pengunjung biasanya diawali dengan pertanyaan-pertanyaan “sederhana” seperti di atas. Bagaimana dengan Anda, para insan museum? Apakah siap membuat pertanyaan dan melakukan penelitian pengunjung?  Saya sendiri menyimpan mimpi kuat untuk suatu saat nanti ada cukup biaya guna melakukan penelitian pengunjung secara serius. Semoga! (Julimar 24/09/2010).